19 November 2015

Hadist Arba'i nawawi hadist ke 20




HADITS RASA MALU DAN IMAN






Artinya:
Diriwayatkan dari  abu mas’ud uqban bin Amru  AL-A nshari AL-Badri: bahwa ia berkata “rosulullah “bersabda, sesunggunya sebagian apa dari yang dikenal oleh manusia dari perkataan kenabian  yang pertama adalah jika kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu “(HR AL-Bukhori) 169[1]
                                                Syarah hadits
Imam  An-Nawawi
                    Nabi bersabda     




“Jika kamu tidak  mampu maka berbuatlah sesukamu” !

Artinya:  
Jika engkau hendak melakukan sesuatu dan engkau tidak merasa malu untuk melakukannya ,baik dihadapan allah maupun di hadapan manusia ,kerjakanlah keinginaanmu itu. jika tidak demikian maka jangan engkau lakukan.[2]

          Seluruh amalan islam berporos pada hadits ini.bertolak dari sinilah sabda nabi “berbutlah sesukamu !”menjadi bentuk  perintah yang mengandung arti ibahan ( mubah)
          Diantara yang para ulama ada yang menafsirkan hadits dengan pengertian :jika enggkau tidak merasa malu kepada allah dan juga tidak merasa diawasi olehnya maka lakukanlah angan –angan nafsumu dan lakukan saja apa yang engkau inginkan.jika diartikan seperti ini maka perintah di sini adalah ancaman(tahdid), bukanya kebolehan (ibahan). Sehingga sabda nabi ini sama pengertiaanya dengan firman Allah “perbuatlah apa saja yang kamu lakukan “(fushshilat 41:40) juga seperti firman Allah”dan hasunglah siapa saja yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu(ajaramu)”(AL-Isra 17:64)
Ibnu Daqiq AL-Id
          Arti dari sabda nabi “sesunggunya sebagian dari perkataan kenabian yang pertama “adalah bahwa rasa malu itu masih menjadi sifat yang terpuji,dipandang baik dan diperintahkan .ia tidak pernah dinasakh(dihapuskan) dalam syari’at-syara’at pada nabi terdahulu.
          Sedangkan darisabda nabi “jika kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu!”mengandung dua pengertian
Pertama; biasa berupa lafal perintah yang mengandung arti ancaman.  Dengan demikian  ini tidaklah sama dengan firman Allah”perbuatlah apa saja yang kamu hendaki”(fushshilat 41:40) sebab ini merupakan ancaman.karena Allah telah menjelaskan kepada mereka mengenai apa yang harus mereka lakukan dan apa yang harus meraka tinggalkan.dan ini senada dengan sabda nabi”barang siapa yang menjual khamer, hendaklah ia memotong motong daging babi “semacam ini sudah tentu tidak berarti kebolehan memotong motong daging babi (untuk di jual)
Kedua; biasa juga berarti lakukan siapa saja yang tidak dirasa malu oleh orang yang melakukannya jika terlihat orang lain .senada dengan ini adalah sabda nabi “rasa malu adalah sebagian dari iman “maksudnya adalah rasa malu yang menghalangi seorang dari perbuatan keji dan mendorongnya untuk berbuat kebaikan /kebajikan.hal ini sama sebagiamana iman itu menghalangi seorang dari perbuatan keji dan mendorong untuk berbuat ketaatan.dengan demikian rasa malu itu memiliki kedudukan seperti iman karena adanya  persamaan dalam hal tersebut.wallahu a’lam.
Syaikh al-utsaimin
          Nabi bersabda”sesungunya sebagian dari apa yang dikenal oleh manusia dari perkataan kenabian yang pertama adalah jika kamu tidak malu berbuatlah sesukamu !”hal ini mengandung arti  bahwa diantara sisa sisa  atau peninggalan peninggalan kenabian yang pertama yang terdapa pada umat-umat terdahulu,yang kemudian diakui dan ditetapkan pula oleh syari’at islam adalah “jika kamu tidak malu,berbuatlah sesukamu! Artinya jika kamu tidak  melakukan suatu perbuatan yang memalukan maka lakukanlah apa yang engkau suka.ini adalah salah satu diantara dua makna dari kalimat di atas yaitu “lakukanlah”dalam bentuk pengertian seperti ini sedangkan arti yang ke dua adalah jika manusia tidak punya rasa malu maka ia akan melakukan apa saja yang ia inginkan tanpa memperdulikan apapun .                 
Kedua makna diatas sama benarnya
Kesimpulan
          Bahwa rasa malu merupakan bagian dari ajaran yang di bawa oleh syari’at-syari’at terudahulu bahwa manusia itu seyogiyanya mendapatkan kejelasan mengenal segalah hal adalah yang bisa di petik dari hadits ini.jika sesuatu  itu memang bukan merupakan hal yang memalukan, silakan saja apa yang mau dilakukan itu mengandung unsure kerusakan. Jika demikian maka yang demikian itu dilarang dilakukan karena di khawatirkan akan menimbulkan kerusakan seperti ini.





Terjemahnya:
diriwayatkan dari Abu Mas’ud ‘ Uqba bin amr Al Anshori peserta dari golongan orang-orang yang ikut menghadiri perang badhar, r.a berkata rasulullah saw telah bersabda : “sesungguhnya sebagian dari pada ungkapan kata kenabian masa dahulu adalah : apa bila anda tidak malu maka perbuatlah sekehendak hati anda (HD.rw. Bukhori)
Penjelasaannya: hadis tersebut juga disebutkan dalam kitab al-bhukhoriII/halaman : 263 yang isi ringkasaanya adalah suruhan untuk bersifat malu. Tiada diperdapatkan sebuah hadis pun yang menerangkan tentang sabda nabi terdahulu terkecuali hanyalah hadis yang ke 20 ini yaitu hadis yang menerangkan tentang malu. Karenanya dapat diambil suatu kesimpulan, bahwa malu adalah merupakan suatu syariat yang telah disepakati oleh para nabi seluruhnya. Adalah kebijaksanaan apabila setiap muslim dapat mendudukan sifat malu ini pada tempat kedudukannya yang terhormat, karena dia memberikan pengaruh yang positif bagi dirinya pada perilaku dalam pergaulan hidupnya malu merupakan syarat yang turun menurun dalam ajaran para nabi yang senantiasa yang dipuji kehormatannya, dan sennantiasa disuruh melaksanakan dalam segala gerak sikapnya.
          Pengertian hadis tersebut adalah  peringatan dan ancaman terhadap orang yang tidakl bersifat malu dan tiadaan malu dapat merusak kehormatan seorang, sejauh mana sifat malu yang ada pada diri rasulullah saw. Dapat dipahami dari keterangan sebuah hadis sohi yang bersumber dari abu said al-khudri ra








Artinya:
adalah rasulullah saw. itu orang yang amat pemalu dari pada perempuan gadis yang berada dalam biliknya. Apabila beliau terlihat sesuatu yang tidak disukainya,maka kami mengenalnya pada raut wajahnya.”(Hd. Ra bukhori dan muslim dari abu said al-khudri ra). Kitab bukhori II/Halaman:273 dan muslim II/halaman 326.
Gadis pemalu dizaman rasulullah saw. memang tidak pernah keluar dari rumahnya, dan yang lebih malu lagi gadis yang jarang sekali keluar dari biliknya, kecuali ada hajat tertentu.
          Akan tetapi lebih lagi daripada itu, sifat malu yang ada pada diri rasulullah saw. maksudnya : tabiaat beliau dalam kehidupan sehari-harinya adalah sangat pemalu. Teristimewa lagi pemalunya terhadap Allah swt maksudnya:jangan sampai anggota lahirnya seperti :mata, mulut,telinga,tangan dan kaki,sedemikian pula jangan sampai anggota batinnya yaitu:hatinya terjatu dalam pelanggaran terhadapanapa yang dilarangnya apabila seorang dari hambanya akan menjadi seorang yang hancur marolnya, maka menjadi sifat malunya ,dan jika sifat malunya sudah terlepas maka dia akan bertindak dengan kehendak nafsunya dengan tanpa mengindakan peraturan yang  telah di tetapkan dalam ketentuan agamanya.
          Malu kepada allah swt. Dengan sebenar benar malu maksudnya: senantiasa menjaga kepada kepala dan anggota indra  yang ada padanya dan menjaga perut berserta isi yang ada,serta yang di maksudkan didalamnya dan senantiasa mengingat maut serta kehancuran tubuh dan sesudahnya, orang yang tidak mempunyai rasa malu ,maka dia teramat mudah melakukan larangan allah swt.dengan bentuk dosa kecil maupun dosa besar.malu  adalah  termaksud salah satu cabang iman, dan jika malunya sudah hilang tentu saja menjadi sumbing imannya, dan peranan malu memang besar pengruhnya terhadap iman ,sedangkan banyaknya dari suatu pelanggaran hokum allah swt juga tergantung dari sifat pemalunya. Di dalam penjelasan ini nabi saw bersabda:












Artinya:
Iman  ada tiujuh puluh cabang lebih atau eman puluh cabang lebih. Yang paling utama sendiri adalah ucapan: lailahaillah, dan paling rendah sendiri adalah membuang benda yang menyakiti dari jalan lalu lintas, sedangkan malu adalah termasuk salah satu cabang dari iman .”(Hd.rw bukhori dan muslim dari abu huraira ra). Kitab al-bukhori 1/halaman : 11 dan muslim 1/ halaman 36.
Didalam hal ini perawi hadis nya (abu huraira r a) ragu dalam jumlah cabang iman yang sebenarnya. Adakah 70 lebih atau 60 lebih keterangan yang diterimanya dari nabi saw. hanya saja seiamam nawawi bin umar dalam kitab syu’abu iman mengambil keterangan dari sebuah kitab keterangan syekh zainundin bin ali bin ahmad al khusyini, telah menjelaskan bahwa jumlah cabang-cabang iman itu ada 77 macam cabang iman. Dan al faqir sendiri juga telah menterjemahkan dalam bahasa Indonesia beserta al faqir berikan penjelasan sekali.
Intisari Hadits
Pertama; atsar umat-umat sebelumnya kadang masih ada hingga ke tangan umat ini, berdasarkan sabda Nabi saw. “sesungguhnya diantara yang dijumpai manusia dari penuturan nubuwah pertama.” Ini buktinya.
Atsar-atsar yang dinukil dari umat-umat sebelumnya, mungkin melalui perantara wahyu Al-Qur’an,sunnah, atau dinukil orang secara turun- temurun
Contoh penjelasan Al-Qur’an :




“sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu,(yaitu)kitab-kitab Ibrahim dan Musa”(Al-A’la:16-19)

Kedua : “jika kau tidak malu, silahkan berbuat semaumu,” kata-kata ini diriwayatkan dari umat-umat sebelumnya, karena kata-kata ini menuntun menuju akhlak yang baik.
Ketiga : Pujian atas sifat malu, baik menurut kemungkinan makna yang pertama ataupun yang kedua, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Nabi saw bersebda, “Malu adalah bagian dari imam.”

Malu ada dua;
Pertama; malu terkait hak Allah ‘Azza wa Jalla.
Kedua; malu terkait hak sesama manusia.
Terkait malu terhadap hak Allah, Anda wajib malu kepada-Nya jika melihatmu melakukan larangan-Nya, atau meninggalkan perintah-Nya.
Sementara malu terhadap sesama manusia adalah dengan menahan diri untuk melakukan hal-hal bersebrangan dengan harga diri dan akhlak.
Keempat; orang yang tidak memiliki rasa lalu biasanya berbuat semuanya tanpa peduli. Ketika sesorang melakukan perbuatan memalukan, orang-orang akan membicarakannya dan menyatakan, “Si fulan tidak punya rasa malu, berbuat ini dan itu.”
Kelima; intisari hadits lain sesuai makna kedua, hal-hal yang tidak memalukan boleh dilakukan, karena Nabi saw bersabda, “jika kau tidak malu, silahkan berbuat semaumu.”
Keenam; bantahan terhadap Jabariyah, karena hadits ini menegaskan manusia memiliki kehendak. Wallahul muwaffiq.[3]


DAFTAR PUSTAKA
Rahman Tohir. Hadis Arba’in An-Nawawiyah, Surabaya: Al-Hidayah
Abu Sayyid Salafuddin, 2006. Hadis Arbain Nabawi, Solo: Pustaka Arafa
Muhammad Syaikh Bin Shalilh Al-Utsaimin. Syarah Hadis Arba’in Imam An-Nawawi.











[1] Abu Sayyid Salafuddin, Hadis Arba’in Nawawi.
[2] Ibid
[3] Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin, Syarah Hadis Arba’[in An-Nawawi.

No comments: