HADITS RASA MALU DAN IMAN
Artinya:
Diriwayatkan dari abu mas’ud uqban bin Amru AL-A nshari AL-Badri: bahwa ia berkata “rosulullah
“bersabda, sesunggunya sebagian apa dari yang dikenal oleh manusia dari perkataan
kenabian yang pertama adalah jika kamu
tidak malu, berbuatlah sesukamu “(HR AL-Bukhori) 169[1]
Syarah hadits
Imam An-Nawawi
Nabi bersabda
“Jika
kamu tidak mampu maka berbuatlah
sesukamu” !
Artinya:
Jika engkau hendak
melakukan sesuatu dan engkau tidak merasa malu untuk melakukannya ,baik
dihadapan allah maupun di hadapan manusia ,kerjakanlah keinginaanmu itu. jika
tidak demikian maka jangan engkau lakukan.[2]
Seluruh amalan islam berporos pada
hadits ini.bertolak dari sinilah sabda nabi “berbutlah sesukamu !”menjadi
bentuk perintah yang mengandung arti
ibahan ( mubah)
Diantara yang para ulama ada yang
menafsirkan hadits dengan pengertian :jika enggkau tidak merasa malu kepada
allah dan juga tidak merasa diawasi olehnya maka lakukanlah angan –angan
nafsumu dan lakukan saja apa yang engkau inginkan.jika diartikan seperti ini
maka perintah di sini adalah ancaman(tahdid), bukanya kebolehan (ibahan). Sehingga
sabda nabi ini sama pengertiaanya dengan firman Allah “perbuatlah apa saja yang
kamu lakukan “(fushshilat 41:40) juga seperti firman Allah”dan hasunglah siapa
saja yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu(ajaramu)”(AL-Isra 17:64)
Ibnu
Daqiq AL-Id
Arti dari sabda nabi “sesunggunya
sebagian dari perkataan kenabian yang pertama “adalah bahwa rasa malu itu masih
menjadi sifat yang terpuji,dipandang baik dan diperintahkan .ia tidak pernah
dinasakh(dihapuskan) dalam syari’at-syara’at pada nabi terdahulu.
Sedangkan darisabda nabi “jika kamu
tidak malu, berbuatlah sesukamu!”mengandung dua pengertian
Pertama;
biasa berupa lafal perintah yang mengandung arti ancaman. Dengan demikian ini tidaklah sama dengan firman
Allah”perbuatlah apa saja yang kamu hendaki”(fushshilat 41:40) sebab ini
merupakan ancaman.karena Allah telah menjelaskan kepada mereka mengenai apa
yang harus mereka lakukan dan apa yang harus meraka tinggalkan.dan ini senada
dengan sabda nabi”barang siapa yang menjual khamer, hendaklah ia memotong
motong daging babi “semacam ini sudah tentu tidak berarti kebolehan memotong
motong daging babi (untuk di jual)
Kedua;
biasa juga berarti lakukan siapa saja yang tidak dirasa malu oleh orang yang
melakukannya jika terlihat orang lain .senada dengan ini adalah sabda nabi
“rasa malu adalah sebagian dari iman “maksudnya adalah rasa malu yang
menghalangi seorang dari perbuatan keji dan mendorongnya untuk berbuat kebaikan
/kebajikan.hal ini sama sebagiamana iman itu menghalangi seorang dari perbuatan
keji dan mendorong untuk berbuat ketaatan.dengan demikian rasa malu itu
memiliki kedudukan seperti iman karena adanya
persamaan dalam hal tersebut.wallahu a’lam.
Syaikh
al-utsaimin
Nabi bersabda”sesungunya sebagian dari
apa yang dikenal oleh manusia dari perkataan kenabian yang pertama adalah jika
kamu tidak malu berbuatlah sesukamu !”hal ini mengandung arti bahwa diantara sisa sisa atau peninggalan peninggalan kenabian yang
pertama yang terdapa pada umat-umat terdahulu,yang kemudian diakui dan
ditetapkan pula oleh syari’at islam adalah “jika kamu tidak malu,berbuatlah
sesukamu! Artinya jika kamu tidak
melakukan suatu perbuatan yang memalukan maka lakukanlah apa yang engkau
suka.ini adalah salah satu diantara dua makna dari kalimat di atas yaitu
“lakukanlah”dalam bentuk pengertian seperti ini sedangkan arti yang ke dua
adalah jika manusia tidak punya rasa malu maka ia akan melakukan apa saja yang
ia inginkan tanpa memperdulikan apapun .
Kedua makna diatas sama
benarnya
Kesimpulan
Bahwa rasa malu merupakan bagian dari ajaran
yang di bawa oleh syari’at-syari’at terudahulu bahwa manusia itu seyogiyanya
mendapatkan kejelasan mengenal segalah hal adalah yang bisa di petik dari
hadits ini.jika sesuatu itu memang bukan
merupakan hal yang memalukan, silakan saja apa yang mau dilakukan itu
mengandung unsure kerusakan. Jika demikian maka yang demikian itu dilarang
dilakukan karena di khawatirkan akan menimbulkan kerusakan seperti ini.
Terjemahnya:
“diriwayatkan dari Abu Mas’ud ‘ Uqba bin amr
Al Anshori peserta dari golongan orang-orang yang ikut menghadiri perang
badhar, r.a berkata rasulullah saw telah bersabda : “sesungguhnya sebagian dari
pada ungkapan kata kenabian masa dahulu adalah : apa bila anda tidak malu maka
perbuatlah sekehendak hati anda (HD.rw. Bukhori)
Penjelasaannya:
hadis tersebut juga disebutkan dalam kitab al-bhukhoriII/halaman : 263 yang isi
ringkasaanya adalah suruhan untuk bersifat malu. Tiada diperdapatkan sebuah
hadis pun yang menerangkan tentang sabda nabi terdahulu terkecuali hanyalah
hadis yang ke 20 ini yaitu hadis yang menerangkan tentang malu. Karenanya dapat
diambil suatu kesimpulan, bahwa malu adalah merupakan suatu syariat yang telah
disepakati oleh para nabi seluruhnya. Adalah kebijaksanaan apabila setiap
muslim dapat mendudukan sifat malu ini pada tempat kedudukannya yang terhormat,
karena dia memberikan pengaruh yang positif bagi dirinya pada perilaku dalam
pergaulan hidupnya malu merupakan syarat yang turun menurun dalam ajaran para
nabi yang senantiasa yang dipuji kehormatannya, dan sennantiasa disuruh
melaksanakan dalam segala gerak sikapnya.
Pengertian hadis tersebut adalah peringatan dan ancaman terhadap orang yang
tidakl bersifat malu dan tiadaan malu dapat merusak kehormatan seorang, sejauh
mana sifat malu yang ada pada diri rasulullah saw. Dapat dipahami dari
keterangan sebuah hadis sohi yang bersumber dari abu said al-khudri ra
Artinya:
“adalah rasulullah saw. itu orang yang amat
pemalu dari pada perempuan gadis yang berada dalam biliknya. Apabila beliau
terlihat sesuatu yang tidak disukainya,maka kami mengenalnya pada raut
wajahnya.”(Hd. Ra bukhori dan muslim dari abu said al-khudri ra). Kitab bukhori
II/Halaman:273 dan muslim II/halaman 326.
Gadis
pemalu dizaman rasulullah saw. memang tidak pernah keluar dari rumahnya, dan
yang lebih malu lagi gadis yang jarang sekali keluar dari biliknya, kecuali ada
hajat tertentu.
Akan tetapi lebih lagi daripada itu,
sifat malu yang ada pada diri rasulullah saw. maksudnya : tabiaat beliau dalam
kehidupan sehari-harinya adalah sangat pemalu. Teristimewa lagi pemalunya terhadap
Allah swt maksudnya:jangan sampai anggota lahirnya seperti :mata,
mulut,telinga,tangan dan kaki,sedemikian pula jangan sampai anggota batinnya
yaitu:hatinya terjatu dalam pelanggaran terhadapanapa yang dilarangnya apabila
seorang dari hambanya akan menjadi seorang yang hancur marolnya, maka menjadi
sifat malunya ,dan jika sifat malunya sudah terlepas maka dia akan bertindak
dengan kehendak nafsunya dengan tanpa mengindakan peraturan yang telah di tetapkan dalam ketentuan agamanya.
Malu kepada allah swt. Dengan sebenar
benar malu maksudnya: senantiasa menjaga kepada kepala dan anggota indra yang ada padanya dan menjaga perut berserta
isi yang ada,serta yang di maksudkan didalamnya dan senantiasa mengingat maut
serta kehancuran tubuh dan sesudahnya, orang yang tidak mempunyai rasa malu
,maka dia teramat mudah melakukan larangan allah swt.dengan bentuk dosa kecil
maupun dosa besar.malu adalah termaksud salah satu cabang iman, dan jika
malunya sudah hilang tentu saja menjadi sumbing imannya, dan peranan malu
memang besar pengruhnya terhadap iman ,sedangkan banyaknya dari suatu
pelanggaran hokum allah swt juga tergantung dari sifat pemalunya. Di dalam
penjelasan ini nabi saw bersabda:
Artinya:
Iman ada tiujuh puluh cabang lebih atau eman puluh
cabang lebih. Yang paling utama sendiri adalah ucapan: lailahaillah, dan paling
rendah sendiri adalah membuang benda yang menyakiti dari jalan lalu lintas,
sedangkan malu adalah termasuk salah satu cabang dari iman .”(Hd.rw bukhori dan
muslim dari abu huraira ra). Kitab al-bukhori 1/halaman : 11 dan muslim 1/
halaman 36.
Didalam
hal ini perawi hadis nya (abu huraira r a) ragu dalam jumlah cabang iman yang
sebenarnya. Adakah 70 lebih atau 60 lebih keterangan yang diterimanya dari nabi
saw. hanya saja seiamam nawawi bin umar dalam kitab syu’abu iman mengambil
keterangan dari sebuah kitab keterangan syekh zainundin bin ali bin ahmad al
khusyini, telah menjelaskan bahwa jumlah cabang-cabang iman itu ada 77 macam
cabang iman. Dan al faqir sendiri juga telah menterjemahkan dalam bahasa
Indonesia beserta al faqir berikan penjelasan sekali.
Intisari Hadits
Pertama; atsar
umat-umat sebelumnya kadang masih ada hingga ke tangan umat ini, berdasarkan
sabda Nabi saw. “sesungguhnya diantara
yang dijumpai manusia dari penuturan nubuwah pertama.” Ini buktinya.
Atsar-atsar
yang dinukil dari umat-umat sebelumnya, mungkin melalui perantara wahyu
Al-Qur’an,sunnah, atau dinukil orang secara turun- temurun
Contoh
penjelasan Al-Qur’an :
“sedangkan kamu (orang-orang
kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan
lebih kekal. Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang
dahulu,(yaitu)kitab-kitab Ibrahim dan Musa”(Al-A’la:16-19)
Kedua :
“jika kau tidak malu, silahkan berbuat
semaumu,” kata-kata ini diriwayatkan dari umat-umat sebelumnya, karena
kata-kata ini menuntun menuju akhlak yang baik.
Ketiga :
Pujian atas sifat malu, baik menurut kemungkinan makna yang pertama ataupun
yang kedua, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Nabi saw bersebda, “Malu adalah bagian dari imam.”
Malu
ada dua;
Pertama;
malu terkait hak Allah ‘Azza wa Jalla.
Kedua;
malu terkait hak sesama manusia.
Terkait
malu terhadap hak Allah, Anda wajib malu kepada-Nya jika melihatmu melakukan larangan-Nya,
atau meninggalkan perintah-Nya.
Sementara
malu terhadap sesama manusia adalah dengan menahan diri untuk melakukan hal-hal
bersebrangan dengan harga diri dan akhlak.
Keempat;
orang yang tidak memiliki rasa lalu biasanya berbuat semuanya tanpa peduli.
Ketika sesorang melakukan perbuatan memalukan, orang-orang akan membicarakannya
dan menyatakan, “Si fulan tidak punya rasa malu, berbuat ini dan itu.”
Kelima; intisari
hadits lain sesuai makna kedua, hal-hal yang tidak memalukan boleh dilakukan,
karena Nabi saw bersabda, “jika kau tidak
malu, silahkan berbuat semaumu.”
Keenam;
bantahan terhadap Jabariyah, karena hadits ini menegaskan manusia memiliki
kehendak. Wallahul muwaffiq.[3]
DAFTAR PUSTAKA
Rahman Tohir. Hadis Arba’in An-Nawawiyah, Surabaya:
Al-Hidayah
Abu Sayyid
Salafuddin, 2006. Hadis Arbain Nabawi, Solo: Pustaka Arafa
Muhammad Syaikh
Bin Shalilh Al-Utsaimin. Syarah Hadis
Arba’in Imam An-Nawawi.
No comments:
Post a Comment