19 November 2015

Psikologi Agama


BAB I
APAKAH AGAMA ITU?

            Seorang lelaki menemui rasulullah saw. dan bertanya, “Ya Rasulullah apakah agama itu?” Rasulullah SAW bersabda, “akhlak yang baik.” Kemudian.Ia mendatangi nabi SAW. Dari sebelah kanannya dan bertanya, “ya Rasulullah, apakah agama itu?’ dia bersabda, “akhlak yang baik.”kemudian , ia mendatangi Nabi SAW. Dari selah kirinya, “apakah agama itu?” dia bersabda, “akhlak yang baik.” Kemudian, ia mendatanginya dari belakang dan bertanya, “apa agama itu” Rsullah SAW. Menoleh kepadanyadan bersabda, “belum jugakah engkau mengerti? Agama iti akhlak yang baik. Sebagai misal,janganlah engkau marah”
Penampakan Agama
            Agama hadir dalam penampakan yangbermacam-macam sejak sekadar ajaran akhlak hingga ideologi gerkan, sejak perjalanan spiritual yang sangat individual hingga tindakan kekerasan yang massal, sejak ritus-ritus khidmat yang menyejukkan hingga ceramah-ceramah demagog yang menyesakkan. Oleh karena itu, kesulitan pertama dalam meneliti agama secara ilmiah ialah menemukan definisi agam yang akurat dan dapat di terima setidak-tidaknya oleh kebanyakan orang.
Kesulitan Mendefinisikan Agama
Etnosentrisme
            Mukti Ali,,mantan mentri agama republik indonessia,menulis, “agama adalah percaya akan adanya tuhan yang maha esa dan hukum-hukum yang diwahyukan kepada kepercaya utusan-utusannya untuk kebahagian hidup di dunia dan di akhirat.” .jelas sekali, ali tidak sedang  berbicara tetang agama dalam arti umum. Dia sedang mendefinisikan agama seperti yang dilihatnya dalam agama islam.    
            Kita dapat menyunting definisi agama yang dikemukakan mukti ali dengan menghilangkan kata yang maha esa, seperti desifinisi  keperlahi james Martineau;”agama adalah kepecrayaan kepada Tuhan yang selalu hidup, yaknii kepada jiwa dan kehendak ilahi yang mengatur alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat manusia.” Dalam agama-agama ini, kepercayaan kepada tuhan yang personal tidak berpean sama sekali supaya agama masuk, para ilmuan mengganti kata Tuhan dengan”kuasa yang transenden”,”kuasa-kuasa diatas manusia”,”Sesuatu diluar”,”realitas resenden”,”realitas super natural”.pembahasan tentang tuhan dan  konsep-konsep lain yang sejenis itu lazimnya disebut teologi
Kompleksitas
Definisi adalah batasan;”dan agama sangat sulit dibatasi.Agama bersifat kompleks.Leuba,Menulis buku klasik psikologi agama,The Psychological Study of Religion,mengumpulkan 48 Definsi Agama hamper se-abad yang lalu.Ia  defenisi agama pada tiga kategori:intelektualistik(menegaskan kepercayaan),voluntatarisi(menekankan kemauan),dan afektivistis(menyangkut perasaan).
Ciri-ciri khas Agama,characteristic features of region:
1.                  Kepercayaan kepada wujud supranatural(Tuhan)
2.                  Pembedaan antara objek sakral dan profan.
3.                  Tindakan ritual yang berpusat pada objek sakral.
4.                  Tuntunan moral yang diyakini ditetapkan oleh Tuhan.
5.                  Perasaan yang khas Agama (pemujaan,ketakjuban),yang cendrung bangkit ditengah-tangah objek sakral atau ketika menjalankan ritual yang dihubungan dengan gagasan ketuhanan.
6.                  Sembahyang dan bentu-bentuk komunikasi laiya dengan Tuhan,
7.                  Pandangan dunia atau gambaran umum tentang dunia secara keseluruhan dan tempat individu didalam tempatnya.gambaaran ini mengandung penjelasan terperinci tentang iujuan menyelruh dari dunia ini idan  petunjuk tentang bagaimana individu menempatkan diri di dalamnya.
8.                  Pengelolaan kehidupan yang bersifat menyelruh, yang didasarakan padadu pandangan dunia tersebut
9.                  Kelompok  sosial yang diikatbersama  oleh hal-hal diatas.


Keragaman
            Ada ribuan Agama di dunia. Seperti disebutkan di atas,i Agama Budha,Shinto,dan Konghuchu tidak mempersoalkan Tuhan.Tidak semua agama juga mengatur hidup secara menyeluruh.Islam.Kristen,Yahudi boleh  diklaim oleh sebagian pengikutnya mengatur seluruh hidup dibawah undang-undang Illahi.Tetapi sebagian islam berkata .Nabi Muhammad SAW. Pernah menyerahkan urusan dunia kepada pengikutnya.Nabi hanya mengatur urusan Ibadah saja.”kalian lebih tahu urusan dunia kalian”.Yesus pernah berpesan”berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”.
Disisi lainnya, ada orang yang menganggap bahwa agama baginya adalah urusan politik yang menyangkut semua anggota masyarakat. Ada yang berpendapat agama hanya menyangkut urusan ibadah dan pemujaan Tuhan saja. Ada juga orang yang sependapat dengan penyair Kahlil Gibran dalam The Prophet.
Adakah yang lain yang aku bicarakan hari ini?
Bukankah agama adalah semua tindakan dan semua renungan.
Dan bukan hanya tindakan maupunrenungan, melainkan ketakjuban dan pesona yang muncul dari dalam jiwa, bahkan ketika tangan membelah batuan atau merajut tenunan
Siapakah yang dapat memisahkan iman dari tindakan, kepercayaan dari pekerjaan.
Siapa yang dapat menyebarkan jam-jam. Dia di hadapan-Nyadan berkata, “Ini untuk Tuhan dan ini untukku sendiri; Ini untuk jiwaku dan ini untuk tubuhku?”..
Kehidupan keseharianmu adalah kuilmu dan agamamu.
Ketika kamu masuk ke dalamnya, ikutlah seluruh diri kamu bersamamu.

Definisi Agama dari Perspektif Psikologi
Menurut George Coe
Secara sengaja saya tidak memberikan definisi formal agama.. sebagian karena definisi sangat sedikit mengandung informasi tentang fakta; sebagian lagi karena sejarah definisi agama hampir dapat memastikan bahwa setiap upaya baru untuk membuat definisi selalu mempersulit bab-bab pendahuluan ini.
          Akan tetapi, kita tidak dapat melanjutkan pembicaraan tentang agama tanpa menjelaskan lebih dahulu apa yang kita maksud. Katakanlah, kita ingin meneliti cinta dan pengaruhnya pada kesehatan jiwa. Kita harus mendefinisikan dahulu apa yang di sebut cinta. Tanpa kita ketahui apa cinta itu sebenarnya, penelitian kita akan melantur ke sana kemari. Kita harus membuat definisi cinta lebih dulu. Kita akan segera kebingungan karena cinta ternyata sukar di definisikan. Cinta bukan untuk di definisikan; cinta adalah untuk di rasakan. Jadi, bagaimana kita meneliti cinta tanpa mendefinisikannya?

Agama Personal dan Sosial
          Agama muncul di tengah-tengah kita sebagai pengalaman persnal dan sebagai lembaga sosual. Pada tingkat personal, agama agama berkaitan dengan apa yang anda Imani secara pribadi, bagaimana agama berfungsi dalam kehidupan anda, bagaimana pengaruh agama pada apa yang anda pikirkan, rasakan dan lakukan.
Pada tingkat sosial, agama dapat kita lihat pada kegiatan kelompok-kelompok sosial keagamaan. Mereka bisa saja berafilasi dengan agama-agama dunia atau sekadar berkaitan dengan agama-agama dunia atausekedar berkaitan dengan sekte atau kelompok sempalan tertentu.

Fungsi Agama dan Substansi Agama
Kita dapat melihat agama melalui dua pendekatan:
a.       Substantif
Secara substantif kita bertanya. “Apa yang di yakini atau di percayai oleh individu dan umat dari agamanya?”
b.      Fungsional
Secara fungsional jika kita bertanya “Apa peran agama dalam kehidupan personal dan masyarakat?”
          Jika definisi substansi menghubungkan agama dengan Tuhan atau konsep=konsep sejenis, definisi fungsional menghubungkan agama dengan upaya manusia menjawab maslah-masalah kehidupan, masalah eksistensional.

Konseptualisasi Agama dalam Matriks

Fungsi
(1)
Substansi
(2)
Personal
(1)
Apa saja yang memenuhi tujuan keagamaan individu;
1.      seperti, memberikan makna
2.      mengurangi rasa bersalah
3.      menambahrasa bersalah
4.      memberikan bimbingan moral
5.      membantu menghadapi maut,dsb
Kepercayaan individu yang khusus. Kesadaran personal akan adanya yang sakral, transenden, dan ilahi.
Sosial
(2)
Apa  saja yang menjalankan fungsi agam di masyarakat. Berjalannya proses kelompok dalam kelompok agama.
Perumusan ajran agama yang resmi. Konsensus kelompok tentang kepercayaan dan praktik. Sikap di hadapan publik yang di ambil gereja, sinagog, mazhab, sekte.

Psikografi Agama
          Psikografi adalah peta keberagamaan. Dalam peta itu, kita menguraikan keberagamaan dalam rangkaian bagiannya. Kembali lagi pada analogi cinta. Untuk membuat psikografi cinta, kita uraikan cinta menjadi empat bagian;
·         Perhatian
·         Penghormatan
·         Kasih sayang
·         Kepercayaan
Untuk menyusun psikologi agama, kita urai agama menjadi lima deimensi,yaitu; ideologis, ritualistis, eksperiensial, intelektual, dan konsekuesional.

Dimensi Ideologis
          Kepercayaan atau doktrin agama adalah dimensi yang paling dasar. Inilah yang membedakan suatu agama dengan agama yang lainnya, bahkan suatu mazhab dalam suatu agama dari mazhab lainnya.

Dimensi Ritualistik
          Dimensi keberagamaan yang berkaitan dengan sejumlah perilaku di sebut dimensi ritualistik. Yang di maksud perilaku di sini bukanlah perilaku umum yang di pengaruhi keimanan seseorang, melainkan mengacu pada perilaku-perilaku khusus, yang di tetapkan oleh agama (beribadah).

Dimensi Eksperensial
          Dimensi ini berkaian dengan perasaan keagamaan yang di alami oleh penganutb agama. Pengalaman keagamaan ini bisa saja terjadi sangat moderat, seperti kekhusyukan di dalam shalat atau sangat intens seperti yang di alami oleh kaum sufi.

Dimensi Intelektual
          Setiap agama memiliki sejumlah informasi khusus yang harus yang harus diketahui oleh para pengikutnya.

Dimensi Konsekusional
          Dimensi konsekusional menunjukkan ajaran agama dalam perilaku umum, yamg tidak secara langsung dan secara khusus di tetapkan agama (seperti dalam dimensi ritualistik). Inilah efek agama dari perilaku individu dalam kehidupannya sehari-hari.

Catatan Terakhir
          Paloutzian mengklasifikasikan pengikut agama berdasarkan dimensi-dimensi ideologis (keoercayaan), intelektual (pengetahuan), konsekusional (akibat agama).
Hubungan antara kepercayaan dan pengetahuannya:
1.      Iman berpengetahuan: ada iman ada pengetahuan.
2.      Iman buta: ada iman, tidak ada pengetahuan.
3.      Penolakan berpengetahuan: tidak ada iman, ada pengetahuan.
4.      Penolakan buta: tidak ada iman, tidak ada pengetahuan.
          Klasifikasi manusia berdasarkan hubungan iman dan pengetahuan, dimensi ideologis, konsekusional, pada empat golongan:
1.      Mukmin konsisten: ada iman dan ada amal.
2.      Munafik: tidak ada amal.
3.      Agostik moral: tidak ada iman, tetapi beramal baik.
4.      Non-Mukmin Konsisten: tidak ada iman, dan tidak ada amal.
KOTAK I         DEFINISI AGAMA
Agama dalam The Encyclopedia of Philosophy:
   “Agama adalah kepercayaan kepada Tuhan yang selalu hidup, yakni kepada jiwa dan kehendak ilahi yang mengatur alam semesta dan mempunya hubungan moral dengan umat manusia.”
                                                                                                   _James Martinean
   “Agama adalah pengakuan bahwa segala sesuatu adalah manifestasi dari Kuasa yang melampaui pengetahuan kita.”
                                                                                                   _Herbert Spencer
   “Agama saya maksudkan sebagai upaya menyenangkan atau berdamai dengan Kuasa dia atas manusia yang di percayai dapat mengarahkan dan mengendalikan jalannya alam dan kehidupan manusia.”
                                                                                                   _J.G. Frazier
   “Agama hanyalah upaya mengungkapkan realitas sempurna tentang kebaikan melalui setiap aspek wujud kita.”
                                                                                                   _F.H. Bradley
   “Agama adalah etika yang di tinggalkan, dinyalakan, dan diterangi oleh perasaan.”
                                                                                                   _Mathew Arnold
   “Bagi saya, agama paling baik di gambarkan sebagai emosi yang di dasarkan pada keyakinan akan harmoni di antara diri kita dan alam semesta secara keseluruhan.”
                                                                                                   _J.M.I Mc Taggard
   “Pada hakikatnya agama adalah disposisi atau kerangka pikir yang murni dan luhur yang kita sebut sebagai kesalehan.”
                                                                                                   _C.P. Tiele
   “Agama seseorang adalah ungkapan dari sikap akhirnya pada alam semesta, makana tujuan singkat dari seluruh kesadarannya pada segala sesuatu.”
                                                                                                   _Edward Caird
   “Beragama berarti melakukan dengan cara tertentu dan sampai tingkat tertentu penyesuaian vital (betapapun tentatif dan tidak lengkap) pada apapun yang di tanggapi atau yang secara implisit atau eksplisit di anggap layak di perhatikan secara serius dan sungguh-sungguh.”
                                                                                                   _Vergilius Ferm
                           (The Encyclopedia of Philosophy 7, entry “Religion”)


BAB II
AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN
           
Einstein dan Agama
”Kita ingin tahu tidak saja bagaimana alam itu dalam prosesnya,tetapi kita juga ingin tahu mengapa alam ini begini dan tidak dalam bentuk lainnya”,kata Einstein,nama yang melambangkan raksasa ilmu pengetahuan.ketika bergerak dari pertanyaan”bagaimana” ke pertanyaan  ”mengapa”,ia bergerak dari ilmu pengetahuan ke Agama.Menurut Max Jammers,pemahaman Einstein dalam fisika dan pemahamannya dalam agama berpadu secara mendalam.Einstein melihat jejak-jejak Tuhan pada alam.hanya melalui ilmupengetahuan alam,manusia dapat mengapai pikiran Tuhan.Friederich Durrenmatt sekali waktu mengomentari pandangan Einstein tentang Tuhan,”Einstein pflegte so of von Gott zu sprechen,dass ich beinahe vermute,er sei ein verkappter Theologe gewesen.”Einstein suka berbicara tentang Tuhan begitu seringnya sehingga saya hampir melihatnya sebagai teologi tersembunyi.
            Menurut Torrance,bagi Einstein,Tuhan bukan modus berpikir,melainkan ungkapan iman yang menjadi pedoman hidupnya(einess gelebten Glaubens).Keimanan kepada Tuhan mendasari pemikiran ilmiahnya; dan pada saat yang sama,pandangan Agamanya sangat dipengaruhi oleh pemikiran ilmiah.Pada pidatonya di depan Princeton Theological Seminar tahun 1939,Einstein berkata:
Ilmu pengetahuan hanya dapat diciptakan oleh mereka yang dipenuhi dengan gairah untuk mencapai kebenaran dan pemahaman.Tetapi sumber perasaan itu berasal dari tatanan Agama.Termasuk didalamnya adalah keimanan pada kemungkinan bahwa semua peraturan yang berlaku pada dunia wujud itu bersifat rasional.Artinya,dapat dipahami oleh akal.Saya tidak dapat membayangkan ada ilmuan sejati yang tidak mempunyai keimanan yang mendalam seperti itu.Keterangan ini dapat diungkapkan dengan gambaran: ilmu pengetahuan tanpa Agama lumpuh,Agama tanpa ilmu pengetahuan buta.

          Bagi Einstein,tidak terbayangkan ada ilmuan yang tidak punya keimanan yang mendalam.Makin jauh kita masuk pada rasia alam,makin besar kekaguman dan penghormatan kita kepada Tuhan.ia juga melihat Tuhan dalamalunan musik yang mempesona.
          Ketakjubannya pada penemuan Sains membawa Einstein kepada Tuhan.jika pandangan Agamanya mempengaruhi pemikiran ilmiahnya,pada gilirannya pemikiran ilmiahnya mewarnai pandangan agamanya.Ia sangat kritis pada ajaran Yahudi yang dianutnya.Misalnya,ia tidak begitu suka pada kepatuhan pada hukum-hukum”fiqh” Yahudiyang ketat.
          Kelak,setelah ia dewasa,penjajahannya dalam mencari rahasia alam dengan fisika kepada konsep Tuhan yang tidak sama seperti yang dianut oleh Yahudi ortodoks.Bagi Einstein,Tuhan tidak lagi personal dalam pengertian Tuhan dipandang dalam citra manusia.Tuhannya adalah Tuhan superpersonal(ausserpersonlichen) yang dibebaskan dari belengku Tuhan yang”semata-mata personal”(Nur-Personlichen),atau yang merupakan ungkapan keinginan-keinginan tersendiri.
          Keberagamaaan Einstein,konon,diperoleh tidak hanya dari pendidikan masa kecilnya,tetapi juga dari perkawinannya dengan Mileva,kawanya dikelas fisika.Mileva adalah penganut Gereja Ortodoks Yunani yang saleh.ketika mereka terpaksa bercerai,Einstein memanggil mantan istrinya dengan mesra,”Engkau akan selalu menjadi tempat bagiku,yang tidak seorang pun bisa masuk kesitu.” Ketika ia memenangi hadiah Nobel-setelah enam kali di protes oleh fisikswan yang rasis,berkat temuannya dalam efek fotoelektrik,bukan teori relativitas –ia mengirimkan hadiah uangnya kepada Mileva.
Integrasi  
          Dalam Integrasi,Agama menyumbangkan ajarannya pada ilmu pengetahuannya.Dan ilmu pengetahuan menghadiahkan penemuannya pada Agama .Agama dan ilmu pengetahuan tidak berperang,tetapi berkawin dalam perkawinan agung-yang disebut oleh Ken Wilber sebagai The Marriage of  Sense and Soul.
               Dengan meminjan metafora Eintein,kita berkata bahwa Agama memberikan tongkat kepada sains,agar ia tidak berkutat hanya pada pengamatan empiris;agar ia menjelajah dunia yang lebih luas.Sains memberikan lampu agar Agama melihat cuhaya dalam kegelapan;agar tidak tengelam dalam takhayul dan kepercayaan palsu.Muthahhari,dalam Manusia dan Agama,Menulis;
          Sejarah telah membuktikan bahwa pemisahan Sains dari keimanan telah menyebebkan kerusakan yang tak bisa diperbaiki lagi.keimanan harus dikenali lewat sains;keimanan bisa tetap aman dari berbagai takhayul melalui pencerahan sains.keimanan tanpa sains akan berakibat fanatisisme dan kemandekan.Persahabatan antara ilmu pengetahuan dan Agama,seperti yang disarankan Muthahhari,dalam cerita sifi juga(juga Einstein) adalah kerjasama antara si lumpuh dan si buta.Ilmu pengetahuan tanpa bantuan  Agama,akan terpaku pada tempat duduknya.
          Carl Sagan(Cosmos,1980:38) menceritakan eksprimen yang dilakukan oleh Dr.Urey dan rekan-rekannya di Universitas Cornell.Metana,amonia,hidrogen sulfida,dan air dimasukan ke dalam sebuah tabung dan diekspose pada kejutan listrik.Hasilnya adalah sejumlah senyawa organik.Dari eksprimen ini,disimpulkan bahwa molekul sederhana dapat melahirkan molekul yang lebih kompleks dalam kondisi yang terjadi pada atmoster primordial,Tetapi,para peneliti melupakan peranan mereka sendiri.dalam eksperimen itu, peranan eksperimenter sama sekali di hapuskan. Pada epolusi alam semesta, ilmu pengetahuan juga membuang peranan Tuhan.
          Pada 1978,913 pengikut Jim Jones melakukan bunuh diri masal di Guyana utara di sebuah desa yang mereka sebut JamesTown. Tengah malam, ketika bunyi sirine membanguankan mereka dari tidurnya, mereka berkumpul di lapangan. Jim Jones mengaku sebagai titisan Yesus, Ikhnaton, Buddha, dan lening sekaligus, menyuruh para pengikutnya meneguk secangkir racun.
          Di indonesia, walaupun tidak mungkin separah dan sengeri Aum atau People’s Temple, banyak sekali kelompok sempalan yang mengjarkan yang aneh-aneh dan ujung-ujungnya duit. Sejalan dengan naiknya harga dolar, jumlah aliran semacam itu melonjak dengan drastis. Guru-guru spiritual tumbuh seperti jamur dimusin hujan.gejlanya sama. Meraka menjual kebodohan kepada mereka yang haus pengalaman spiritual tanpa bimbingan ilmu pengetahuan. Mereka berjlan dan tergelincir.
Teilhard de Chardin
          Bagaimanakah carabya kita memadukan ilmu pengetahuan dan agama.Ian Barbour (1990) menyebut dua contoh: teologi alamiah (natural theology) dan teologi alam (thology of nature). Keduanya berbeda sedikit saja. Teologi alamiah berpijak pada agama yang memperkuat ajaran agama dengan bukti-bukti ilmiah.Saya tertarik untuk menampilkan Teilhard de Chardin, sebagai ilmuwan yang menggabungkan keduanya.
          Pierre Teilhard de Chardin (1881-1955) adalah salah satu diantara sangat sedikit tokoh pemikir pada abad ini yang mengintegrasikan penelitian ilmu dengan jabatan keagamaan.pada awal karirnya,ahli paleontologi dan pendeta Jesuit ini menjadikan misi pribadinya untuk merekontruksi doktrin-doktrin kristen yang paling pokok dari perspektif ilmu pengetahuan dan pada saat yang sama,merekontruksi ilmu pengetahuan dari perspektif iman.
          Teilhard dilihdt oleh Vatikan sebagai ancaman bagi integritas iman.Roma memerintahkan agar tulisa-tulisan Agamanya tidak boleh diterbitkan;ia dilarang mengajar atau berbicara didepan hadapan umum berkaitan dengan masalah keagamaan;ia diusir daritanah airnya.Tetepi gagasan-gagasannya disebarkan secara informal  dan kadang-kadang secara rahasia oleh rekan-rekannya di gereja.ia menjadi pahlawan dan teladan bagi seluruh generasi pastor dan teolog bagi yang muda-muda.iamengerakan gerakan pembaruan yang akhirnya berkembang pada era Vatikan 11.
          Ketika ia melakukan penelitian paleontologis di Cina Utara,1927,Teilhard menulis “buku kecil tentang kesalehan”.ia mengirimnya kepada atasannya di Roma untuk menegaskan ketulusan dan kesetiaannya pada agama.Dalam buku ini,Teilhard berbicara tentang Millieu Ketuhanan.pada intinya ia menegaskan bahwa seluruh dunia materi adalah panggung untuk melihat Tuhan secara mistikal dan mendalam.sebagai ilmuan ia berpendapat bahwa sumber utama kebenaran agama harus dicari di dunia materibukan di magesterium gareja.ia mengajari para petinggi khatolik untuk melihat Tuhan dengan sains.
          Teilhard dibesarkan pada abad ke-19-abad kepongohan sains.Sains telah di anggap telah mengungkap rahasia alam semesta.Misteri terkuak dengan penemuan ilmiah.fisika menemukan inti materi dalam atom,balok fondasi alam semesta.Biologi mengungkapkan bahwa kehidupan  adalah hasil evolusi akibat pertarungan abadi untuk hidup(survival of the fittest).kecerdasan (bahkan roh) dijelaskan dengan hubungan saraf dan rangkaian reaksi kimia dalam sistem neural kita.
          Teilhard meninggal pada pertengahan abad ke-20-abad kerendahdirian sains.Dunia tidak sesederhana seperti yang digambarkan ilmuan abad ke-19.Alih-alih menjawab pertanyaan,sains sains melahirkan pertanyaaan yang lebih besar.Di balik atom ada dunia subatomis yang menyangkal semua mekanik Newtonian.dibawah-bawah sadar dan diatas kesadaran,ada lagi suprasadar.bom nuklir tidak hanya membunuh penduduk Hiroshima dan Nagasaki,tetapi juga membunuh sains sebagai penganti agama.untuk menyelamatkan kedianya,Teilhard dibenci kedua belah pihak.sebagai ilmuwan,ia tidak dikenal.karena itu,konflik antara sains dan ilmu pengetahuan tidak berakhir dengan berakhirnya karier dan kehidupan Teilhard.
Konflik
          William A.Wallace,seperti Teilhard,adalah teologyang juga ilmuwan.Latar belakang spesialisasinya adalah fisika dan teknik elektro.ia mengambarkan riwayat konflik antara agama dan sains melalui rangkaian dialog para tokah.
Galileo dan Bellarmine
          “dialog yang pertama dan yang paling terkenal,antara galileo dan bellarmine.”Galileo menjadi korban yang sering diperingati dalam peperangan antara sains dan agama.pandangan Galileojelas dan tidak dibuat-buat.Dengan teleskopnya yang baru disempurnakan,ia menemukan hal-hal yang tampaknya bertentangan ajaran Alkitab.”Tetapi”ia beralasan,”The Book of Natural and the Book of Scripture mempunyai pengarang yang sama,dan kebenaran tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran.karena itu tafsirkan kembali firman-firman dalam kitab Suci sehingga sesuai dengan penemuan ilmiahku,maka keserasiaan akan segera dikembalikan.Dalam dialog ini,sains kalah.agama menang.dihadapan pengadilan gereja,yang mengancamnya dengan siksaan dan hukuman mati.                 
Huxley dan Wilburforce
          Dua ratus tahun kemudian,Darwin menerbitkan The Origin of Species pada 1859.Buku ini  mengguncangkan  dunia ilmiah dan agama.manusia bukan lagiketurunan nabi yang ditempatkan disurga,ia tidak turun dari langit.ia turun dari monyet.walaupun Darwin [pada akhirnya ateis,yang tidak melakukan dialog terbuka dengan wakil gereja.maka perdebatatan pun direncanakan antara Huxley dan Bishop Samuel Wilburforce,yang tidak pernah membaca The Origin,tetapi telah dilatih untuk membantahnya oleh ilmuan inggris terkemuka,Sir Richard Owen.Dalam perdebatan ini,Sains menang.Agama kalah.
Skripturalisme
          Maurice Bucaille(2001) melakukan penelitian tentang Bibel,Al-Quran,dan sains modern,La Bible,Le Coran et La Science.ia berkesimpulan bahwa sebagian dari Bibel bertentangan dengan sains,sebagian hadis bertentangan dengan sains,tetapi tidak satu pun ayat Al-Quran yang dibohongkan sains.”karena Al-Quran autentik berasaldari Allah,sedangkan Bibel dan hadis ditulis manusia”.kata Bucaille.tetapi,Bucaille lupa,dalamhadis-hadis yang dianggap autentik itu terdapat juga hal-hal yang bertentangan dengan sains modern.Dan ia juga menyebutkan bahwa dalam penafsiran para ahli tafsir,ada ayat-ayat Al-Quran yang bertentangan dengan sains.
          Walhasil,kita bisa mengatakan bahwa jikaterjadikonflik antara Sains dan Al-Quran,kita harus menyunting dengan mengatakan konflik antara sains dan sebagian terjemahan Al-Quran.Halyang sama terjadi dengan Bibel.Agustinus menyatakan bahwa jika terjadi konflik antara ilmu pengetahuan ilmiahyang dapat dibuktikan dengan makna Bibel yang harfiah,kita harus menafsirkan Kitab Suci secara metaforis.
          Ketika diseret ke pengadilan Galileo percaya bahwa kebenaran ilmiah tidak akan pernah bercanggah dengan kebenaran Al-kitab.ia hanya akan bertentangan dengan penafsiran literal pada kitab suci.Gereja katolik Roma dan kebanyakan dominasi protestan bersedia untuk tidak lagi berpegang pada kemaksuman penafsiran darfiah Bibel.namun sampai sekarang masih banyak denominasi Protestan,seperti Gereja baptis Selatan.
Sains Modern
          Sains harus ditolak jika berbeda dengan agama.sebaliknya,sains modern melihat bahwa satu-satunya pengetahuan yang dapat dipercaya adalah sains.sains dapat diuji,dan dibuktikan;karena itu sains bersifat Universal.Agama pada gilirannya tidak bisa diuji.Agama karena bersifat yang subjektif,hanya diyakini oleh para penganutnya;karena itu,agama bersifat parokial.Sains bercerita tentang the bing bang dan evolusi.Prof.Loyal Rue,dalam artikelnya,”Redefining Myth and religion:Introduction to a Conversation”menulis bahwahanya sains satu-satunya cerita yang dapat mempersatukan dunia.”dan “keimanan” yang berlebihan pada sains ini disebut positivisme.sebagai aliran filsafat,positivisme ditegakan diatas asumsi-asumsi metafisis,aksiologis dan epistemologis.
Asumsi Metafisis
          Secara metafisis,positivisme mengasumsikan naturalisme,determinisme,dan reduksiolisme. Naturalisme adalah kepercayaan metafisis bahwa manusia dan alam semesta dapat dipahami dan akhirnya dijelaskan tanpa memasukan unsur”Tuhan” atau ”wujud tertinggi” dalam teori-teori ilmiah.Menurut Naturalisme,”Alam semesta ini mandiri,tanpa sebab atau kendali supranatural,dan dalam segala kemungkinan penefsiran dunia yang diberikan oleh sains adalah satu-satunya penjelasan realitas yang memuaskan.Dari akar Naturalismr tumbuh ateisme,yang menyatakan bahwa Tuhan tidak ada;dan agnostisisme yang menyatakan bahwa kita tidak mungkun mengetahui apakah Tuhan itu ada atau tiada.Naturalisme adalah Aqidah pokok sains modern-“science’s central dogma,without which it chould not function”.
          Determinisme adalah kepercayaaan bahwa setiap kejadian di alam semesta seluruhnya ditentukan dan dikondisikan oleh sebab-sebab alamiah yang terjadi sebelumnya.hubungan sebab akibat ini dirumuskan sebagai hukum yang berlaku universal.cabang universal yakni”pandangan bahwa hukum-hukum alam-karena bersifat hukum-tidak berubah dalam ruang atau waktu..hukum harus berlaku universal;kalau tidak,ia hanya berlaku pada satu titik dalamruang dan waktu,dan karena itu tidak disebut hukum atau kebenaran”.
          Reduksionisme adalah kepercayaan bahwa”keseluruhan dapat dipahami secara sempurna dengan menganalisis bagian-bagian. ”Reduksionisme ada tiga; Atomisme adalah “pandangan bahwa objek material pengamatan dan pengetahuan kita dengan sendirinya dapat dipisahkan atau dibagi-bagi ke dalam variabel,konstruk,dan hukum-hukum yang lebih kecil dan dianggap lebih dari bagian-bagian yang lebih besar”.Mekanisme adalah kepercayaaan bahwa manusia,dunia,dan alam semesta “mirip sebuah mesin,yang...terdiri dari bagian-bagian kecil,yang bekerja sama secara tertib dan kerjasama keseluruhannya itu ditentukan dan diniscayakan oleh hukum”.Materialisme adalah “pandangan bahwa materi adalah realitas asasi didunia,dan apa saja yang ada bergantung pada materi.
Asumsi Aksiologis
          Cabang filsafat yang membahas teori nilai disebut aksiologis.Sains modern ditegakan pada dua asumsi aksiologis;relativisme etis adalah kepercayaan aksiologis bahwa”tidak ada prinsip-prinsip yang absah secara universal,karena satiap prinsip moral hanya absah secara relatif dengan pilihan kultural atau individual”. dan hedonisme etis adalah kepercayaaan bahwa”kita selalu berusaha untuk mencarikesenangan kita sendiri dan bahwa kebajikan tertinggi bagikita adalah kesenangan yang paling tinggi dengan derita yang paling dikit”,
Asumsi Epistemologis
          Epistemologis adalah cabang filsafat yang mempelajari sifat,sumber,validitas,dan batas-batas pengetahuan.Epistemologis berbicara tentang bagaimana kita tahu.sains modern menganut positivisme,yang percaya bahwa “pengetahuan terbatas pada fakta yang bisa diamati dan hubungan diantara fakta-fakta itu.”positivisme berkaitan dengan dua asumsi; realitas klasik disebut juga realisme naif bahwa alam semesta  itu ada tanpa bergantung pada manusia.melalui pengalaman alam semesta pada akhirnya dapat diserap dan dipahami secara akurat oleh manusia.Empirisme adalah kepercayaaan epistemologis “bahwa pengalaman indra kita-melihat,menyentuh,mendengar,mencium,mengecap-memberikan kepada kita pengetahuan yang terpecaya tentang dunia”.
Indenfendensi
          Para penganut indenpendensi percaya bahwa agama dan sains punya wilayah yurisdiksi masing-masing.keduanya harus hidup bersanding,bukan bertanding.sains tidak boleh memasuki wilayah agama,sebagaimana agama juga tidak boleh melakukan intervendensi dalam wilayah sains.
Perbedaan Metode
          Pada abad Pertengahan,orang membedakan antara kebenaran yang diwahyukan dan kenaran yang ditemukan,revealed truth dan human discovery.Agama didasarkan pada kebenara yang ditemukan dalam kitab suci,The Scipture.Ilmu pengetahuan didasarkan pada kebenaran yang ditemukan mausia melaui akal dan pegamatan pada alam semesta,the nature.Didunia islam,dibedakan antara ayat-ayat Quraniyyah dan ayat-ayat a.Tanda-tanda Tuhan yangu pertama melalui agama,dan tanda-tanda Tuhan yang kedua dipahami melalui sains.para ulama tasawuf  islam membedakan antara alam nasut dan alam malakut.kedua ala mini mepunyai hukum-hukun tersendiri.Alam nasut dipersepsi mealu basher,mata lahir;alam malakut dicerap bashirah,mata batin. Al-Ghazali menerapkan  dualism ini ketika ia berbica psikologi.manusia terdiri dari dua dimensi: khalaq yang terlihat dan khuluq yang dapat dipelejari,dipelihara,dan dikembangkan melalui ilmu pengetahuan,misalnya ilmu kedoktoran.
Langdon Gilkerey,dalam saksiannya,menjelaskan perbedaan antara sains dan agama:
1)             sains berusaha menjelaskan data yang objektif,public,dan dapat diulangi.Agama mempertanyakan adanya keteraturan dan keindahan didunia dan pengalaman hidup batinah kita,seperti perasaan bersalah,kecemasan dan kesempurnaan pada posisi lain.
2)             sains mengajukan pertanyaan yang objektif, how questions, berkenan dengan makna,tujuaan,dan asal-usul serta nasib terakhir kita.
3)             basis otoritas sains terletak pada koherensilogis dan da reksperimelatal.otoristas terakhir dalam agama ada pada Tuhan dan wahyu yang dapat dipahami melalui orang-orang yang telah diberi pencerahan dan pandangan batin, dibuktikan keabsahannya dengan pengalaman kita sendiri.
4)             Sains membuat ramalan kuantitatif yang dapat diuji secara eksprimen. Agama harus menggunakan bahasa analogis dan simbolis karena Tuhan bersifat transenden.
Perbedaan Bahasa
Perbedaan keempat yang diatas berkaitan dengan bahasa jika agama menggunakan bahasa analogis dan simbolis, dan sains menggunakan bahasa logis dan empiris. Kaum positivis logis menganggap bahwa dalam bahasa ilmiah pertanyaan yang bermakna hanyalah pertanyaan yang mempunyai rujukan emperis. Menurut para analis linguistik, bahwa yang berbeda mempunyai pungsi yang berbada.Dalam ngkapan Witgenstein, “language Game” dibedakan dari caranya  dalam konteks sosial.sains dan agama melakukan tugas yang berbeda, masing-masing tidak dapat dinilai dengan standar yang lain. Tugas bahasa ilmiah ialah meramalkan mengendalikan. Teori digunakan untuk mengidentifikasikan objek pengamantan dalam bentuk variable yang dibatasi secara tegas, menghubung-hubungkannya, dan merumuskan prediksi.orang yang menyatakan bahwa agama menyejahterakan manusia dunia dan akhirat,sedangkan berbucara dengan  bahasa agama.
Karena sains hanya mampu melakukan pegamatan pada apa pun yang bisa diukur,sains tidak bisa dipaksa-dan jangan memaksakan diri=untuk memberikan pandangan-dunia yang mnyeluruh,filsafat hidup,atau norma-norma etis.sampai disini, Tetapi,seperti yang dijelaskan Barbour(1990) dan Rolston 111 (1987),keduanya mnjelaskan dunia yang sama.kemusykilan mempertahankan indenpendensi justru terletak pada diri kita.kita mengalami kehidupan sebagai keseluruhan, dan tidak memisah-misahkan sebagai bagian-bagian.
KOTAK 2      SEJARAH HUBUNGAN SAINS DAN AGAMA(TEOLOGI)
“Sejarah sains versua Agama dicemari oleh banyak kenangan pahit.Para astronom pada zaman sekarang sering menggunakan penganiayaan pada Galelio dan Copernicus sebagai contoh menakutkan tentang Gereja sebagai tokoh jahat yang merintangi kemajuan ilmiah.Secara kebetulan,mayoritas akademis dikampus sekuler mempunyai kecendrungan ateistik.bagi kaum sekunder,keimanan kepada Tuhana hanyalah takhayul Abad Pertengahan yang dijalin erat oleh fantasi seksual kekanak-kanakan gaya Freud.Pada sisi yang lain ,sains dicurigai oleh banyak orang Kristen karena tabiatnya yang ateis. Keterasingan antara sains dan agama telah berkurang belakangan ini karena banyak kaumapologis yang pintar telah mulai berdialog dengan kaum sekuler…
Sains sebagai Kenangan Renaisans
Francis Schaffer, ketika menganalisis geseran budaya pada Eropa abad ke-19, menyadari bahwa perkembangan filsafat menjadi katalisator transformasi budaya.Agak berbeda dengan lahirnya pikiran abad ke-19 yang diabadikan oleh filsafat eksistensialnya Soren Kierkegaard, munculnya periode Renaisans, yang pada mulanya diantarkan sebagai revolusi seni pada abad ke-15,tidak disertai oleh aliran filsafat  yang tersusun baik. Renaisans hanyalah geseran spontan dari teologi abad Pertengahan menuju humanism, yang menandai kembalinya paganisme dari peroiode yunani klasik.keterpesonaan abad paganism di ungkapkan pada karya-karya seperti “kelahiran Venus” dari Sandro Boticelli sesudah 1482.Urat nadi humanistik mengalir dalam seluruh tubuh Renaisans dan dinyatakan dalam slogan “manusia dapat melakukan apa pun yang ia inginkan”.
Thomas Aquinas, teolog terbesar Abad Pertengahan dab ahli sentensis,mengukuhkan pemikiran aporioiri Aristoteles sebagai dasar pengetahuan.Francis Bacon, yang dipuji sebagai bapak Renaisans,menolak logika Aristoteles sejak ia menjadi mahasiswa di Trinity College. Bacon dimuliakan hingga mencapai kedudukan tokah mitologis karena ia ikatan dengan logika arus utama (mainstream) Aba Pertangahan, untuk “masuk kedalam nti persoalan” dalam dukungannya pada observasi dan eksperimen sebagai penganti deduksi prinsip Apriori.Penolakan kepada akal apriori menimbulkan revolusi dalam wacana-wacana intektual; “di sana sini,di universitas, biara, dan tempat tetret yang tersembunyi, orang berhenti berdiskusi dan mulai meneliti”.
Sejak saat itu,sains dikenal sebagai pembrontak terhadap otoritas Gereja.Kepler,Galileo,dan Capernicus menjadi pembrontak tekadan dizamannya. Banyak persekusi dan sinoda gagal untuk menghambat kemajuan semangat Renaisans.Sebaiknya,masa-masa berat itu mendorong kaum revolusionis untuk berjuang menentang penindasan intelektual.sungguh sangat mengerikan bahwa pemikiran ilmiah pada akhirnya mengantikan teologi pada lingkungan budaya Barat.pada akhirnya, kepunahan pandangan Abad Pertengahan diresmikan dengan penerbitan karya Immanuek Kant,Kritik der reiner Vernunft, dan pada 1781.
Perjuangan antara ilmuwan dan pendeta menampakan dirinya dalam bentuk dikotomi yang tak bsa disatukan antara tradisi dan kebebasan . Berpikir bebas, sebagai reaksi negative terhadap pendekatan opriori dalam dogma Gereja, melahirkan sejumlah filsafat sekuler.kobaran api sekilarisasi menyebar tak terkendali keseluruh dunia pasca Kristen.Origin of Speciesnya Dawin memberikan mekanisme kemunculan kehidupan tanpa seorang Pencipta.Psikoanalisisnya Freud menghilangkan kredibilitas perasaan agama dengan menjadikannya sebagai bentuk-bentuk perasaan seksual kekanak-kanakan.Teori Relativitasnya Einstein sering disalah pahami sebagai argument untuk memperkuat rlativisme;padahal tidak ada ilmuan yang lebih religious seperti Einstein pada zaman modern.Niels Bohr,salah seorang penemu mekenisme kuntum, adalah bapak positivism Kopenhage.Anti-realismenya teleh masuk kedalam penafsirannya pada fisika kuantum. Ia menulis, “tidak ada dunia kuntum,yang ada hanyalah gambaran fisik yang abstrak.Salah sekali untuk menduga bahwa tugas fisika adalah menemukan bagaimana keadaan alam.Fisika hanya berkaitan dengan apa yang bisa kita katakana tentang alam.”
Positivisme membuka jalan pada fisikalisme didalam sains.Pandangan Empiris Bas van Fraassen adalah lingua Franca pada dunia ilmiah abad ke-20.Kriteria “empirical adequacy” diterima bulat-bulat oleh banyak orang sebagai dasar pengetahuan.Fisikalise berusaha membersihkan semua rujukan kepada apa pun yang tidak bersifat fisik dari kamus ilmiah.Dalam bayangnya, alam semesta hanyalah berdiri dari materi dan energy,tanpa ada sifat transcendental apa pun.ketika agama muncul kembali dalam sains popular pada tahun 1970-an dan 1980-an,panteisme menjadi ungkapan sains dan agama yang diterima luas.Ahli fisika, Fritjof Capra dan Gazy Zukau,berhasil memadu mistisisme Timur dan fisika modern secara popular.Karya Best-Seller Capra, The Tao of Physics, dan karya Zukau, The Dancing Wu Li Master, tampaknya menjadi contoh jelek tentang pemikiran religio-ilmiah jika melihat kenaifan para pengarangnya terhadap tradisi teologi Barat.Walaupun tema utama dalam penafsiran teori kuantum dengan panteisme secara teoretis lemah, popularitas karya Capra dan Zulkau menunjukan kebutuhan pokok manusia untuk menemukan makna yang lebih tinggi yang tidak diperoleh dalam pamdangan dunia mekanistis.
Budaya abad ke-20 ditandai dengan geseran lainnya dari saintisme ke posmodernisme sebagai generasi pembrontak yang makin lama makin kecewa dengan sains dan teknologi di tengah-tengah ketidakpastian dan pengangguran.Warawan John Hogan,dalam The End of Science, melukiskan gambaran yang muram tentang masa depan sains.Pesimisme posmodernisnya sejalan dengan perasaan umum dikalangan guru-guru ilmiah yang merasakan bahwa sains murni telah mencapai batasannya.Ahli fsika,Louis Osbourne, di MIT pernah berbicara kepada saya bahwa fisika adalah sains eksperimental terobosan eksperimental sangat bergantung pada kemajaun teknolgi, pada gilirannya,fisika sebagai unsur kecil dalam budaya modern tidak lagi menjadi tuan untuk nasibnya sendiri. Disamping pertimbangan ekonomi dan politik,ada batas pisik pada apa yang dapat dilakukan teknologi untuk memahami tentang keterbatasan sains eksperimental, cukuplah disini diketahui bahwa untuk meguji teori superstring dan the bing bang,diperlukan pemmbangunan akselelator partikel berdimensi 1000 tahun cahaya. Karena alasan ini lah,para ahli fisika percaya bahwa fisika partikel dan kosmologi pada akhirnya akan berhenti sebagai sains dan perlahan-lahan akan menjadi cabang filsafat.
Ujung dari verifikasionalisme secara serius melumpuhkan doktri empirisme ilmiah. Fisika paska perang dingin dihambat oleh krisis anggaran dan munclnya antirasionalisme posmodernis.banyak peramal kiamat meramalkan akhir sains. Walaupun sains sebagai satu usaha harus melakukan penyesuian dalam memenuhi tuntutan ekonominya,sains sebagai ungkapan kritis rasa ingin tahu kita akan tetap menemukan tempatnya dimasarakat selama masih ada pertanyaan-pertanyaan baik yag merangsang imajiniasi kita.pemikiran hidup untuk berpikir.pertanyaan yang baiktidak dapat ditinggalkan, bahwa ditengah-tengah kemiskinan dan keterasingan Kant mengulas sangat medalam tentang watak akal manusia yang selalu bertanya.karena akal manusia, tanpa hambatan yang diakibatkan oleh kesombongan pengetahuan besar,akan selalu bergerak,didorong oleh perasaan kebutuhan,menuju pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh perapan akal secara empiris atau prinsip-prinsip yang ditarik darinya dank arena itu selalu saja ada pada setiap manusia sejenis sistem metafisika.selalu ada saja ilmuan baik yang berpikir bukan karena kebutuhan, melainkan karena kesenangan. Walaupun ilmuan yang tidak beriman cendrung keliru dalam penilaiannya,dengan mencoba memberi makna ciptaan tanpa sang pencipta,upaya ilmiah mereka yang terus menerus kadang-kadang akan memergoki unsure-unsur kebenaran yang membantu meringankan penjelasan pada sifat alam semesta ketika dihubungkan dengan teologi.






BAB 3
PSIKOLOGI DAN  AGAMA

Aku jatuh tertidur, dan ketika tidur, aku bermimpi bahwa aku kupu-kupu. Ketika aku bangun, aku tidak yakin apakah aku manusia yang bermimpi bahwa aku kupu-kupu, atau apakah aku kupu-kupu yang bermimpi bahwa aku manusia, yang bermimpi bahwa aku aku kupu-kupu.
                                                                       -Peribahasa Cina Kuno        
Freud dan Pfister
          Sigmund freud tidak saja dianggap sebagai bapak psikoterapi, tetapi ia juga tokoh ateisme terbesar pada awal abad ke-20. Ia punya banyak kawan seideologi dan seperjuangan. Semuanya mengakhiri persahabatanny dengan pahit, kecuali satu orang yang sangat aneh- Oskar Pfier. Dialah teman terbaik Freud sampai akhir hayatnya.
          Di tengah-tengah kamu intelektual yang ateis, di rumah yang betul sekuler, Pfister satu-satunya pastor. Ketika ia berkunjung pertama kalinya ke apartemen berggages, ke rumah Freud, ia tampak sangat eksotis sehingga Anna, gadis Freud yang berusia empat belas tahun, menganggapnya sebagai “hantu dari dunia asing”. Ia ditahbiskan sebagai pastor di Zurich, Swiss. Untuk menyebarkan iman kristiani kepada jemaatnya, ia mempelajari psikologi. “Tetapi ia setelah membaca Freud, untuk pertama kalinya ia melihat hubungan antara manusia psikologis dan manusia spiritual, hubungan antara makna psyche pada zaman dahulu dan zaman modern, penjelajahan yang kemudian menjadi karya hidupnya sendiri. Didalam ilmu psikoanalisis Freud yang baru, Pfiester kemdian menulis, ‘Fungsi tertinggi kehidupan melangkah di hadapan miskroskop jiwa dan membuktikan asal-usul dan hubungannya, tentang maknanya yang lebih dalam pada keseluruhan peristiwa psikis.’
          “Pfister meneruskan penelitian dan praktik psikoanalisis dan menulis buku teks yang pertama tentang topik itu (yang diterbitkan pada 1913), dan bersahabat dengan Freud. Freud terkenal karena persahabatanya yang mendalam (dengan Jung, Alfred Alder, Wilhem Fliess, dan Otto Rank) yang pada akhirnya berkembang menjadi konflik dan hancur berantakan. Pfiesterlah satu-satunya sahabat dia yang tetap akrab sampai akhir hayatnya. Tetapi, hubungan di antara mereka sering berubah dari sahabat menjadi mitra tanding.
          “Sebagaimana Frued yakin bahwa psikoanalisis adalah alat untuk membasmi agama dan takhayul lainnya, Pfister juga sangat yakin bahwa sang guru telah menemukan kunci perkembangan ruhaniah. Freud menolak seluruh argumentasi kawannya, dan profesi psikoterapeutik bersikap yang sama selama berabad-abad. Tetapi, dewas ini ketika psikologi dan psikiatri dipreteli oleh pemikiran yang berpusat pada ruh, hantu Oskar Pfisrterlah yang tanpak gentayangan ketimbang tokoh-tokoh lainnya yang berada disekitar Freud; karena Pfisterlah mendekati tidak hanya subjek, tetapi hidup itu sendiri dengan akal dan kesadaran batiniah akan Tuhan. Dalam membentuk dirinya menjadi psikoanalisis spiritual-sesuatu yang disumpahi Freud takkan pernah ada Pfister melnjutkan semangat William James dalam psikologi.
          “Jelas sekali, Freud tidak bisa membiarkan sama sekali kontradiksi yang dikemukakan Pfister. Ia menulis manifesto anti agama, The future of an Illusion,sebagian ditunjukan untuk Pfister. Mungkin ia berharap buku itu akan menjadi pukulan telak dalam perdebatan mereka. Namun, ketika buku hampir terbit, Freud tiba-tiba cemas bahwa sahabatnya akan tersinggung. Jadi, ia mengirimkan catatan kecil sebagai peringatan bahwa buku itu ‘akan sangat menyakitkan hatimu’.
          “Tetapi kemampuan pastor itu untuk menyerahkan pipi yang satu setelah pipi lainnya ditampar memang sangat menakjubkan. Ia membaca buku itu dengan gembira, membalasnya dengan sebuah artikel kecil yang berjudul ‘The Illusion of a Future’ dan ia tetap saja mempermalukan Freud dengan menyebutnya, “Tidak pernah ada orang Kristen yang lebih baik dari dia.’
          “Mengapa Pfister percaya bahwa psikoanalisis melengkapi Alkitab? Freud sendiri berkata dalam suratnya kepada Jung: Psikoanalisis sebenarnya adalah ‘penyembuhan melalui cinta ‘. Bagi Freud, tentu saja, cinta dipahami sebagai pelepasan libido. Bagi Pfister, ini hanya sekedar skogan, pandangan sempit ilmuwan yang dipaksakan. Psikoanalisis hanyalah alat; hidup lebih besar daripadanya, dan cinta adalah bahasa kehidupan. Freud mungkin saja ingin menjepitnya deangan teori dan ajaran-ajarannya, tetapi cinta akan meluap keluar sisi yang lain. Karena Freud telah menemukan salah satu jalan rahasia bawah-jalan cinta-Pfister merasa pantas menyebut kawan yahudinya yang ateis ini sebagai Kristen. Tentu saja ia menyebutkannya sebagai pujian, tetapi ia menyebutkannya sebagai pujian tetapi ia juga sadar bahwa pujiannya itu sangat banyak menyinggung perasaan orang tua itu. Ia pun ternyata mampu bertanding.
          “Freud sendiri tidak pernah mengecewakan Pfister, tetapi pada waktu Pfister meninggal dunia tahun 1956, pada usia 80 tahun, ia pasti menyimpan kekecewaan karena karena impiannya untuk memperluas wawasan psikoanalisis ke dalam kehidupan spiritual semuanya sirna.” (Shorto, 1999:48-50)
          Sejarah interaksi antara psikologi dan agama diungkapkan dalam bentuk miniatur pada riwayat persahabatan Sigmund Freud dan Oskar Pfister. Pfreud mewakili psikologi yang memusuhi agama. Sains sudah menjadi agama Freud. Baginya, Darwin dan para ilmuwan lainnya adalah “para santo modern” (Guy,1987:18). Ia bertekad agar hasil karya ilmiahnya tidak diterima sebagai seni atau teori, tetapi sebagai sains, karena “konstribusnya pada sains terletak sains terletak pada perluasan penelitian sampai ke dalam alam mental” (Guy, 1987:48)
          Jika Galileo dan Copernicus membawa sains ke kosmos, Darwin ke spesies, Freud memperluas jangkauan sains sampai ke jiwa paling dalam. Jika kita ingin mengenal jiwa kita sendiri, sebagaimana difatwakan oleh orang-orang arif sepanjang sejarah, kita harus berpedoman pada sains. Lalu dimana posisi agama? Agama hanyalah ilusi, delusi, “universal obsessional neurosis”, proyeksi dari keinginan masa kanak-kanak. Agar perdaban berkembang, ia harus menanggalkan agama dan memuja Tuhan baru, yakni “Logos”. Tetapi, karena “massa” umumnya “malas dan bodoh”, kaum intlektual harus memimpin mereka dengan memberikan teladan (Freud, 1956: 8, 9, 69, 70). Kehidupan Freud sendiri dan psikoanalisis yang dilahirkan adalah teladan utama perlawanan psikolgi pada agama.
          Pfister, seperti Ahli Aikido, menggunakan tenaga lawan untuk menampilkan jalan cinta. Ia menjadikan psikoanalisis yang memusuhi agama menjadi pendukung agama. Lebih dari satu abad, psikoanalisisnya Freud yang seksual berhasil menenggelamkan psikoanalisisnya Pfister yang spiritual. Lewat pertengahan millennium kedua, secara perlahan tetapi pasti, Pfister muncul di permukaan. Tahun 1983, The American Psychiatric  Association mulai memberikan hadiah tahunan Oskar Pfister Award kepada siapa saja yang memberikan “important ciontributtions to the humanistic and spiritual side of psychiatric issues”. Deangan begitu, psikologi dan agama tidak lagi bersanding. Deborah Van Deusen Hunsinger (2011:232) memberikan contoh integrasi antara psikoanalisis dan agama:
          “psikologi keadalam (depth psychology) dan pemahaman tentang jiwa tak sadar juga memberikan kepada kita konseptual untuk memahami peristiwa yang tidak bisa dipahami dengan kerangka teologis, tetapi mempengaruhi kehidupan iman secara dramatis. Baru-baru ini saya mendengar kisah tragis seorang perempuan di sebuah Negara dan budaya yang lain. Para pastor dan pemimpin gereja percaya bahwa perempuan itu kerasukan setan. Ia mendengar suara dan percaya bahwa ia sedang mengandung Isaac, anak yang dijanjikan. Anggota-anggota gereja berdo’a baginya dan bersamanya berkali-kali. Tampaknya tidak satu pun dapat menolong. Akhirnya, mereka menyelengarakan do’a bersama selama berjam-jam dan memukuli dia sampai luka-luka parah, mencoba mengusir kekuatan destruktif  yang tengah menyiksanya. Saudaranya mengetahui peristiwa ini dan berusaha keras untuk menghalang-halangi. Walaupun secara harfiah ia tinggal di bagian dunia yang berbeda dengan saudaranya, ia berkeras untuk menemukan psikolog Kristen yang dapat membantunya.                  
          “Psikolog itu tahu bahwa perempuan itu menderita depresi, kemarahan, kesedihan yang tersembunyikan karena tujuh kali aborsi yang sudah dialaminya akibat desakan keluarga suaminya. Dalam kebudayaan dia, seperti juga dalam banyak kebudayaan pada zaman awal Kristen, semuanya bergantung kepada anak laki-laki. Setiap kali hamil, perempuan itu selalu mengetahui dengan bantuan tes diagnostik modern modern bahwa anak yang dikandungannya perempuan. Suaminya adalah keturunan laki-laki terakhir dalam silsilah keluarganya. Ia bersikukuh agar istrinya terus menunggu sampai ia mengandung seorang anak laki-laki sebelum melahirkan anaknya. Dia dan keluarganya memaksa dia tidak hanya satu atau dua kali, tetapi tujuh kali sehingga kepedihan dan kemarahannya tidak bisa disembunyikan lagi dan mencuat keluar sebagai gejala-gejala ekstrem.”
          Tanpa bantuan psikologi, para tokoh agama akan salah melakukan diagnosis dank arena itu juga tidak dapat membantu umatnya. Van Deusen Hunsinger memberikan contoh tentang perluhnya agama menggandeng psikologi untuk “menyelamatkan” domba-dombanya yang sesat. Inilah yang mendorong Pfister untuk mempelajari psikologi. Hal ini juga sepatutnya mendorong para tokoh agama lainnya. Salah satu makna integrasi ialah memasukan sumbangan psikologi ke dalam kotak ama saleh agama. Makna lainnya ialah memasukkan sumbangan agama pada kotak psikoterapi.
          Untuk makna kedua dari integrasi, saya punya pengalam menarik. Pada dua minggu pertama September 2002, di Basel, Swiss atas undangan Interkulturelle  Gesellschaft fur Seelsorge, saya menyibukkan para peserta dengan salah satu kasus konseling dalam islam. Sekarang, saya ingin anda menyimak kembali kasus itu:
          Aku diundang untuk mengunjungi seorang ayah di rumah sakit. Dokter mengatakan ia mengidap penyakit dalam stadium terminal. Dalam waktu satu minggu, ia bisa kehilangan kesadaraannya dan minggu berikutnya dia akan mati. Dia disarankan untuk mengumpulkan seluruh anggota keluarganya untuk mengadakan perpisahan dengan mereka. Berita itu membuatnya panik, gelisah, dan ketakukatan. Ia tak bisa makan, minum, atau tidur.
          Ketika saya datang, ruangan telah dipenuhi anggota-anggota keluarga. Pasien sedang terbaring tanpa daya. Dengan lembut, saya bertanya kepadanya tentang apa yang merisaukan hatinya. Dengan air mata berlinang, ia berkata, “Usia saya hampir 60 tahun, tetapi saya belum siap untuk mati. Banyak hal yang harus saya selesaikan. Semua anak perempuanku belum menikah.Saya bertanggung jawab untuk menikahkan semua. Sekiranya saya dapat mengajukan permohonan kepada Tuhan, saya akan berdoa agar Ia berkenan memberikan kepada saya cukup waktu untuk menikahkan mereka. Kedua, saya tidak tahu apa yang terjadi pada ruh saya. Saya pernah bekerja du Kalimantan. Jauh dirimba Kalimantan ada sebuah pohon besar. Konon, disitu tinggal banyak arwah selama ratusan tahun. Saya tidak ingin ruh saya tinggal di bumi berkelana tanpa arah. Saya ingin tahu kemana ruh saya pergi setelah kematian saya. Ketiga, saya ini orang yang terbiasa berkumpul bersama keluarga dekat mengunjungi saya setiap hari. Sebagian dari mereka bahkan ikut menginap ditempat ini. Kehadiran meraka saja sudah cukup menggembirakan saya. Kematian akan memisahan kami. Di sana, saya akan sendirian dan kesepian. Terakhir, saya orang yang banyak berbuat dosa dan sedikit melakukan amal saleh. Di sana, pastilah saya mendapat banyak hukuman yang tidak akan sanggup saya tanggung. Penyakit yang saya derita ini saja sudah sangat berat apalagi penderitaan di alam kubur nanti.
          Sekiranya saya seorang psikiater, dengan merujuk pada DSM-V, saya akan menyebut rasa takut yang diderita pada pasien itu sebagai “anxiety disorder with panic attack”. Untuk meringankan beban dia, saya dapat menggabungkan medikasi dan teknik psikoterapi. Saya dapat menyarankan dia untuk mengambil obat-obatan antianxiety, seperti xanax, ativan, dan klonopin. Saya juga akan mengobrol banyak dengannya untuk menemukan berbagai distorsi kognitif, seperti diuraikan Beck (1967) dan Freeman (1987). Tetapi, medikasi, seperti kita ketahui, mengandung efek-efek samping, yang bisa sanggat fatal bagi yang bersangkutan. Terapi kognitif mengambil masa yang cukup lama, padahal pasien kita berada diambang kematian. Sambil mengingat berbagai teknik koping keagamaan yang dirumuskan Pargament (1997), saya mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan merisaukannya dengan jawaban agama. Pada saat yang sama, saya memasukan “intervensi spiritual” seperti do’a, sholat, zikir, bersedekah, dan jalan-jalan keselamtan lainnya seperti yang diajarkan AL-QURAN dan Hadis. (McMinn, 1996, menyebutkan enam intervensi spiritual dalam agama Kristen: prayer, scripture, sin, confession, forgiveness, redemtion.) Dengan begitu, saya telah mengikut sertakan agama dalam proses psikoterapi. Bukankah agama dan psikologi bertemu dalam ruang hidup yang sama: penderitaan. Diranah inilah, psikologi berintergrasi dengan agama.
Dari Integrasi ke Konflik 
          Pada 1981, sebuah resolusi yang disampaikan dan disetujui oleh The National Acedemy Of Sciences menyatakan, “Religion and science are separate and mutually exclusive realms of human thought whose presentation in the same context leads to misunderstanding of both scientific theory and religious belief” (National Acedemiy of Sciences, 1984:6). Resolusi ini meresmikan dan mengabsahkan pemisahan antara sains dan agama. Para penganut independensi (lihat Bab dua) boleh bersorak-sorai; tetapi dalam praktik, perlahan-lahan sains dan agama bergerak menuju tempat rendezvous yang anehnya tampak seperti sebuah déjà vu.
          Déjà vu, menurut kamus, adalah ilusi seakan-akan kita pernah mengalami suatu pengalaman yang sebetulnya baru kita alami. Integrasi psikologi dengan agama bukanlah ilusi. Keduanya pernah bertemu pada awal sejarahnya. Seperti syair Rumi, keduanya pernah berkumpul di rumpun bambu sebelum berpisah menjadi potongan-potongan seruling. Selama abad pertengahan dan ratusan tahun sebelumnya, ditengah-tengah masyarakat selalu ada saja orang-orang yang mempunyai spesialisasi dalam menyembuhkan dan memelihara kesehatan jiwa, cura animarum-perwatan jiwa (Kurtz,1999). Para spesialisnya selalu agamawan.
          Pada abad ke-16, psikologi Barat sangat erat berkaitan dengan pandangan agama. Salah satu cabang ilmu agama adalah pneumatologi, ilmu tentang wujud-wujud spiritual. Pneumatologi di bagi tiga: 1. Ilmu tentang Tuhan, teologi; 2. Ilmu tentang ruh-ruh perantara seperti malaikat dan setan, angenlologi;dan 3. Ilmu tentang ruh manusia (Vande Kemp, 1996). Pada 1524, Marulic menyebut ilmu yang ketiga itu sebagai psychologia. Pada akhir abad ke-16, Cassman menciptakan istilah baru untuk ilmu tentang manusia, antropologia. Ia membaginya ke dalam psychologia, ajaran tentang jiwa manusia, dan  somatologia, ajaran tentang tubuh manusia.
          Kemudian, pada 1879, datanglah Wilhelm Wundt di universitas Leipzig. Ia dianggap sebagai bapak psikologi modern, psikologi yang ditegakkan di atas landasan ilmiah. Dan bukan landasan metafisis. Wundt sendiri memuji Gustav Fechner sebagai pendahulunya dalam psikologimodrn: “Tidak akan terlupakan bahwa Fechner adalah orang pertama mengenalkan eksak, prinsip-prinsip eksak dalam pengukuran dan observasi eksperemental untuk meneliti gejala psikis dan dengan begitu membuka prospek sains psikologis dalam arti kata yang sebenarnya. Jasa utama metode Fechner adalah ini: Tidak ada yang dapata dipahami dari berbagai perubahan sistem filsafat. Psikologi modern harus mengambil watak yang betul-betul ilmiah dan bisa melepaskan diri    dari kontroversi metafisis” (Willber,2000:viii-ix).
          Dari narasi Willber, kita melihat dua sisi yang berlawanan dalam pemikiran Fechner, pada satu sisi, ia memandang manusia sebagai makhluk ruhaniah yang bergerak menuju Tuhan atau ruh universal. Pada sisi lain, ia melihat jiwa manusia sebagai objek yang bisa diukur dan diteliti secara eksperimental. Sayang sekali, sisi spiritual psikologinya terbuang dan terlupakan dalam onggokan sejarah. Seperti yang diuraikan pada bab dua, sains modern dalam seleuruh asumsi metafisisnya menentang keberadaan Tuhan. Barbour (1990:220) menulis, “…. Para pemimpin pencerahan abad ke-18 percaya bahwa manusia adalah juga bagian dari mesin dunia yang serba meliputi; mesin yang operasinya dapat dijelaskan tanpa merujuk Tuhan. Dunia materialistik seperti itu tidak punya tempat untuk kesadaran atau pandangan batin kecuali sebagai ilusi subjektif.”
          Dengan demikian melanjutkan Fechner pada sisi pengukurannya, kamum behaviorisme. Keyakinan yang sama juga dianut oleh psikologis awal umumnya ateis. Freud meninggalkan agama Yahudi dan mendirikan “agama” psikoanalisis. Watson keluar dari Kristen (?) dan menjadi nabi “nabi” behaviorisme. Keyakinan yang sama juga dianut oleh psikolog-psikolog lainnya, seperti Skinner, Hull, Bandura dan Bahkan Rogers.
Menuju Integrasi Lagi    
          Walaupun arus yang menentang psikoanalisis dan behaviorisme mengalir bersama dengan aliran keduanya para pembelot itu tanpaknya muncul di permuakaan pada paruh kedua abad ke-20 di Amerika, ketika kemakmuran material mencapai puncaknya. Di tengah limpahan kehidupan material. Tiba-tiba orang merasakan kehausan. Kehausannya baru, tetapi air yang dirindukannya datang dari masa lalu. Charles Tart (1992:vii) melukisnya dengan bagus: Begitu banyak diantara kita yang kaya tetapi kita masih juga tak puas.
Apa yang bisa lakukan ketika kita berduka cita ?
          Kita bisa menyalahkan orang lain atau keadaan “Ini gara-gara mereka” atau kita bisa melihat kedalam diri kita untuk mengetahui apa yang telah kita perbuat sehingga kita merasa taka puas. Psikoterapi adalah salah satu jalan untuk melakukannya. Kebanyakan orang yang menjalani konseling dan psikoterapi melakukannya karena mereka ingin menjadi “normal”. Mereka ingin merasa nyaman dalam pergaulan, mempunyai pekerjaan, menjadi bagian dari sebuah keluarga, memiliki banyak teman, dihormati, meras aman secara materi, dan sebagainya.
          Namun, pada 1950 dan 1960-an, para terapis mulai menemukan sejenis “pasien” yang baru. Sebuah wawancara menunjukan bahwa pasien baru itu mapan secara material dan sosial. “Aku wakil presiden dari Grsoss and jumbo Corporation; pekerjaanku mapan, dan aku punya jabatan; aku cinta istri dan keluargaku, mereka pun mencintaiku; anak-anakku tak bermasalah; kehidupan seksualku cukup memuaskan; aku dihormati ditengah masyarakat dan dalam pekerjaanku; temanku banyak; aku punya rumah yang besar; tiga set televise, dua buah mobil, dan simpanan uang di bank.”
          Orang-orang ini telah memperoleh segala hal yang dianggap masyarakat dapat mendatangkan kebahagian. Tetapi mereka mengeluhkan hal-hal seperti, “Hidupku kosong.” Atau, “Pati ada sesuatu yang lebih dari semua ini.” Atau “Semuanya tak begitu berarti.” Atau, “Aku merasa hampa.”
          Dengan paragraph di atas, Tart, salah seorang tokoh psikologi transpersonal, mengungkapkan kekecewaan pada psikoanalisis dan behaviorisme. Melalui jembatan psikologi humanistic, Tart menyebrang ke psikologi transpersonal. Di sini, setelah jembatan psikologi eksistensialis. Sambil jalan, kita menengok paying filsafat yang bernama posmodernisme.
Psikologi Humanistis   
          Psikologi humanistik punya akar sejarah yang cukup tua. Tetapi bersama dengan psikologi ekstensialis, ia baru muncul pada 1960-an, membentuk “Angkatan ketiga” dalam psikologi. Angkatan pertama, psikoanalisis, lahir di jerman, ketika sains di puja sebagai juru selamat umat manusia. Angkatan kedua, behaviorisme, lahir di Amerika, ketika metode ilmiah dipercaya sebagai satu-satunya cara mengetahui yang dapat diandalkan. Angkatan ketiga ada yang menyebutnya angkatan keempat dengan menyertakan psikologi kognitif juga lahir di Amerika, ketika kelas menengah Amerika menikmati kemakmuran material dan menderita kekosongan spiritual.
          “Ketika sains menganggap nilai bersifat arbitrer (sewenang-wenang). Hitler tidak dapat dibuktikan salah; menjadi ilmuwan yang baik tidak berbeda dengan menjadi Nazi yang baik; sains menjadi alat yang dapat digunakan setiap orang untuk tujuan apapun (Maslow, 1969:120;1970:16). Pokoknya, dalam pandangan Maslow, sains menjadi busuk ketika ia mencapaikan nilai. Karena itu, tidak heran jika dewasa ini banyak orang takut pada sains.
Psikologi Ekstensialis
          Kalau psikologi menanggalkan metode ilmiah yang positivitis (sains modern), dengan metode apa psikologi melanjutkan perjalanannya? Dengan fenomenologi, kata Carl Rogers, kawan seperjuangan Maslow dalam mazhab humanistic. Secara singkat, fenomenologi berpendapat bahwa bagaimana kita dan apa yang kita lakukan adalah refleksi dari pengalaman subjektif kita terhadap dunia dan diri kita sendiri.
          Diantara dimensi yang khas manusia adalah keinginan untuk mencari makna; Man’s Search for meaning, salah satu judul buku Frankl. Dalam semua bukunya (misalnya, Frankl, 1963, 1975), ia selalu menceritakan pengalamanya di kamp konsentrasi Nazi pada perang dunia II.
          Dalam perjalanan menemukan diri sejati, “true self”, manusia melewati tiga tahap. Kita mulai dari tahap estetik, ketika esensi kehidupan adalah memilih cara hidup kita sendiri. Pilihan kita muncul dalam bentuk murni hedonisme, atau sikap mementingkan diri. (selfishness) yang sudah dikemas budaya sebagai keberasilan hidup.
Psikologi Transpersonal    
          Psikologi transpersonal lahir dan tumbuh di tengah-tengah perubahan politik, budaya, dan agama di Amerika pada 1960-an dan 1970-an. Gelombang yang menuntut persamaan hak, dimulai dari protes mahasiswa terhadap perang Vietnam samapai gerakan ekologi, pembebasan perempuan dan hak-hak kaum homoseksual, melanda seluruh Amerika dan akhirnya menyebrang ke Eropa. Di protes itu, mengalir arus spiritual yang kuat (Ferguson, 1980; Bellah, 1976; Clecak, 1983).
          Gereja-gereja dari kelompok minoritas kulit hitam memberikan inspirasi kepada gerakan persamaan hak. Gereja-gereja dari mayoritas kulit putih bergabung dengan demonstrasi anti-Perang Vietnam. Tokoh-tokoh radikal, seperti jerry rubin, Michael Rossman, Lou Krupnik,, Rennie Davis, dan Noel. 
     Pesona agama-agama timur ini memukau masyarakat akademis, khususnya para mahasiswa yang bergabung dalam semangat “kontrabudaya” waktu itu. Di universitas Duke, seorang mahasiswa asyik membaca Lou Tzu. Ia unggul dalam sport pandai bergaul sehingga ia dipilih sebagai ketua dewan mahasiswa untuk dua universitas yang berlainan. Pada saa yang sama, ia juga menonjol dalam bidang akademis. Kelak, ia menulis buku dan menceritakan masa studinya: “Gairaku yang sebenarnya, semangat terdalamku, diarahkan pada sains. Aku membentuk diri yang ditegakkan di atas logika, di bangun dengan fisika, dan digerakan oleh kimia.” Tetapi, Lao Tzu kemudian membawanya pada tradisi spiritual Timur dan Barat.
Posmodernisme
     Ketika membicarakan hubungan sains dan agama, Ken Wilber (2000: 99-106) menyebutkan lima situasi:
1.      Sains menolak keabsahan agama. Inilah pendekatan baku dari kaum positivis dan empiris yang menjadi aliran utama modernitas. Pada kepribadian yang dewas, kesetian pada agama adalah tanda patologi, kemampuan berpikir logis yang rendah, dan inautentisistas eksistensial. Tuhan tidak ada karena tidak bisa diamati baik oleh mikroskop maupun teleskop.
2.      Agama menolak keabsahan sains. Pandangan ini diwakili oleh reaksi kaum fundamentalis terhadap modernitas. Agama yang klasik tidak pernah menolak sains karena, pertama, sains tidak mengancam agama dan kedua, karena sains selalu dianggap sebagai salah satu di antara berbagai cara untuk mengetahui. Pengetahuan agama dan pengetahuan sains sama absahnya. Tetapi, ketika sains modern menganggap agama sebagai produkdari fantasi masa kanak-kanak, kaum fundamentalis mulai menolak bahkan tidak hanya teori ilmiah , tetapi fakta ilmiah: misalanya, evolusi tidak pernah terjadi, alam semesta diciptakan dalam enam hari, tarikh radiocarbon hanya tipuan, dan sebagainya.
3.      Sains hanyalah salah satu di antara beberapa cara mengetahui yang abash, dan karean itu kadua-duanya bisa berkoeksistensi secara damai. Inilah posisi yang diambail oleh agama-agama zaman dahulu. Para mistikus Kristen, seperti St. Bonaventure dan Hugh dari St. Victor, misalnya, menjelaskan tiga macam mata: mata daging, eye of the flesh; mata jiwa, eye of mind; dan mata ontemplasi, eye of contemplation. Mata daging memberikan pengetahuan empiris (sains), mata jiwa memberikan pengetahuan rasional (logika dan matematika), dan mata kontemplasi memberikan kepada kita pengetahuan ruhaniah (gnosis). Argument ini disebut prulalisme epistomologis.
4.      Sains menawarkan “plausibility argument” tentang eksistensi ruh (spirit). Ini adalah variasi dari pluralisme epistomoogis. Ketika sains empiris memasuki rahasia terdalam dari dunia fisik, ia menemukan fakta dan data yang tampaknya menuntut perluhnya mengikutsertakan Mahaintelegensi yang berada di luar wilayah material. Sebagai contoh, Big Bang; dari mana Big Bang itu berasal? Sudah terbukti bahwa plasma material yang paling awal tanpaknya mematuhi hukum-hukum matematis yang tidak muncul bersamaan dengan Big Bang. Ini bearti bahwa hukum-hukum itu ada “in the mind of some eternal spirits” sebagaimana yang dikatakan oleh Sir James Jeans. Semua sepakat bahwa hukum-hukum ada sebelum ruang dan waktu. Jadi, kalau ada orang bertanya, “Apa yang ada sebelum Big Bang?” Jawabannya adalah logos Non material yang mengatur pola-pola penciptakan. Seacara sederhana kita sebut Dia Tuhan.
5.      Sains itu sendiri bukanlah pengetahuan tentang dunia, tetapi hanyalah penafsiran tentang dunia, dan karena itu segi keabsahan, sains tidak lebih dan tidak kurang dari puisi dan seni. “Inilah esensi postmodernisme. Posmodernisme  mengatakan bahwa dunia tidak dipersepsikan, tetapi hanya ditafsirkan. Berbagai penafsiran sama-sama abash untuk memahami dunia tidak ada penafsiran yang secara intiristik lebih baik daripada lainnya. Sains bukan konsepsi  dunia yang istimewa, melainkan hanyalah salah satu diantara banyak interprestasi yang sejajar; sains tidak menawarkan ‘kebenarnya’, tetapi hanyalah prasangka favoritnya sendiri; sains bukanlah senarai fakta universal, melainkan hanyalah pemaksaan sewenang-wenang dari dorongan berkuasanya. Pada pokoknya sains tidak didasarkan pada realitas lebih baik dari interpensi lainnya. Secara epistomologis, tidak ada perbedaan antara sains dan puisi, logika dan sastra, sejarah dan mitologi, serta fakta dan fiksi.”
          Posmodernisme menghindari konflik antara sains dan agama dengan menghancurkan kedua-duanya sebagai interprestasi yang abash, kita dijatuhkan ke jurang relatisme. Walaupun ada unsur-unsur kebenaran dalam posmodermisme, yang karena keterbatasan tidak kita bicarakan disini, posmoderisme membantu meruntuhkan kepongahan sains modern sebagai satu-satunya cara mengetahui yang terpercaya dan dapat diandalkan.
Bentuk-Bentuk Interaksi Psikologi Dan Agama
          Jones (1997:114) menyebutkan tiga bentuk tradisional yang mengungkapkan hubungan antara psikologi dan agama. Hubungan-hubungan itu selalu bersifat satu arah dengan posisi psikologi di atas agama. Perkembangan baru dalam psikologi mempengaruhi agama sama sekali tidak mempengaruhi agama, tetapi perkembangan pemikiran dalam agama sama sekali tidak mempengaruhi psikologi. Bentuk pertama adalah studi agama yang dilakukan oleh para psikolog. Ini yang kita sebut sebagai psikologi agama. Psikologi agama pernah menjadi bintang studi yang istimewa, khususnya dikalangan agamawan  antara 1880-an sampai 1930-an. Tetapi sejak 1930-an sampai beberapa dasawarsa belakangan ini, psikologi agama dan editor Research on  Religious Dovelopment: Acomprehensive handbook (Strommen, 1971) melaporkan sampai tahun 1984.
Berdasarkan presfektif teisme Kristen tentang person, analisis penelitian menyimpulkan: a. keyakinan akan determinisme (baik dalam pandangan behaviorisme radikal maupun pandangan sosial kognitif yang diperluas), bertentangan dengan kepercayaan Kristiani akan kebebesan berkehendak manusia yang terbatas; b. atomisme radikal dari terapi behavioral dengan memilah-milah dari kedalam komponen-komponen, seperti kebiasaan, proses, dan prilaku, mengecilkan peranan pemahaman tentang rasional dari kedirian (selfhood); c. pandangan behavioral tentang motivasi manusia dan pemahaman kaum behavioral serta penilaian mereka terhadap rasionalitas merendahkan apa yang dipandang oleh para ateis sebagai potensi manusia yang lebih tinggi; dan d. pendekatan kaum behavioral yang tidak bermoral tidak dapat menggambarkan kesulitan.
KOTAK 3 PSIKOLOGI SAINS MODERN DAN TRADISI AGAMA TEISTIK
PSIKOLOGI SAINS MODERN
Naturalisme dan ateisme; tidak ada wujud tertinggi atau pengaruh spiritual transenden.

Determinisme; perilaku manusia seluruhnya disebabkan oleh kekuatan diluar control manusia untuk mengendalikannya.

Universalisme; Hukum-hukum alam, termasuk hukum perilaku manusia, lepas dari konteks, berlaku dalam semua waktu, ruang dan orang satu fenomena tidak nyata jika tidak dapat digeneralisasi dan diulangi.

Reduksionisme dan atomisne; semua perilaku manusia dapat direduksi atau di bagi menjadi bagian-bagian lebih kecil.

Materialism dan Mekanisme; Manusia adalah mesin yang terdiri dari dari bagian-bagian material dan biologis yang bekerja sama.

Relativisme Etis; tidak ada kaidah-kaidah etik atau moral yang universal atau mutlak. Nilai selalu terikat budaya, apa yang benar dan baik berbeda-beda bergantung pada situasi individual dan sosial.

Heodnisme Etis; manusia selalu mencari ganajaran (kesenganan) dan menghindari hukuman (penderitaan). Inilah proses penilaian yang pokok yang terdapat dalam perilaku manusia.

Realisme Klasik dan Positivisme; Alam semesta bersifat nyata dan dapat dipersepsi secara cermat dan dipahami oleh manusia. Sains memberikan satu-satunya pengetahuan yang abash. Teori-teori ilmiah yang dapat di buktikan benar berdasarkan bukti empiris

Empirisme; Pengalaman indriawi memberikan manusia satu-satunya sumber pengetahuan yang terpercaya. Tidak ada yang dapat dikatakan benar atau riil kecuali jika dapat diamati melalui pengalaman indriawi  atau alat-alat ukur.


TRADISI AGAMA TEISTIK
Teisme; Ada wujud tertinggi dan pengaruh spiritual

Kehendak Bebas Manusia mempunyai kemauan dan kemampuan untuk memilih dan mengatur perilakunya walaupun pengaruh biologis dan lingkungan dapat membatasinya.

Kontekstualitas; Walaupun ada hukuman alam yang lepas dari konteksnya, ada juga hukum-hukun alam yang terikat konteksnya (artinya hanya berlaku dalam satu konteks dan tidak ada konteks dan tidak pada konteks yang lain). Ada fenomena riil yang kontekstual, tidak kasat mata, dan bersifat khusus. Fenomena tersebut tidak dapat daiamati secara empiris, tidak dapat digeneralisasikan, atau diulangi, misalnya, pengalaman spiritual transenden).

Holisme; Manusia lebih dari sekedar kumpulan bagian; ia tidak dapat dipahami dengan mereduksikannya atau membaginya ke dalam unit-unit yang lebih kecil.

Ruh dan Jiwa Transesnden; Manusia terdiri dari ruh dan tubuh, jiwa dan raga. Manusia tidak dapat direduksikan menjadi fisilogi atau biologi saja.

Universal dan Mutlak; Ada kaidah-kaidah moral dan etis yang universal, yang mengatur perkembangan psikologis dan spiritual yang sehat. Sebagian nilai lebih sehat dan lebih bermoral daripada yang lainnya.

Altruisme; manusia sering mengesampingkan ganjaransendiri (kesenangan) demi kesejetraan orang lain. Tanggung jawab, pengorbanan, penderitaan, cinta, dan perkhidmatan altruistic dinilai di atas pemuasan pribadi.

Realisme Teistik; Tuhan adalah kekuatan terakhir dialam semesta yang mengendalikan dan kreatif. Tuhan dan alam semesta hanya dapat dipahami manusia secara parsial dan tidak sempurna. Metode ilmiah hanya bisa bisa mendekati sebagaian aspek realitas dan harus ditransandenkan dengan cara-cara mengetahui yang spiritual ke berbagai wilayah.

Pruralisme Epistomologis; Manusia dapat menemukan kebenaran melalui berbagai macam cara mengetahui , termasuk otoritas, akal, pengalaman, indriawi, intuisi, dan inspirasi. Ilham dari Tuhan adalah sumber abash-absah pengetahuan dan kebenaran.  





BAB 4
PSIKOLOGI VERSUS AGAMA

Psikologisme Ateisme
Saya mulai dengan Nietzten dan  karena barangkali ia adalah ateis dunia  yang paling terkenal. terutama sekali ,ia secara damatis menolak agama Kristen dan Tuhan kristiani. Ucapannya yang paling terkenal , “Tuhan sudah mati,”dkenal jutaan orang. Ia sangat sibuk memikirkan agama sepanjang hidupnya dan berkali-kali secara terus menerus melecehkan gagasan Kristen dan orang yang mempercayainya. 
Nietzsche dilahirkan di sebuah desa kecil di saxoni, Prusia (Jerman), 15 Oktober 1844. Ia anak seorang pastor Lutheran.  Ayah friedrich, pastor Ludwig Nietzsche, meninggal pada 30 Juli 1849, dua atau tiga bulan sebelum ulang tahun  Nietzsc  yang kelima. Pastor Ludwig  sejak setahun  sebelum karena penyakit otak. Ketika berusia 24 tahun, Nietzsche menulis bahwa ayahnya , “Mati terlalu cepat. Aku kehilangan petunjuk akal yang tegas dan tinggi dari se3orang lelaki.” Nietzcshe menghubungkan dengan sangat jelas ketika ia menulis: “Ayahku mati pada usia 36tahun: ia lembut, penuh kasih dan muram, seakan –akan ia di takdirkan untuk lewat sebentar saja di dunia sisa-sisa kehidupan bukan kehidupan itu sendiri.”
Filsafatnya dapat ditafsirkan sebagai perjuangan intelektual untuk mengatasi kelemahan ayahnya yang Kristen, kelemahan yang tampak sering menghantuinya, seperti dalam mimpi yang perna ia alami pada 1850, enam  bulan sebelum ayahnya mati dan hanya beberapa saudaranya yang masih bayi mati:
Mengapa Psikologi Memusuhi Agama?
Pada tingkat ekstrem, psikologi menuduh agama sebagai sumber penyakit mental, dogmatism, prasangka rasial dan tindakan kekerasan .
Persaingan Perhatian
Pertama, dalam perjalanan sejarah , keduanya  telah menjadi pesaing  satu sama lain.dahulu, menurut kehidupan.
Pandangan Psikologi Yang Negatif Terhadafp Agama
Agama  yang dogmatis, ortodoks, dan taat atau yang mungkin yang kita sebut sebagai kesalehan berkolerasi sangat signifikan dengan gangguan emosinal.
Pandangan Agama Yang Negatif Terhadaf Psikologi
Arogansi psikolog seperti Ellis mengundang reaksi yang keras dari pihak agama. William Kilpatrick menyesal para agamawan yang mencampurkan atara psikologi dengan agama.
Keyakinan Agama Para Psikolog
Sejalan dengan sains dan teknologi, sekularisasi perlahan lahan menyeret agama kepinggiran kehidupan dibarat, eropa lebih cepat sekuler  ketimbang Amerika.

Pada kebanyakan Eropa, frekuensi pergi ke gereja  dan terlibat dalam kegiatan Agama menurun sekali pada setengah abad terakhir ini dan paling rendah sekarang ini gereja . gereja  Kristen hampir kosong  di Eropa Utara,”kata Hoge (1997: 23).Di Amerika, menurut galluv pol, 1993 suklaresasi ini tampaknya tidak banyak mengalami kemajuan.

Agama Menurut Para Psikolok Sekuler

Sepanjang sejarahnya, tidak henti-hentinya, muncul pemikiran psikologi yang melengkapi ateisme freud dan dengan spiritualitas pfister.

JAMES LEUBA

Agama Sebagai Irasionalitas  Dan Patologi

Psikolog yang paling memusuhi agama tradisional tetapi juga paling informative dan persuasive adalah leubah. Sejumlah tulisanya tentang psokologi agama menentang dalam kurun waktu setengah abad. Ia menyimpulkan bahwah kaum mistikus setelah pengalaman keagamaan seperti itu bersifat naïf dan khayali.

B.F SKINNER

AGAMA Sebagai Perilaku Yang Diperteguh
“Skinner menambahkan jenis pelazinman yang lain. Ia menyebutnya operant conditioning. Kali ini subjeknya burung merpati. Skinner menyimpannya pada sebuah kotak atau yang dapat di amati. Merpati di suruh bergerak sekehendaknya. Suatu saat kakinya menyentuh tobol kecil pada dinding kotak. Makanan keluar dan merpati bahagia. Mula-mula merpati itu tidak tahu hubungan antara tombol kecil pada dinding dan datangnya makanan. Sejenak kemudian, merpati tidak sengaja menytentuh tombol dan makanan turun lagi. Sekarang, bila merpati ingin makan, ia mnendakati dinding dan menyentuh tombol. Sikap manusia seperti itu pula. Jika setiap anak menyebut kata yang sopan, kita segera memujinya, anak-anak itu kelak akan mencintai kata-kata sopan dalam komunikasinya. Jika pada waktu mahasiswa membuat prestasi yang baik kita menghargainya dengan sebuah buku yang bagus, mahasiswa akan meningkatkan prestasinya. Proses memperteguh respon yang baru dengan mengasosiasikannya pada stumuli tertentu berkali-kali itu di sebut peneguhan (reinforcement). Pujian dan buku dalam contoh tadi di sebut penegug (reinforce).
GEORGE VETTER
Agama Sebagai Respon Pada Situasi Tak Terduga
Menurut Vetter, agama tidak punya nilai untuk memberikan keselamatan. Ia menulis secara khusus sebuah buku untuk menganalisis agama secara behavioral dengan semangat yang libih mengebu-gebu ketimbang Leuba dan Skinner. vetter menjabarkan berbagai alasalas anuk penilaiannya yang negative terhadap agama; konsepsi naïf tentang Tuhan yang bersivat antromorpis; peperangan dan kebiadapan lainnya yang di lakukan atas nama agama sepanjang sejarah; keterbelakangan pengetahuan para tokoh agama berkenaan dengan masalah-masalah sosial; kegagalan iman keagamaan dalam menunjukkan hubungan empiris yang konsisten degan perilaku moral (kadang-kadang keimanan secara positif mendorong orang untuk berbuat baik dan memberikan pertolongan, tetapi juga secara negative mendorong orang untuk melakukan penghianatan dan kejahatan); korelasi institusi agama dalam bidang sosial politik dan penghamburan kekayaan sumber daya termasuk uang, waktu, dan tenaga manusia yang di lakukan oleh institusi agama.
SIGMUND FREUD
Agama Sebagai Pemuasan Keinginan Kekanak-Kanakan
Menurut Freud, agama di tandai dengan dua ciri yang menonjol: kepercayaan yang kuat pada Tuhan dengan sosok Bapa yang ritus-ritus wajib yang di jalankan secara menjelimet. Freud memperhatikan adanya sifat-sifat ritual yang tampaknya konfulsit, aura kesucian yang meliputi ide-ide agama dan kecenderungan orang yang beragama untuk merasa berdosa dan takut akan hukuman Tuhan. Dari situlah Freud membandingkan unsur-unsur ini dengan gejala obsesif neurosis, yang ia pandang sebagai mekanisme pertahanan dalam menhadapi implus yang tidak dapat di terima.
KOTAK 4      SARIPATI TEORI FREUD
                                    TENTANG AGAMA (FULLER, 1968: 35-70)
Doktrin Agama sebagai Ilusi
Freud menegaskan agama sebagai ilusi ia juga menandai agama sebaimana yang akan kita lihat sebagai delusi psikotis dan kompulsi neurotis. Ilusi,kata Feud tidak dengan sendirinya bertentangan dengan fakta. Delusi bertentangan dengan realitas; ilusi boleh jadi sesuai atau bertentangan dengan realitas. Dan ilusi boleh jadi di wujudkan. Ilusi di tandai, kata fFreud dengan ciri khusus, yakni berasal dari keinginan. Kepercayaan di sebut ilusi bila pemuasan keinginan menjadi “factor penting dalam motifasinya”. Menginginkan atau memuaskan keinginan adalah kegiatana membayangkan objek yang mengurangi tegangan. Ilusi muncul dari imajinasi. Karena itu orang ingin menginginkan sesuatu apabila orang menginginkan sesuatu itu. Dan orang menginginkan sesuatu dengan menbayangkan objek yang pada masa dahulu yang memuaskan kebutuhan dia, yakni dengan mengingat objek itu. Freud mengatakan bahwa pemuasan keinginan di namai juga “berfikir proses primer”, sedangkan “berpikir proses sekunder” adalah cara ego menghadapi lingkungan dengan berorientasi pada realitas. Bermimpi minum air adalah contoh berpikir primer, atau menginginkan, sedangkan mengambil segelas air adalah contoh berpikir proses sekuler.
Sudah di tunjukkan sebelumnya bahwa Freud, ketika mendefinisikan isi, secara sengaja menyimpan dalam kurung masalah ilusi yang berpengaruh pada realitas. Apa yang kita rindukan dan kita “impikan” kadang-kadang ada hubungannya dengan realitas gelas air dalam mimpi kita, misalnya dan kadang-kadang tidak surge di bumi, misalnya. Menginginkan ialah mengingat: objek yang pernah mengurangi ketegangan di dalam hidup kita. Betapapun banyak distorsi atau penambahan, kegiatan imajinasi kita akan menimbulkan pengalaman masa lalu pada waktu sekarang. Karena bermimpi minum air, kita ingat air, bermimpi tentang surge, kita ingat hari-hari bahagia.
            Dengan menerapkan konsep berpikir proses primer atau “menginginkan “ pada agama, Freud menyatakan bahwa agagasan agama adalah pemuasan keinginan manusia yang paling kuat dan paling penting. Ajaran agama yang tidak berhasil baiak dari pengalaman maupun pemikiran tentang hal-hal tersebut adalah ilusi. Kekuatan ilusi terletak dalam kemampuannya memuaskan kenutuhan dan mengurangi ketegangan. Semua gagasan agama itu ilusi dalam pandangan Freud; pruduk imajinasi memberikan rasa lega luar biasa dari ketegangan; pemuasan kebutuhan yang mendesak yang tidak dapat di benarkan atau di salahkan; kebutuhan yang mendesak untuk di puaskan. Freud mengambarkan kebutuhan yang di penuhi oleh ilusi atau doktrin agama sebagi berikut: hidup sulit. Peradapan memaksa kita harus meninggalkan pemuasan kebutuhan kita yang pokok. Yang lain mengganggu kita. Alam mengancam kita denga kekuatannya yang tidak bisa di jinakkan. Kegelapan kubur menunggu kita, yang baik pergi tanpa memberi tahu, bahkan ketika yang jahat mengumpulkan banyak keuntungan. Kemanapun kita pergi, terror kehidupan dana alam semesta mengancam kita. Hatga diri kita yang rusak memerlukan perbaikan. Rasa ingin tahu kita meminta jawaban.
                        Manusia dewasa menderita karena kelemahan dan ketidakberdayaan. Tetapi, kata Freud, dahulu kita juga pernah lemah dan tidak berdaya; waktu kita masih keci. Ketika muda, walaupun kita takut Bapak, kita tetap saja bersandar pada perlindungan dam pemeliharannya sikap gamang terhadap bapak itu sangat penting dengan psikologi agamanya Freud. Keperluan seorang anak akan perlindungan bapak di bangkitkan kembali karena perasaan tak perdaya, yang konon menjadi keburuhan anak yang paling kuat. Masa kanak-kanak dan dewasa, kelemahan dan ketak berdayaanya, berkaitan secara fundamental. Situsi tak berdaya ketika kita dewasa hanyalah kelanjutan dari prototipe kenak-kanakan, situasi tak berdaya seperti anak-anak. Ketakberdayaan anak-anak ini dalam pandangan Frud di takdirkan memburu kita sepanjang hidup kita.
Hakikat Keinginan
            Freud berkata bahwa sebagia anak-anak, kita belajar membangun hubungan personal dengan orang yang ingin kita pengaruhi. Kita memanggil kembali pelajaran hidup yang awal ini, ketika pada waktu dewasa kita mempersonifikasikan daya-daya alam yang mengancam. Ketika menghadapi keunggulan kekuatan perkasa ini, dank arena kita kitak mungkin memperlakuykan kita sejajar dengan kita, kata Freud. Maka kita nisbatkan kepada wataknya bapak. Maka orang yang dalam masa kecil kita, dalam setiap hal, adalah Tuhan. Menurut Freud kita ubah kekuatan-kekuatan alam menjadi Tuhan, meneladani bapak. Kekuatan alam yang perkasa dan bapak yang bersifat Tuhan di gabungkan. Sang bapak dalam pandangan ini adalah Tuhan yang pertama dan asli, model bagi Tuhan agama berikutnya. Tuhan-Tuhan kemudian ini, menurut laporan Freud, memang  “seperti Tuhan” mereka mengambil citra Tuhan yang asli pereti bapak. Manusia di ciptakan tidak dalam citra Tuhan seperti di sebutkan dalam kitab kejadian, tetapi sebaliknya, Tuhan yang agama di ciptakan dalam citra bapak. Semua Tuhan adalah seperti bapak, dalam pandanagn Freud, tetapi tidak semua bapak seperti Tuhan.
            Kebutuhan akan perlindungan adalah motif di belakan semua upaya untuk mengubah kekuatan alam menjadi Tuhan, mengikut cita bapak. Freud berkata bahwa kita tidak pernah menunggalkan bapak, sosok ilahi yang memberikan kepuasan dan perlindungan. Dalam keadaan masik tak berdaya dan masih memerlukan, orang dewasa masih menempel kepada bapak, masih merindukan bapak dan perlindungan cintanya. Ketika kita tak berdaya dan masih menempek kepada kenangan bapak, kita membayangkan kehadiran dan perlindungannya dari bahaya yang mengancam kita pada setiap belokan. Kita menginginkan menggambarkan sama besarnya, sama kuatnya, dengan Tuhan. Kita mengingatnya sebagai sosok yang sama kuatnya seperti yang kita alamin ketika kita masih kanak-kanak, dan dia masih tetap lebih berkuasa dan maha kuasa. Kebutuhan kita terpenuhi, ketegangan kita berkurang, melalui menginginkan, melalui ilusi. Apa yang kita inginkan supaya indah, dapat menghapus ketakberdayaan kita di hadapan terror kehidupan dan alam serta membuat kita bahagia, tidak menjadi fakta, melaui aktifitas imajinasi kita. Bapak yang dikenal dan kekuatan alam sekarang ini di imajinasikan satu sama lain. Sekarang, kita dapat menghubungkan diri dengan kekuatan alam sebagai person Tuhan-Tuhan dan melalui praktik-praktik yang di lakukan dengan kepasrahan kita dalam membujuk mereka dan mempengaruhinya.
Doktrin Agama
            Peradaban, menurut Freud telah menciptakan serangkaian gagasan utama agama. Doktrin-doktrin ini, yang lahir dati kebutruhan utnuk meringankan pukulan yang menyertai kelenahab dank e takberdayaan orang dewasa, harus di kontruksi dengan berfikir proses primer, berdasarkan ingatan yang dapat di lacak pada situasi lemah dan tak berdaya pada masa katak-kanak, dari kenangan orang dewasa tentang citra bapak.
            System ilusi agama (doktrin agama), yang di berikan peradaban kepada para anggotanya dalam bentuk jadi dan tanpa usaha apapun dari mereka, tampaknya memasukkan kepercayaan kepada kecerdasan yang maha tinggi dan maha saying, kehidupan sesuadah mati, huku-hukum moral yang mengatur alam semesta, pemebrian pahala kepada perbuatan baik dan hukuman kepada perbuatan buruk (gagasan tentang “tatanan dunia moral”). Menganut gagasan seperti itu, ulas Freud, akan menyembuhkan ketakberdayaan manusia dan penderitaan yang menyertainya. Kecerdasan yang tinggi itu di percayai mengatur peristiwa “di bawah ini” dengan tujuan yang akan di berikan kebahagiaan puncak kepada kita. Kita di jamin bahwa apapun yang hilang pada kita di dunia ini akan di ganti ribuan kali di surge. Jawaban diberikan terhadap masalah-masalh barat, seperti masalah kejahatan dan makna eksistensinya. Kematian di anggap hanya sebagia perpindahan kepada kehidupan baru yang lebih agung. Kebijakan utama, kebaikan tak terthingga, dan keadilan ilahi yang di nisbatkan kepada Tuhan atau Tuhan-Tuhan yang menciptakan kita. Dianggap berada di mana-mana alam semesta. Kepercayaan seperti ini meringankan masa sulit dari ketakutan, kekerasan, dan derita kehidupan serta menimbulkan rasa lega yang luar biasa sebagaimana ST. Paul berkata, “duhai kematian dimanakah sengatanmu?” tanpa ilusi agam tak terhitung individu, yang kehilangan satu-satunya hiburan mereka dalam kehidupan tidak akan sanggup melanjutkan kehidupan.
Kegagalan Agama
            Freud berkata bahwa agama, melalui ajaran-ajaran seperti “kamu di larang mrmbunuh” telah berjasa besar bagi  peradaban. tetapi, agama belum cukup melakukannya setelah menguasai kehidupan manusia selama ribuan tahun,setelah mempunyai banyak kesempatan untuk  membuktikan diriny,agama,dalam pandangan freud, belum berhasil menciptakan kebahagian ,menghibur manusia,atau mengadapkan mereka.ia menemukan bukti untuk pandangan ini pada sejumlah besar orang di zamannya yang kecewa dengan peradaban. Freud juga  tidak punya alas an untuk ber pendapat bahwa orang akan lebih bahagia kalau hidupnya diatur agama; mereka juga tidak dengan sendirinya lebih bermoral ia menuimbang tinjukan bahwa dalam perkembangan sejarah, agama lebih banyak mendukung tindakan tak bermoralal ketimbang tindakan bermoral.secara keseluruhan, mengikuti freud, afama sudah gagal.
Harga yang Harus di Bayar untuk Ilusi Agama
Hidup denga ilusi agama, fikir Freud, melumpuhkan kekuatan manusia. Ia menemukan kontras yang sangat menyedihkan antara “kecerdasan cemerlang anak yang sehat” dan “kelumpuhan intelektual dari rata-rata orang dewasa”. Ia menisbahkan “atropi relatif”. Ini kepada pendidikan agama. Ia tidak heran menyaksikan kelemahan intelektual pada mereka yang mengambil doktrin agam secara tidak kritis, denga segala kejanggalan dan kontradiksinya. Ia menemukan bahaya yang lebih besar tidak dalam melepaskan gama, tetapi dalam berpegang terguh kepadanya.
Perkembangan Sikap Dewasa
Freud yakin bahwa infatilisme yang terbukti dalam kepercayaan agama dapat di atasi. Kita tidak bisa tinggal sebagai kanak-kanak terus menerus. Ia berpendapat bahwa orang akan mampu menjelakah (kehidupan yang luas) dan menghadapi apapun seperti apa adanya, ketimbang membahayakan seperti apa seharusnya. Orang akan kembali pada realitas dan belajar bertumpu pada sumber daya sendiri. Ketika itu terjadi, ketika orang kembali dari dun ia hayal yang lain kepada dunia yang ada di depan hidung mereka, energy yang memadai di yakini akan terlepas dan membuat hidup dapat di terima secara ikhlas.
            Freud berharap agar akal menjadi iklator dalam kehidupan manusia. Walaupun “mengutamakan akal” mungkin masih jauh di masa depan. Freud berfikir bahwa kita akan sanggup mencapainya. Ia menyatakan bahwa akan berusaha mencapai hal-hal yang sekarang ini di harapkan dari Tuhan. Mencintai sesame manusia dan mengatasi penderitaan. Freud menegaskan “Tuhan kita, logos akan mencapai tujuan ini sepanjang yang di mungkinkan oleh alam”. Freud berpendapat bahwa dalam perjalanan kepada pemerintak akan di masa depan, kepercayaan agama akan di kesampingkan. Ia berkata bahwa dalam jangka lama, aka nada pengalaman yang harus menaklukkan agama beserta seluruh kontradiksinya. Akal (sains)harus mnaklukikan imajinasi (ilusi). Sejarah menunjukkan bahwqa makin banyak pengetahuan yang di peroleh, makin sedikit kepercayaan agama mengendalikan agama. Hanya sains yang sanggup memberikan poengetahuan tentang realitas ekternal dalam pandangan Freud hanya akal (logos) yang dapat menjadi pembimbing kita. Freud tidakj membenarkan tuntunan lain di atas akal.
Doktrin Agama sebagai Delusi
Freud menganggap fenomena agama sebagai sisa-sisa kehidupan (survival) dan kehidupan kembali (revival) masa lalu; kembalinya yang terlupakan setelah gejala-gejala neorotis. Setiap bagian yang kembali tampak membalikkan kekuatan dan pengaruh yangh sangat besar, seperti apa saja yang telah mengalami tekanan kemudian balik lagi. Fenomena agama adalah seperti, dan bahklan sebagai gejala psikopatologis, yang merupakan “kembalinya refresi” jadi, menurut Freud itulah asal usul kwalitas konfulsif dalam doktri ritus dan moralitas agama.
            Ritual keagamaan semuanya konfulsi berguna untuk perlindungan dalam menghadapi kemalangan yang terduga. Dan dengan begitu menghilangkan kecemasan. Resep moral agama adalah larangan berfungsi untuk menolak godaan dan karena itu menghindarkan munculnya kembali rasa bersalah. Doktrin agama, menurut Freud, adalah delusi. Yang di sebut delusi sebahimana yang kita ketahui adalah gagasan yang bertentangan dengan realitas, kepercayaan yang tetap di pegang walaupun bertentangan dengan semua bukti yang ada. Delusi, kata Freud, selalu menampilkan sebagian dari kebenaran sejarah yang terlupakan. Freud memandang sifat konfulsif dari kepercayaan delusi dari dasar kjebenaran tak sadar.
            Walhasil, walaupun doktrin agama tidak mempunyai landasan sedikitpun dalam realitas ekternal doktrin-doktrin itu mengandung inti kebenaran sejarah yang kembali, dan itulah yang membuat orang mempercayai Freud berkata, kesadaran bahwa doktrin keagamaan mengandung esensi kebenaran sejarah pernah peningkatkan kebenaran kepada agama. Tetapi, kebenaran tersebut, ketika kembali sebagai delusi, selalu mengalami distorsi dan penggambaran yang keliru. Freud menyatakan bahwa kebenaran sejarah yang terkandung dalam doktrin agama telah di sembunyikan secara sistematis sehingga hanya segelintir kecil orang yang mampu mengetahuinya. Sebagai refresi yang kembali dalam bentuk tersembunyi kembali dalam bentuk distoeri kepercayaan agam adalah kompromi, sama seperti ritual keagamaan dan moral.
Yang kembali dengan kekuatan dan pengaruh yang besar dalam doktrin agama, dalam pandangan Freud, adalah “dosa asal” manusia. Itulah sebabnya doktrin ini menuntuk keimanan dan menolak setiap keberatan logika. Proses ini, kata Freud, harus di pahami sebagai delusi yang terjadi pada kondisi psikotis tetentu. Gagasan monoteistik tentang “Tuhan Yang Maha Esa” misalnya, adalah kembalinya masalalu yang direpresi, memori yang di distorsi yang untuk itu orang tidak punya pilihan kecuali mempercayainya pada saat ia kembali. Sebagi kehidupan kembali dari masa lalu, kepercayaan kepada satu Tuhan adalah kebnaran historis (bukan kebenaran material). Sebagai distoris kebenaran masa lalu, kepercayaan ini adalah psikotis. Freud memandang agama tidak hanya sebagai “mass compulsive neurotis”, tetapi juga “mass delusional psychosis”.
Masa Depan Agama
Freud berharap bahwa akal yang sudah tercerahkan atau logos akan menggantikan agama ilusi yang sudah di ceritakan pada pengembangan sikap dewasa. Freud berpendapat bahwa agama yang di dasarkan pada refresi dan konfulsi pernah berjasa pada kemanusiaan dalam mengendalikan naluri, dan khusunya tindakan kekerasan. Pengendalian naluri menurut Freud, adalah batu penyanggah peradaban. Tetapi ia berpendapat sydah dating masanya untuyk menggantikan fungsi refresi yang irisional dengan “operasi intelek yang rasional”; persis yang terjadi dalam psikoterapi. Akal di takdirkan harus menggantikan rasa sekali lagi menunjukkan keyakinan akan Freud akan keunggulan di atas rasa. Rasio mengatasi reflesi pertama kaliu dengan melepaskan cengkramannya yang tersembunyi pada kehidupan manusia dalam nenyadarinya lalu mengambil alih dari reflesi pengendalian naluri manusi yang liar dan dengan menegakkan aturan hidup bersama.
            Freud melihat agama sebagai masa transisi antara masa kanak-kanak dan fase perkembangan manusia yang dewasa. Yang menunjukkan bahwa neurosis konfulsif masa kanak-kanak, yang disamakan dengan agama, cenderung menhilang secara serentak dalam proses perkembangannya. Ia berpendapat bahwa hal yang sama secara tak terhindarkan akan tumbuh dari “universal confulsipe neurisis”. Bahkan, kemanusiaan sekarang inib sedang berada di tengah-tengah pertumbuhan seperti itu. Fenomena agama, kata freud, adalah “peninggalan agama”.




BAB V
PSIKOLOGI PRO-AGAMA

New truths go throygh three stages. First they are ridiculed, second they are violently opposed, and then, finally, they are accepted as self-evident.
_ Athur Schopenhauer
Namanya Thomas Agosin. Ia tidak terkenal,tetapi ketika ia meninggal pada 1991, pada usia 43 tahun, upacara penguburan di selenggarakan di PBB. Berpuluh bus mengangkut orang dari berbagai kalangan, dari para pejabat kota hingga gelandangan pecandu narkoba.
Mengapa Psikologi Mendekati Agama
Penelitian Agama Dan Kesehatan Mental
Salah satu sebab mengapa psikologi menjauhi agama ialah kenyataan bahwa selama lebih dari 70 tahun dan sampai sekarang di kalangan “mainstream” psikologi dan psikiatri-agama di anggap sebagai hal yang tidak sehat secara fisik maupun mental. Belakangan ini, Bergin (1983) melakukan metalisis pada hasil-hasil penelitian tentang agama dan kesehatan mental.ia menyimpulkan bahwa “jika religiusitas di korelasikan dengan ukuran keehatan mental, dari 30 efek yang di temukan, hanya 7 orang atau 23% menunjukan hubungan negatif antara agama dan kesehatan mental,seperti dinyatakan oleh Elis dan lain-lain. Sebanyak 47% menunjukan hubungan positif, dan 30% hubungan zero. Jadi, 77% dari hasil penelitian bertentangan dengan teori efek negatif agama”. Secara singkat, Koenig (1999) melaporkan dalam bukunya, The Healing Power Of Faith, bahwa keluarga yang religius umumnya:
1.      Punya keluarga yang lebih bahagia
2.      Punya gaya hidup yang lebih sehat
3.      Dapat mengatasi stres
4.      Hidup lebih lama dan lebih sehat
5.      Terlindungi dari penyakit kardiovaskular
6.      Punya sistem imun yang lebih kuat
7.      Lebih sedikit menggunakan jasa rumah sakit
Selain itu, khusus untuk kesehatan mental, yang ,menjadi perhatian para psikolog dan psikoterapis, agama perlu dipertimbangkan dan di pelajari karena 5 alasan yang di kemukakan Koenig (1998):
1.      Dengan mengetahui latar belakang dan pengalaman keagamaan pasien, terapis akan lebih memahami konflik yang terjadi pada diri pasien. Misalnya, pasien yang sedang bergulat menghadapi perasaan bersalah tidak akan berhasil di sembuhkan dengan psikterapi tradisional. Dengan meneliti latar belakang agama pasien, psikolok mengetahui bahwa pasien dibesarkan dalam keluarga fundamentalis yang exstrime. Pasien menderita karena ketakutan akan akibat dosanya.
2.      Dengan mengetahui latar belakang keagamaan pasien dan peranan yang di mainkanya pada kehidupan sekarang, terapis akan dapat melakukan intervensi kognitif dan bihavioral dengan cara-cara yang dapat di terima oleh sistem kepercayaan pasien.
3.      Pengetahuan tentang komitmen, prilaku, dan kepercayaan agama pasien akan membantu terapis untuk mengidentifikasi sumber daya agama yang sehat, yang bisa di percaya untuk melengkapi terapi tradisional.
4.      Pengalaman agama yang negatif sebelumnya, dapat merintangi pasien untuk menggunakan sumber daya imanya dalam mengatasi persoalan hidupnya yang sekarang. Mempelajari dan membntu pasien mengelola pengalaman negatifnya itu dapat membebaskan dia untuk sekali lagi menggunakan sumber daya agamanya.
5.      Menyentuh masalah keagamaan akan menyampaikan kepada pasien kesan bahwa terapis tidak hanya lengkap dan menyeluruh dalam penilain diagnostiknya, tetapi juga ia peka pada wilayah kehidupan pasien yang sangat bermakna bagi orang yang bersangkutan.
Perubahan Paradigma Sains
Pada akhir abad ke-19, pandangan dunia Newtonian   di gantikan perlahan-lahan oleh pandangan Dunia Einsteinian. Asumsi ontologis bahwaada realitas tunggal di luar kita, yang bisa kit amati secara objektif, di tumbangkan dengan penemuan-penemuan baru dalam mekanika kuantum. Realitas dapat di lihat sebagai fungsi gelombang yang tidak dapat di realisasikan.
Penelitian Neurologi dan Kesadaran
Penelitian neurologis menunjukkan bahwa Tuhan bukanlah produk proses deduktif kognitif, melainakn “ditemukan” dalam peretmuan mistikal atau spiritual yang di ketahui oleh kesadaran manusia melalui mekanisme oikiran yang transenden. Dengan kata lain, manusia tidak secara kognitif menciptakan Tuhan yang maka Kuasa dan kemudian bergantung kepada penemuan ini untuk memperoleh perasaan bahwa dia menegendalikan situasi. Tuhan, dengan definisi istilah itu, adalah paling luas dan pokok dialami dalam spiritualitas mistikal.
Agama dalam Pandangan James dan Jung
WILLIAM JAMES
Agama sebagai Jalan Menuju Keunggulan Manusia
William James boleh di sebut sebagai bapak Psikologi Agama. Bukunya, The Varieties of Religious Experience, merupakan pembahasan agama pertama yang paling mendalam dan komperehensif. James berpendapat bahwa agama mempunyai peranan sentral dalam menentukan perilaku manusia. Dorongan beragama pada manusia, kata James, paling tidak sama menariknya dengan dorongan-dorongan lainnya. Bahkan, sekalipun peneliti tidak aktif menjalankan agamanya, menurut James, ia patut memberikan perhatian kepada agama sebagai suatu fenomena penting di dalam suatu kehidupan.
C.G. JUNG
Agama Sebagai Jalan Menuju Keutuhan
Jung terkenal karena kesimpulannya dari pengalaman merawat ratusan pasiennya yang kebanyakan Protestan, untuk periode ke tiga puluh tahun. Jung menyimpulkan:
Diantara semua pasienku pada paruh hidupnya yang ke dua-yakni di atas 35 tahun-tidak ada seorangpun yang masalahnya akhirnya tidak berkaitan dengan pencarian pandangan kehidupan yang religius. Tidak salah satu di katakan bahwa semuanya jatuh sakit karena mererka telah kehilangan apa yang di berikan agama kepada penganutnya pada setiap abad, dan tidak seorangpun dapat betul-betul di sembuhkan kalau tidak memperoleh kempali pandangan keagamaan.
KOTAK 5        SARIPATI PANDANGAN JUNG
                           TENTANG AGAMA (FULLER, 1994: 71-111)
Agama
Jung mendefinisikan agama sebagai keterkaitan antara kesadaran dan proses psikis tak sadar yang punya kehidupan tersendiri. Agama, menurut Jung, adalah “kebergantungan dan kepasrahan kepada fakta pengalaman yang irasional”. Agama adalah “pertimbangan dan pengamatan yang cermat” pada “faktor dinamis”, yang adalah “kekuasaan”; pada tenaga-tenagatak sadar-arketip; dan pada simbol-simbol yang mengungkapkan kehidupan tenaga-tenaga ini; pada yang batiniah, yakni “gerakan dinamis”di luar kendali kesadaran. Agama menghubungkan kita denganmitos abadi yang dalam proses menciptakan keserasian antara ego dan non-ego. Agama lebih lanjut ditandai dengan cara bagaimana kesadaran di ubah karena berhubungan dengan yang batiniah.
   Cara untuk mencapai Tuhan, dan karena itu mencapai keutuhan, di katakan harus pelalui penjelajahan setiap hari dan mengikuti kehendak Tuhan.inilah apa yang membentuk sikap agama, menurut Jung, hakikat agama sebenarnya. Jung berpendapat bahwa kita menemukan individualitas kita yang sejati tidak melalui praktik-praktik keagamaan kolektif, tetap melalui individuasi (aktualisasi diri). Dengan mengembangkan agama,”Yang memiliki karakter individual”, menurut Jung, tidak ada pengalaman agama yang berbeda. Pengalaman agama mendatangkan makna, vitalitas, dan kepuasan kehidupan, yang menyebabkan segala sesuatu tampak dalam keindahan baru.
   Kesadaran satu sisi-rasionalisme Barat misalnya-dapat menimbulkan perkembangan perlawanan yang berbahaya pada yang tak sadar. Jung berkata bahwa penyerbuan dri yang tak sadar sebagai balasan tindakan kekerasan yang dilakukan kesadaran (akal) akan menimbulkan penderitaan spiritual yang sangat parah, intense spiritual suffering. Ketika kesadaran di kuasai, ia berhadapan dengan bahaya di hilangkan atau di kuasai oleh yang tak sadar. Menurut Jung, agama dan magic dibuat untuk memenuhi kemungkinan ini dan memperbaiki kerusakan yang di timbulkan. Agama adalah “sistem penyembuhan penyakit psikis”.
Simbol Agama
Sejak Pencerahan, ujarJung, agama telah di kntruksi secara rasional sebagai sistem filsafat, yang “dicetak” dalam otak. Orang beranggapan bahwa pernah ada seseorang menciptakan Tuhan dan berbagai dogma agama. Karena dia memiliki kekuasaan mempengaruhi yang sangat besar, ia meyakinkan orang-orang do nsekitardia tentang citra realitas yang “memuaskan keinginan”. Jung menantang pandangan ini dengan berdalih bahwa bukanlah yang menciptakan simbol-simbol agama, melainkan hati, daerah tak sadar psyche-karena itulah mengapa simbol-simbol ini, yang menyeluruhnya misteri bagi kesadaran, datang kepada kita sebagai “wahyu” atau revelation.
   Simbol-simbol agama, kata Jung, adalah manifestasi psikis yang “alamiah” dengan kehidupan organis dan perkembangannya sendiri selama berabad-abad. Ia menunjukkan bahwa bahkan sekarangpun kita menemukan simbol-simbol agama yang autentik tumbuh seperti bunga, dari alam tak sadar. Symbol-simbol ini menampakkan dirinya baik dalam bentuk maupun isi, seakan-akan muncul dari psyche tak sadar yang sama pada permulaan agama-agama besar dunia. Keuniversalan dan keefektifan simbol-simbol agama di sebabkan “mengekpresikan secara tepat” alam tak sadar yang menjadi asalanya. Kebenaran agama termasuk bagian dari konstitusi psikologi yang esensial. Ide-ide agama yang dikodifikasikan (dogma), tidak lagi merupakan ciptaan yang sadar dan di wariskan secara membuta melalui tradisi, tetapi berasal dari pertimbangan cermat-arketip definisi agama dari Jung yang di ungkapkannya. Arketip, yang selalu menimbulkan efek, tidak perlu di percayai. Makna dan pentingnya harus di serap dengan intuisi. Apabila kita berhubungan dengan akar tak sadar kita, simbol-simbol agam menjelaskan fungsinya yang awal untuk mengusir bahaya pembalasan dendam alam tak sadar. Melalui simbol-simbol ini, alam talk sadar kolektif membebaskan kesadaran yang terluka karena perjuangan hidup.
Doktrin Agama
Khutbah teologis, kata Jung, adalah mitologem, serangkaian citra arketipal yang memberikan “gambaran yang agak tepat tentang transendensi yang tak terbayangkan”. Jung berkata bahwa setiap ajaran agama (system doktrin atau ajaran) muncul pada satu sisi, atas dasar pengalaman yang batiniah, dan pada sisi yang lain, atas dasar kepercayaan pada pengalaman itu dan perubahan yang di timbulkannya dalam kesadaran. Kepercayaan adalah formalisai (kodifikasi) dari pengalaman religious yang awal, yang timbul dari kontak dengan yang tak sadar. Bahwa arketip sama dengan dogma agama, menurut Jung, dapat di tunjukkan secara empiris.
Ritual Keagamaan
Jika doktrin adalah pernyataan simbolis, ritual adalah tindakan simbolis. Seperti simbol pada umumnya, Jung melihat ritual sebagai sesuatu yang secara spontan muncul dari, dan mengungkapkan, sumber tak sadar. Dalam ritual, kata Jung, orang meletakkan dirinya di bawah perintah agen yang abadi dan otonom di luar kesadaran dan kategorinya. Ritual bertindak seperti wadah yang menerima isi tak sadar. Banyak ritual, menurut catatan Jung, mempunyai maksud untuk menimbulkan efek batiniah. Ritual, sebagai perantara simbolis antara talk sadar dan sadar, adalah cara yang aman untuk menghadapi tak sadar. Ritual membawa jiwa tak sadar kepada jiwa sadar sehingga melindungi jiwa sadar dari bahaya jiwa tak sadar. Tetapi, ritual melakukannya dengan tepat sehingga tak sadar tidak menguasai kesadaran.
Individuasi 
Jung mendefinisikan individu sebagai proses yang membawa individu kepada posisi yang ke situ ia menuju. Dari kepompong menjadi kupu-kupu, dari berudu menjadi katak, dari anak ke dewasa. Individuasi adalah proses mengelarkan diri seperti manusia lainnya, tetapi dengan caranya sendiri yang unik. Tugas kita dalam kehidupan, kata Jung, adalah pada satu sisi. Mengaktualisasikan kemanusiaan kita secara ekstensif dan pada sisi yang lain, membedakan diri kita dari orang lain dan berdiri di atas kaki sendiri. Individuasi mencapai tujuan akhirnya dalam mengalami apa yang di sebut jung sebagai “pribadi”, self. Pribadi adalah keseluruhan kesadaran dan ketaksadaran, kepribadian dalam keseluruhannya. Mencapai diri berate menggerakkan titik pusat kepribadian dari ego yang terpecah dan terbatas kepada “titik hipotetis” antara kesadaran dan tak sadar. Untuk mencapai diri, pusat dari kepribadian seluruhnya, ego harus berputar di sekitarnya sebagaimana bumi berputar mengeliloingi matahari. Realitas diri lebih luas dari ego samp[ai tingkat yang tak terhingga sehingga ego kecil dan sempit, “seperti lingkaran kecil di dalam lingkaran besar”. Individuasi-dalam istilah Jung, merupakan padanan dari realisasi atau aktualisasi-diri merupakan tujuan perkembangan biologis dan psikologis kita. Setiap kehidupan di takdirkan sejak awal untuk mewujudkan keseluruhan, yakni pribadi. Dengan aktualisasi pribadi, kecenderungan awal menuju keseluruhan menjadi peristiwa psikis. Individuasi adalah menghasilkan dan menggelarkan keutuhan yang semula bersifat potensional. Ego bukan saja berangkat dari pribadi sebagai asal-usulnya, bukan hanya “aku” tetapi pada “pribadi”, melainkan ego juga bergerak menuju pribadi sebagai tujuan tertingginya. Mewujudkan diri adalah dorongan terkuat dan hukum alam yang sejati. Jung berpendapat bahwa arketip pribadi tanpak di mana-mana dalam mitologi, dan juga dalam fantasi individu pada abad ke-20.
   Pengalaman  pribadi sering membawa kita kepada pengalaman keabadian, perasaan kekekalan atau imortalitas. Pribadi berate kesadaran lebih tinggi. Menurut dygaan Jung, timbulnya kepribadian lebih tinggi ini membawa orang kepada kesadaran untuk melepaskan diri dari dunia sebagai persiapan alamiah menghadapi kematian. Proses ini terjadi pada pertengahan kehidupan kira-kira pada usia 35 tahun. Kehidupan menjadi “hidup menuju mati”; mati di mulai sebelum kematian itu sendiri dan mati adalah pemenuhan makna hidup. Jung berkata bahwa agama pernah menjadi sekolah untuk orang yang berusia 40 tahun-an tetapi, sekarang ini agama tidak lagi menjalankan tugasnya. Akibatnya, orang-orang harus memilih caranya sendiri. Paruh kedua kehidupan sama bermaknanya dengan paruh poertama, menurut pandangan Jung, harus maknanya berbeda. Kedua paruh ini harus di jalanio sesuai dengan maknanya masing-masing. Akna kehidupan bagi kita terletak dalam memahami dunia ekternal, membangun keluarga dan sebagainya. Anak muda kehilangan paruh hidupnya yang pertama jika ia tidak bersedia menghadapi di dunia ini dan berjuan untuk kehidupannya dengan seluruh kemampuannya. Tetapi, berkutat pada program pagi hingga kehidupan petang kita akan menimbulkan kerusakan batiniah di dalam diri kita. Seorang tua kehilangan paruh hidupnya yang kedua jika ia tidak mampu mendengarkan “rahasia gemercik sungai” yang mngalir dari bukit kelembah. Dari pertengan hidup, selanjutnya seseorang di katakana betul-betul hidup, menurut Jung, hanya jika ia bersedia “die with life”. Untuk memandang kehidupan sebagai pemenuhan makna hidup, sebagi tujuan yang sebenarnya dan bukan hanya akhir kehidupan, sejalan dengan “psike kolektif” umat manusia. Jika tak sadar tidak mempersoalkan kematian, tetapi ia berkepentingan denga cara bagaimana kita amati, dengan cara bagaimana kita amati, dengan cara bagaimana kita menyelesaikan urusan kita dengan orang lain.

KOTAK 6        EFEK AGAMA PADA KESEHATAN FISIK
                           DAN MENTAL (KOENIG, 1997)
Konklusi dan Realisis
Berdasarkan penelitian yang tealh di lakyukan sebelumnya, kita sampai pada kesimpulan yang agak tentative tentang hubungan agama dan kesehatan. Salah satu kesimpulan yang dapat kita nyatakan dalam tingkat keopercaytaan yang tinggib adalah bahwa agama adalah, terutama yang di dasarkan kepada kepercayaan Judeo-Kristiani, tidak berpengaruh negative terhadap kesehatan. Tentu saja tidak termasuk kesini cult, seperti yang terlibat dalam pembantaian Jonestown dan Waco, juga kelompok-kelompok agama yang menyimpang dan berada di pinggiran masyarakat atau di luar tradisi agama yang sudah mapan. Tidak ada satupun penelitian yang mendukung pengaruh negative pada kesehatan mental dan fisik dari kehadiran gereja, sembahyang, membaca al kitab, atau keterlibatan dalam ritus-ritus keagamaan, terutama sekali yang terjadi dalam konteks tradisi agama Judeo-Kristiani.
Efek pada kesehatan Mental
Secara umum,kesalehan mengikuti kegiatan agama, baik sendirian ataupun bersama, berhubungan dengan kesehatan mental yang baik. Secara spesifik:Sejumlah besar penduduk amerika (sekitar 20-40%) mengatakan bahwa agama ialah salah satu dari factor penting yang membantu mereka mengatasi situasi hidup yang penuh stress.
·           Penggunaan agama sebagi perilaku koping berkaitan dengan harga diri yang lebih tinggi dan depresi yang lebih rendah, terutama di kalangan orang-orang yang cacat fisik. Agama juga dapat meramalkan siapa yang akan tau tidak akan mengalami depresi.
·           Komitmen agama yang taat (terutama keberagman intrinsic) berkaitan dengan tingkat depresi yang lebioh rendah, penyembuhan dari depresi yang lebih cepat, kesejahteraan dan moril yang lebih tinggi, harga diri yang lebih baik, locus control yang internal, perkawinan yang bahagia, penyesuaian diri yang lebih cepat pada pasien yang menbderita dimensia atau kanker stadium akhir.
· Pengunjung gereja atau sinagog yang rajin, nberkaitan dengan 40-50% pengurangan resiko depresi, tingkat bunuh diri lebih rendah, tingkat kecemasan lebih rendah, tingkat alkoholisme dan penggunaan zat adiktif lebih rendah, di bdukung sosial yang lebih tinggi; kebahagiaan, penyesuaian, dan kesejahteraan yang lebih besar, harga diri yang lebih tinggi, kepuasan hidup yang lebih tinggi, dan meramalkan perasaan positif 12 tahun kemudian pada orang dewasa muda.
·  Kegiatan agam sendirian, seperti sembahyang dan mmbaca alkitab, berkaitan dengan kesehatan yang lebih besar, kepuasan hidup yang lebih tinggi, kecemasan mati yang lebih rendah, dan tingkat alkoholisme dan penggunaan obat yang lebih rendah gula.
Efek pada Kesehatan Fisik      
Efek keparcayaan dan pengalaman agama pada kesehatan fisik sama dengan pada kesehatan mental. Pada umumnya, orang yang beragama lebih sehat daripada yang tidak. Secara spesifi:
·  Pada tingkat tertentu penyakit kronis, lelaki yang lebih religious menganggap kemampuannya untuk berfungsi secara lebih tinggi daripada orang yang tidak religious.
·  Frekuensi kunjungan ke gereja dapat meramalkan tingkat ketidakmampuan fisik yang lebih rendah pada orang-orang tua, pada satu, dua, atau tiga tahun berikutnya.
·  Keberagaman meramal penyembuhan lebih cepat dari praktur tulang paha (diukur dari beberapa meter berjalan dan status ambulans pada saat keluar dari rumah sakit).
·  Intensitas kepercayaanh agama dan kehadiran di tempat ibadah berkaitan dengan tingkat sakit yang lebih rendah seperti yang di rasakan oleh pasien kanket stadium akhir.
·  Keberagaman berkaitan dengan tingkat merokok yang lebih rendah.
·  Kehadiran di gereja dan persepsi tentang pentingnya agama berkaitan dengan tekanan darah yang lebih rendah, baik sistolik maupun diastolic.
·  Kehadiran di gereja (mingguan atau lebih sering) berkaitan dengan resiko serangan jantung yang lebih rendah. Ortodoksi dan keagamaan kehadiran gereja berkaitan dengan infraksi neokordial yang lebih sedikit dan tingkat kematian karena penyakit jantung coroner tang lebih rendah.
·  Koping kegamaan berkaitan dengan tingkat kematian yangt lebih rendah setelah pembedahan jantung dan tingkat kematian yang lebih rendah pada umumnya.
·  Doa penyembuhan terbukti menimbulkan komplekasi-kordiopaskular yang lebih rendah setelah di masukkan ke unit perawatran jantung, walaupun mereka mekanisme efek ini (jika benar) belum di ketahui.
·  Kelompok agama tertentu punya tingkat kangker yang lebih rendah di sebabkan oleh cara makan, gaya hidup, dan barabngkali tingkat komitmen keagamaan; efek protektif ini tampoaknya berlaku pada sedluruh komunitas, mempengaruhi bahkan orang yang tidak seagama.
·  Orang yang tampak religious tampaknya memiliki secara keseluruhan tingkat mortalitas lebih rendah pada lebih 80% penelitian yang meneliti hubungan agama dan kesehatan fisik.

No comments: