BAB I
APAKAH AGAMA ITU?
Seorang lelaki menemui rasulullah
saw. dan bertanya, “Ya Rasulullah apakah agama itu?” Rasulullah SAW bersabda,
“akhlak yang baik.” Kemudian.Ia mendatangi nabi SAW. Dari sebelah kanannya dan
bertanya, “ya Rasulullah, apakah agama itu?’ dia bersabda, “akhlak yang
baik.”kemudian , ia mendatangi Nabi SAW. Dari selah kirinya, “apakah agama
itu?” dia bersabda, “akhlak yang baik.” Kemudian, ia mendatanginya dari
belakang dan bertanya, “apa agama itu” Rsullah SAW. Menoleh kepadanyadan bersabda,
“belum jugakah engkau mengerti? Agama iti akhlak yang baik. Sebagai
misal,janganlah engkau marah”
Penampakan Agama
Agama hadir dalam penampakan
yangbermacam-macam sejak sekadar ajaran akhlak hingga ideologi gerkan, sejak
perjalanan spiritual yang sangat individual hingga tindakan kekerasan yang
massal, sejak ritus-ritus khidmat yang menyejukkan hingga ceramah-ceramah
demagog yang menyesakkan. Oleh karena itu, kesulitan pertama dalam meneliti
agama secara ilmiah ialah menemukan definisi agam yang akurat dan dapat di
terima setidak-tidaknya oleh kebanyakan orang.
Kesulitan
Mendefinisikan Agama
Etnosentrisme
Mukti Ali,,mantan mentri agama
republik indonessia,menulis, “agama adalah percaya akan adanya tuhan yang maha
esa dan hukum-hukum yang diwahyukan kepada kepercaya utusan-utusannya untuk
kebahagian hidup di dunia dan di akhirat.” .jelas sekali, ali tidak sedang berbicara tetang agama dalam arti umum. Dia
sedang mendefinisikan agama seperti yang dilihatnya dalam agama islam.
Kita dapat menyunting definisi agama
yang dikemukakan mukti ali dengan menghilangkan kata yang maha esa, seperti
desifinisi keperlahi james
Martineau;”agama adalah kepecrayaan kepada Tuhan yang selalu hidup, yaknii
kepada jiwa dan kehendak ilahi yang mengatur alam semesta dan mempunyai
hubungan moral dengan umat manusia.” Dalam agama-agama ini, kepercayaan kepada
tuhan yang personal tidak berpean sama sekali supaya agama masuk, para ilmuan
mengganti kata Tuhan dengan”kuasa yang transenden”,”kuasa-kuasa diatas
manusia”,”Sesuatu diluar”,”realitas resenden”,”realitas super
natural”.pembahasan tentang tuhan dan
konsep-konsep lain yang sejenis itu lazimnya disebut teologi
Kompleksitas
Definisi adalah batasan;”dan agama sangat sulit
dibatasi.Agama bersifat kompleks.Leuba,Menulis buku klasik psikologi agama,The Psychological Study of Religion,mengumpulkan
48 Definsi Agama hamper se-abad yang lalu.Ia
defenisi agama pada tiga kategori:intelektualistik(menegaskan
kepercayaan),voluntatarisi(menekankan kemauan),dan afektivistis(menyangkut
perasaan).
Ciri-ciri
khas Agama,characteristic features of region:
1.
Kepercayaan kepada
wujud supranatural(Tuhan)
2.
Pembedaan antara objek
sakral dan profan.
3.
Tindakan ritual yang
berpusat pada objek sakral.
4.
Tuntunan moral yang
diyakini ditetapkan oleh Tuhan.
5.
Perasaan yang khas
Agama (pemujaan,ketakjuban),yang cendrung bangkit ditengah-tangah objek sakral
atau ketika menjalankan ritual yang dihubungan dengan gagasan ketuhanan.
6.
Sembahyang dan
bentu-bentuk komunikasi laiya dengan Tuhan,
7.
Pandangan dunia atau gambaran
umum tentang dunia secara keseluruhan dan tempat individu didalam
tempatnya.gambaaran ini mengandung penjelasan terperinci tentang iujuan
menyelruh dari dunia ini idan petunjuk
tentang bagaimana individu menempatkan diri di dalamnya.
8.
Pengelolaan kehidupan
yang bersifat menyelruh, yang didasarakan padadu pandangan dunia tersebut
9.
Kelompok sosial yang diikatbersama oleh hal-hal diatas.
Keragaman
Ada ribuan Agama di dunia. Seperti
disebutkan di atas,i Agama Budha,Shinto,dan Konghuchu tidak mempersoalkan
Tuhan.Tidak semua agama juga mengatur hidup secara
menyeluruh.Islam.Kristen,Yahudi boleh
diklaim oleh sebagian pengikutnya mengatur seluruh hidup dibawah undang-undang
Illahi.Tetapi sebagian islam berkata .Nabi Muhammad SAW. Pernah menyerahkan
urusan dunia kepada pengikutnya.Nabi hanya mengatur urusan Ibadah saja.”kalian
lebih tahu urusan dunia kalian”.Yesus pernah berpesan”berikanlah kepada kaisar
apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu
berikan kepada Allah”.
Disisi lainnya, ada orang yang menganggap bahwa
agama baginya adalah urusan politik yang menyangkut semua anggota masyarakat.
Ada yang berpendapat agama hanya menyangkut urusan ibadah dan pemujaan Tuhan
saja. Ada juga orang yang sependapat dengan penyair Kahlil Gibran dalam The
Prophet.
Adakah yang lain yang
aku bicarakan hari ini?
Bukankah agama adalah
semua tindakan dan semua renungan.
Dan bukan hanya
tindakan maupunrenungan, melainkan ketakjuban dan pesona yang muncul dari dalam
jiwa, bahkan ketika tangan membelah batuan atau merajut tenunan
Siapakah yang dapat
memisahkan iman dari tindakan, kepercayaan dari pekerjaan.
Siapa yang dapat
menyebarkan jam-jam. Dia di hadapan-Nyadan berkata, “Ini untuk Tuhan dan ini
untukku sendiri; Ini untuk jiwaku dan ini untuk tubuhku?”..
Kehidupan keseharianmu
adalah kuilmu dan agamamu.
Ketika kamu masuk ke
dalamnya, ikutlah seluruh diri kamu bersamamu.
Definisi Agama dari
Perspektif Psikologi
Menurut
George Coe
Secara
sengaja saya tidak memberikan definisi formal agama.. sebagian karena definisi
sangat sedikit mengandung informasi tentang fakta; sebagian lagi karena sejarah
definisi agama hampir dapat memastikan bahwa setiap upaya baru untuk membuat
definisi selalu mempersulit bab-bab pendahuluan ini.
Akan tetapi, kita tidak dapat
melanjutkan pembicaraan tentang agama tanpa menjelaskan lebih dahulu apa yang
kita maksud. Katakanlah, kita ingin meneliti cinta dan pengaruhnya pada
kesehatan jiwa. Kita harus mendefinisikan dahulu apa yang di sebut cinta. Tanpa
kita ketahui apa cinta itu sebenarnya, penelitian kita akan melantur ke sana
kemari. Kita harus membuat definisi cinta lebih dulu. Kita akan segera
kebingungan karena cinta ternyata sukar di definisikan. Cinta bukan untuk di definisikan;
cinta adalah untuk di rasakan. Jadi, bagaimana kita meneliti cinta tanpa
mendefinisikannya?
Agama
Personal dan Sosial
Agama muncul di tengah-tengah kita
sebagai pengalaman persnal dan sebagai lembaga sosual. Pada tingkat personal,
agama agama berkaitan dengan apa yang anda Imani secara pribadi, bagaimana
agama berfungsi dalam kehidupan anda, bagaimana pengaruh agama pada apa yang
anda pikirkan, rasakan dan lakukan.
Pada
tingkat sosial, agama dapat kita lihat pada kegiatan kelompok-kelompok sosial
keagamaan. Mereka bisa saja berafilasi dengan agama-agama dunia atau sekadar
berkaitan dengan agama-agama dunia atausekedar berkaitan dengan sekte atau
kelompok sempalan tertentu.
Fungsi Agama dan
Substansi Agama
Kita
dapat melihat agama melalui dua pendekatan:
a. Substantif
Secara substantif kita bertanya.
“Apa yang di yakini atau di percayai oleh individu dan umat dari agamanya?”
b. Fungsional
Secara fungsional jika kita
bertanya “Apa peran agama dalam kehidupan personal dan masyarakat?”
Jika definisi substansi menghubungkan
agama dengan Tuhan atau konsep=konsep sejenis, definisi fungsional
menghubungkan agama dengan upaya manusia menjawab maslah-masalah kehidupan,
masalah eksistensional.
Konseptualisasi Agama
dalam Matriks
|
|
Fungsi
(1)
|
Substansi
(2)
|
|
Personal
(1)
|
Apa saja yang memenuhi tujuan keagamaan individu;
1.
seperti,
memberikan makna
2.
mengurangi
rasa bersalah
3.
menambahrasa
bersalah
4.
memberikan
bimbingan moral
5.
membantu
menghadapi maut,dsb
|
Kepercayaan individu yang khusus. Kesadaran personal
akan adanya yang sakral, transenden, dan ilahi.
|
|
Sosial
(2)
|
Apa saja yang
menjalankan fungsi agam di masyarakat. Berjalannya proses kelompok dalam
kelompok agama.
|
Perumusan ajran agama yang resmi. Konsensus kelompok
tentang kepercayaan dan praktik. Sikap di hadapan publik yang di ambil
gereja, sinagog, mazhab, sekte.
|
Psikografi Agama
Psikografi adalah peta keberagamaan.
Dalam peta itu, kita menguraikan keberagamaan dalam rangkaian bagiannya.
Kembali lagi pada analogi cinta. Untuk membuat psikografi cinta, kita uraikan
cinta menjadi empat bagian;
·
Perhatian
·
Penghormatan
·
Kasih sayang
·
Kepercayaan
Untuk
menyusun psikologi agama, kita urai agama menjadi lima deimensi,yaitu;
ideologis, ritualistis, eksperiensial, intelektual, dan konsekuesional.
Dimensi
Ideologis
Kepercayaan atau doktrin agama adalah
dimensi yang paling dasar. Inilah yang membedakan suatu agama dengan agama yang
lainnya, bahkan suatu mazhab dalam suatu agama dari mazhab lainnya.
Dimensi
Ritualistik
Dimensi keberagamaan yang berkaitan
dengan sejumlah perilaku di sebut dimensi ritualistik. Yang di maksud perilaku
di sini bukanlah perilaku umum yang di pengaruhi keimanan seseorang, melainkan
mengacu pada perilaku-perilaku khusus, yang di tetapkan oleh agama (beribadah).
Dimensi
Eksperensial
Dimensi ini berkaian dengan perasaan
keagamaan yang di alami oleh penganutb agama. Pengalaman keagamaan ini bisa
saja terjadi sangat moderat, seperti kekhusyukan di dalam shalat atau sangat
intens seperti yang di alami oleh kaum sufi.
Dimensi
Intelektual
Setiap agama memiliki sejumlah
informasi khusus yang harus yang harus diketahui oleh para pengikutnya.
Dimensi
Konsekusional
Dimensi konsekusional menunjukkan
ajaran agama dalam perilaku umum, yamg tidak secara langsung dan secara khusus
di tetapkan agama (seperti dalam dimensi ritualistik). Inilah efek agama dari
perilaku individu dalam kehidupannya sehari-hari.
Catatan
Terakhir
Paloutzian mengklasifikasikan pengikut
agama berdasarkan dimensi-dimensi ideologis (keoercayaan), intelektual
(pengetahuan), konsekusional (akibat agama).
Hubungan
antara kepercayaan dan pengetahuannya:
1. Iman
berpengetahuan: ada iman ada pengetahuan.
2. Iman
buta: ada iman, tidak ada pengetahuan.
3. Penolakan
berpengetahuan: tidak ada iman, ada pengetahuan.
4. Penolakan
buta: tidak ada iman, tidak ada pengetahuan.
Klasifikasi manusia berdasarkan
hubungan iman dan pengetahuan, dimensi ideologis, konsekusional, pada empat
golongan:
1. Mukmin
konsisten: ada iman dan ada amal.
2. Munafik:
tidak ada amal.
3. Agostik
moral: tidak ada iman, tetapi beramal baik.
4. Non-Mukmin
Konsisten: tidak ada iman, dan tidak ada amal.
KOTAK
I DEFINISI
AGAMA
Agama dalam The
Encyclopedia of Philosophy:
“Agama adalah kepercayaan kepada Tuhan yang selalu hidup, yakni
kepada jiwa dan kehendak ilahi yang mengatur alam semesta dan mempunya hubungan
moral dengan umat manusia.”
_James
Martinean
“Agama adalah pengakuan bahwa segala sesuatu adalah manifestasi
dari Kuasa yang melampaui pengetahuan kita.”
_Herbert
Spencer
“Agama saya maksudkan sebagai upaya menyenangkan atau berdamai
dengan Kuasa dia atas manusia yang di percayai dapat mengarahkan dan
mengendalikan jalannya alam dan kehidupan manusia.”
_J.G.
Frazier
“Agama hanyalah upaya mengungkapkan realitas sempurna tentang
kebaikan melalui setiap aspek wujud kita.”
_F.H.
Bradley
“Agama adalah etika yang di tinggalkan, dinyalakan, dan diterangi
oleh perasaan.”
_Mathew
Arnold
“Bagi saya, agama paling baik di gambarkan sebagai emosi yang di
dasarkan pada keyakinan akan harmoni di antara diri kita dan alam semesta
secara keseluruhan.”
_J.M.I
Mc Taggard
“Pada hakikatnya agama adalah disposisi atau kerangka pikir yang
murni dan luhur yang kita sebut sebagai kesalehan.”
_C.P.
Tiele
“Agama seseorang adalah ungkapan dari sikap akhirnya pada alam
semesta, makana tujuan singkat dari seluruh kesadarannya pada segala sesuatu.”
_Edward
Caird
“Beragama berarti melakukan dengan cara tertentu dan sampai
tingkat tertentu penyesuaian vital (betapapun tentatif dan tidak lengkap) pada
apapun yang di tanggapi atau yang secara implisit atau eksplisit di anggap
layak di perhatikan secara serius dan sungguh-sungguh.”
_Vergilius
Ferm
(The
Encyclopedia of Philosophy 7, entry “Religion”)
BAB
II
AGAMA DAN ILMU
PENGETAHUAN
Einstein dan Agama
”Kita ingin tahu tidak saja bagaimana alam itu dalam
prosesnya,tetapi kita juga ingin tahu mengapa alam ini begini dan tidak dalam
bentuk lainnya”,kata Einstein,nama yang melambangkan raksasa ilmu
pengetahuan.ketika bergerak dari pertanyaan”bagaimana” ke pertanyaan ”mengapa”,ia bergerak dari ilmu pengetahuan
ke Agama.Menurut Max Jammers,pemahaman Einstein dalam fisika dan pemahamannya
dalam agama berpadu secara mendalam.Einstein melihat jejak-jejak Tuhan pada
alam.hanya melalui ilmupengetahuan alam,manusia dapat mengapai pikiran
Tuhan.Friederich Durrenmatt sekali waktu mengomentari pandangan Einstein
tentang Tuhan,”Einstein pflegte so of von
Gott zu sprechen,dass ich beinahe vermute,er sei ein verkappter Theologe
gewesen.”Einstein suka berbicara tentang Tuhan begitu seringnya sehingga
saya hampir melihatnya sebagai teologi tersembunyi.
Menurut Torrance,bagi Einstein,Tuhan
bukan modus berpikir,melainkan ungkapan iman yang menjadi pedoman hidupnya(einess gelebten Glaubens).Keimanan
kepada Tuhan mendasari pemikiran ilmiahnya; dan pada saat yang sama,pandangan
Agamanya sangat dipengaruhi oleh pemikiran ilmiah.Pada pidatonya di depan
Princeton Theological Seminar tahun 1939,Einstein berkata:
Ilmu pengetahuan
hanya dapat diciptakan oleh mereka yang dipenuhi dengan gairah untuk mencapai
kebenaran dan pemahaman.Tetapi sumber perasaan itu berasal dari tatanan
Agama.Termasuk didalamnya adalah keimanan pada kemungkinan bahwa semua peraturan
yang berlaku pada dunia wujud itu bersifat rasional.Artinya,dapat dipahami oleh
akal.Saya tidak dapat membayangkan ada ilmuan sejati yang tidak mempunyai
keimanan yang mendalam seperti itu.Keterangan ini dapat diungkapkan dengan
gambaran: ilmu pengetahuan tanpa Agama lumpuh,Agama tanpa ilmu pengetahuan
buta.
Bagi Einstein,tidak terbayangkan ada
ilmuan yang tidak punya keimanan yang mendalam.Makin jauh kita masuk pada rasia
alam,makin besar kekaguman dan penghormatan kita kepada Tuhan.ia juga melihat Tuhan
dalamalunan musik yang mempesona.
Ketakjubannya pada penemuan Sains
membawa Einstein kepada Tuhan.jika pandangan Agamanya mempengaruhi pemikiran
ilmiahnya,pada gilirannya pemikiran ilmiahnya mewarnai pandangan agamanya.Ia
sangat kritis pada ajaran Yahudi yang dianutnya.Misalnya,ia tidak begitu suka
pada kepatuhan pada hukum-hukum”fiqh” Yahudiyang ketat.
Kelak,setelah ia dewasa,penjajahannya
dalam mencari rahasia alam dengan fisika kepada konsep Tuhan yang tidak sama
seperti yang dianut oleh Yahudi ortodoks.Bagi Einstein,Tuhan tidak lagi
personal dalam pengertian Tuhan dipandang dalam citra manusia.Tuhannya adalah
Tuhan superpersonal(ausserpersonlichen)
yang dibebaskan dari belengku Tuhan yang”semata-mata personal”(Nur-Personlichen),atau yang merupakan
ungkapan keinginan-keinginan tersendiri.
Keberagamaaan Einstein,konon,diperoleh
tidak hanya dari pendidikan masa kecilnya,tetapi juga dari perkawinannya dengan
Mileva,kawanya dikelas fisika.Mileva adalah penganut Gereja Ortodoks Yunani
yang saleh.ketika mereka terpaksa bercerai,Einstein memanggil mantan istrinya
dengan mesra,”Engkau akan selalu menjadi tempat bagiku,yang tidak seorang pun
bisa masuk kesitu.” Ketika ia memenangi hadiah Nobel-setelah enam kali di
protes oleh fisikswan yang rasis,berkat temuannya dalam efek fotoelektrik,bukan
teori relativitas –ia mengirimkan hadiah uangnya kepada Mileva.
Integrasi
Dalam Integrasi,Agama menyumbangkan
ajarannya pada ilmu pengetahuannya.Dan ilmu pengetahuan menghadiahkan
penemuannya pada Agama .Agama dan ilmu pengetahuan tidak berperang,tetapi
berkawin dalam perkawinan agung-yang disebut oleh Ken Wilber sebagai The Marriage of Sense and Soul.
Dengan meminjan
metafora Eintein,kita berkata bahwa Agama memberikan tongkat kepada sains,agar
ia tidak berkutat hanya pada pengamatan empiris;agar ia menjelajah dunia yang
lebih luas.Sains memberikan lampu agar Agama melihat cuhaya dalam kegelapan;agar
tidak tengelam dalam takhayul dan kepercayaan palsu.Muthahhari,dalam Manusia dan Agama,Menulis;
Sejarah telah membuktikan bahwa
pemisahan Sains dari keimanan telah menyebebkan kerusakan yang tak bisa
diperbaiki lagi.keimanan harus dikenali lewat sains;keimanan bisa tetap aman
dari berbagai takhayul melalui pencerahan sains.keimanan tanpa sains akan
berakibat fanatisisme dan kemandekan.Persahabatan antara ilmu pengetahuan dan
Agama,seperti yang disarankan Muthahhari,dalam cerita sifi juga(juga Einstein)
adalah kerjasama antara si lumpuh dan si buta.Ilmu pengetahuan tanpa
bantuan Agama,akan terpaku pada tempat
duduknya.
Carl Sagan(Cosmos,1980:38) menceritakan eksprimen yang dilakukan oleh Dr.Urey
dan rekan-rekannya di Universitas Cornell.Metana,amonia,hidrogen sulfida,dan
air dimasukan ke dalam sebuah tabung dan diekspose pada kejutan
listrik.Hasilnya adalah sejumlah senyawa organik.Dari eksprimen ini,disimpulkan
bahwa molekul sederhana dapat melahirkan molekul yang lebih kompleks dalam
kondisi yang terjadi pada atmoster primordial,Tetapi,para peneliti melupakan
peranan mereka sendiri.dalam eksperimen itu, peranan eksperimenter sama sekali
di hapuskan. Pada epolusi alam semesta, ilmu pengetahuan juga membuang peranan
Tuhan.
Pada 1978,913 pengikut Jim Jones
melakukan bunuh diri masal di Guyana utara di sebuah desa yang mereka sebut
JamesTown. Tengah malam, ketika bunyi sirine membanguankan mereka dari
tidurnya, mereka berkumpul di lapangan. Jim Jones mengaku sebagai titisan
Yesus, Ikhnaton, Buddha, dan lening sekaligus, menyuruh para pengikutnya
meneguk secangkir racun.
Di indonesia, walaupun tidak mungkin
separah dan sengeri Aum atau People’s Temple, banyak sekali kelompok sempalan
yang mengjarkan yang aneh-aneh dan ujung-ujungnya duit. Sejalan dengan naiknya
harga dolar, jumlah aliran semacam itu melonjak dengan drastis. Guru-guru
spiritual tumbuh seperti jamur dimusin hujan.gejlanya sama. Meraka menjual
kebodohan kepada mereka yang haus pengalaman spiritual tanpa bimbingan ilmu
pengetahuan. Mereka berjlan dan tergelincir.
Teilhard
de Chardin
Bagaimanakah carabya kita memadukan
ilmu pengetahuan dan agama.Ian Barbour (1990) menyebut dua contoh: teologi
alamiah (natural theology) dan
teologi alam (thology of nature). Keduanya
berbeda sedikit saja. Teologi alamiah berpijak pada agama yang memperkuat
ajaran agama dengan bukti-bukti ilmiah.Saya tertarik untuk menampilkan Teilhard
de Chardin, sebagai ilmuwan yang menggabungkan keduanya.
Pierre Teilhard de Chardin (1881-1955)
adalah salah satu diantara sangat sedikit tokoh pemikir pada abad ini yang
mengintegrasikan penelitian ilmu dengan jabatan keagamaan.pada awal
karirnya,ahli paleontologi dan pendeta Jesuit ini menjadikan misi pribadinya
untuk merekontruksi doktrin-doktrin kristen yang paling pokok dari perspektif
ilmu pengetahuan dan pada saat yang sama,merekontruksi ilmu pengetahuan dari
perspektif iman.
Teilhard dilihdt oleh Vatikan sebagai
ancaman bagi integritas iman.Roma memerintahkan agar tulisa-tulisan Agamanya
tidak boleh diterbitkan;ia dilarang mengajar atau berbicara didepan hadapan
umum berkaitan dengan masalah keagamaan;ia diusir daritanah airnya.Tetepi
gagasan-gagasannya disebarkan secara informal
dan kadang-kadang secara rahasia oleh rekan-rekannya di gereja.ia
menjadi pahlawan dan teladan bagi seluruh generasi pastor dan teolog bagi yang
muda-muda.iamengerakan gerakan pembaruan yang akhirnya berkembang pada era
Vatikan 11.
Ketika ia melakukan penelitian
paleontologis di Cina Utara,1927,Teilhard menulis “buku kecil tentang
kesalehan”.ia mengirimnya kepada atasannya di Roma untuk menegaskan ketulusan
dan kesetiaannya pada agama.Dalam buku ini,Teilhard berbicara tentang Millieu Ketuhanan.pada intinya ia
menegaskan bahwa seluruh dunia materi adalah panggung untuk melihat Tuhan
secara mistikal dan mendalam.sebagai ilmuan ia berpendapat bahwa sumber utama
kebenaran agama harus dicari di dunia materibukan di magesterium gareja.ia mengajari para petinggi khatolik untuk
melihat Tuhan dengan sains.
Teilhard dibesarkan pada abad
ke-19-abad kepongohan sains.Sains telah di anggap telah mengungkap rahasia alam
semesta.Misteri terkuak dengan penemuan ilmiah.fisika menemukan inti materi
dalam atom,balok fondasi alam semesta.Biologi mengungkapkan bahwa
kehidupan adalah hasil evolusi akibat
pertarungan abadi untuk hidup(survival of the fittest).kecerdasan (bahkan roh)
dijelaskan dengan hubungan saraf dan rangkaian reaksi kimia dalam sistem neural
kita.
Teilhard meninggal pada pertengahan
abad ke-20-abad kerendahdirian sains.Dunia tidak sesederhana seperti yang
digambarkan ilmuan abad ke-19.Alih-alih menjawab pertanyaan,sains sains
melahirkan pertanyaaan yang lebih besar.Di balik atom ada dunia subatomis yang
menyangkal semua mekanik Newtonian.dibawah-bawah sadar dan diatas kesadaran,ada
lagi suprasadar.bom nuklir tidak hanya membunuh penduduk Hiroshima dan
Nagasaki,tetapi juga membunuh sains sebagai penganti agama.untuk menyelamatkan
kedianya,Teilhard dibenci kedua belah pihak.sebagai ilmuwan,ia tidak
dikenal.karena itu,konflik antara sains dan ilmu pengetahuan tidak berakhir
dengan berakhirnya karier dan kehidupan Teilhard.
Konflik
William A.Wallace,seperti
Teilhard,adalah teologyang juga ilmuwan.Latar belakang spesialisasinya adalah
fisika dan teknik elektro.ia mengambarkan riwayat konflik antara agama dan
sains melalui rangkaian dialog para tokah.
Galileo
dan Bellarmine
“dialog yang pertama dan yang paling
terkenal,antara galileo dan bellarmine.”Galileo menjadi korban yang sering
diperingati dalam peperangan antara sains dan agama.pandangan Galileojelas dan
tidak dibuat-buat.Dengan teleskopnya yang baru disempurnakan,ia menemukan
hal-hal yang tampaknya bertentangan ajaran Alkitab.”Tetapi”ia beralasan,”The Book of Natural and the Book of
Scripture mempunyai pengarang yang sama,dan kebenaran tidak mungkin
bertentangan dengan kebenaran.karena itu tafsirkan kembali firman-firman dalam
kitab Suci sehingga sesuai dengan penemuan ilmiahku,maka keserasiaan akan
segera dikembalikan.Dalam dialog ini,sains kalah.agama menang.dihadapan
pengadilan gereja,yang mengancamnya
dengan siksaan dan hukuman mati.
Huxley
dan Wilburforce
Dua ratus tahun kemudian,Darwin
menerbitkan The Origin of Species pada
1859.Buku ini mengguncangkan dunia ilmiah dan agama.manusia bukan
lagiketurunan nabi yang ditempatkan disurga,ia tidak turun dari langit.ia turun
dari monyet.walaupun Darwin [pada akhirnya ateis,yang tidak melakukan dialog
terbuka dengan wakil gereja.maka perdebatatan pun direncanakan antara Huxley
dan Bishop Samuel Wilburforce,yang
tidak pernah membaca The Origin,tetapi
telah dilatih untuk membantahnya oleh ilmuan inggris terkemuka,Sir Richard
Owen.Dalam perdebatan ini,Sains
menang.Agama kalah.
Skripturalisme
Maurice Bucaille(2001) melakukan
penelitian tentang Bibel,Al-Quran,dan sains modern,La Bible,Le Coran et La Science.ia berkesimpulan bahwa sebagian
dari Bibel bertentangan dengan sains,sebagian hadis bertentangan dengan
sains,tetapi tidak satu pun ayat Al-Quran yang dibohongkan sains.”karena
Al-Quran autentik berasaldari Allah,sedangkan Bibel dan hadis ditulis
manusia”.kata Bucaille.tetapi,Bucaille lupa,dalamhadis-hadis yang dianggap
autentik itu terdapat juga hal-hal yang bertentangan dengan sains modern.Dan ia
juga menyebutkan bahwa dalam penafsiran para ahli tafsir,ada ayat-ayat Al-Quran
yang bertentangan dengan sains.
Walhasil,kita bisa mengatakan bahwa
jikaterjadikonflik antara Sains dan Al-Quran,kita harus menyunting dengan
mengatakan konflik antara sains dan sebagian terjemahan Al-Quran.Halyang sama
terjadi dengan Bibel.Agustinus menyatakan bahwa jika terjadi konflik antara
ilmu pengetahuan ilmiahyang dapat dibuktikan dengan makna Bibel yang
harfiah,kita harus menafsirkan Kitab Suci secara metaforis.
Ketika diseret ke pengadilan Galileo
percaya bahwa kebenaran ilmiah tidak akan pernah bercanggah dengan kebenaran
Al-kitab.ia hanya akan bertentangan dengan penafsiran literal pada kitab
suci.Gereja katolik Roma dan kebanyakan dominasi protestan bersedia untuk tidak
lagi berpegang pada kemaksuman penafsiran darfiah Bibel.namun sampai sekarang
masih banyak denominasi Protestan,seperti Gereja baptis Selatan.
Sains
Modern
Sains harus ditolak jika berbeda
dengan agama.sebaliknya,sains modern melihat bahwa satu-satunya pengetahuan
yang dapat dipercaya adalah sains.sains dapat diuji,dan dibuktikan;karena itu
sains bersifat Universal.Agama pada gilirannya tidak bisa diuji.Agama karena
bersifat yang subjektif,hanya diyakini oleh para penganutnya;karena itu,agama
bersifat parokial.Sains bercerita tentang the
bing bang dan evolusi.Prof.Loyal Rue,dalam artikelnya,”Redefining Myth and
religion:Introduction to a Conversation”menulis bahwahanya sains satu-satunya
cerita yang dapat mempersatukan dunia.”dan “keimanan” yang berlebihan pada
sains ini disebut positivisme.sebagai aliran filsafat,positivisme ditegakan
diatas asumsi-asumsi metafisis,aksiologis dan epistemologis.
Asumsi Metafisis
Secara metafisis,positivisme
mengasumsikan naturalisme,determinisme,dan reduksiolisme. Naturalisme adalah
kepercayaan metafisis bahwa manusia dan alam semesta dapat dipahami dan
akhirnya dijelaskan tanpa memasukan unsur”Tuhan” atau ”wujud tertinggi” dalam
teori-teori ilmiah.Menurut Naturalisme,”Alam semesta ini mandiri,tanpa sebab
atau kendali supranatural,dan dalam segala kemungkinan penefsiran dunia yang
diberikan oleh sains adalah satu-satunya penjelasan realitas yang
memuaskan.Dari akar Naturalismr tumbuh ateisme,yang menyatakan bahwa Tuhan
tidak ada;dan agnostisisme yang menyatakan bahwa kita tidak mungkun mengetahui
apakah Tuhan itu ada atau tiada.Naturalisme adalah Aqidah pokok sains modern-“science’s central dogma,without which it
chould not function”.
Determinisme adalah kepercayaaan bahwa
setiap kejadian di alam semesta seluruhnya ditentukan dan dikondisikan oleh
sebab-sebab alamiah yang terjadi sebelumnya.hubungan sebab akibat ini
dirumuskan sebagai hukum yang berlaku universal.cabang universal yakni”pandangan
bahwa hukum-hukum alam-karena bersifat hukum-tidak berubah dalam ruang atau
waktu..hukum harus berlaku universal;kalau tidak,ia hanya berlaku pada satu
titik dalamruang dan waktu,dan karena itu tidak disebut hukum atau kebenaran”.
Reduksionisme adalah kepercayaan
bahwa”keseluruhan dapat dipahami secara sempurna dengan menganalisis
bagian-bagian. ”Reduksionisme ada tiga; Atomisme adalah “pandangan bahwa objek
material pengamatan dan pengetahuan kita dengan sendirinya dapat dipisahkan
atau dibagi-bagi ke dalam variabel,konstruk,dan hukum-hukum yang lebih kecil
dan dianggap lebih dari bagian-bagian yang lebih besar”.Mekanisme adalah
kepercayaaan bahwa manusia,dunia,dan alam semesta “mirip sebuah
mesin,yang...terdiri dari bagian-bagian kecil,yang bekerja sama secara tertib
dan kerjasama keseluruhannya itu ditentukan dan diniscayakan oleh
hukum”.Materialisme adalah “pandangan bahwa materi adalah realitas asasi
didunia,dan apa saja yang ada bergantung pada materi.
Asumsi Aksiologis
Cabang filsafat yang
membahas teori nilai disebut aksiologis.Sains modern ditegakan pada dua asumsi
aksiologis;relativisme etis adalah kepercayaan aksiologis bahwa”tidak ada
prinsip-prinsip yang absah secara universal,karena satiap prinsip moral hanya
absah secara relatif dengan pilihan kultural atau individual”. dan hedonisme
etis adalah kepercayaaan bahwa”kita selalu berusaha untuk mencarikesenangan
kita sendiri dan bahwa kebajikan tertinggi bagikita adalah kesenangan yang
paling tinggi dengan derita yang paling dikit”,
Asumsi Epistemologis
Epistemologis adalah
cabang filsafat yang mempelajari sifat,sumber,validitas,dan batas-batas
pengetahuan.Epistemologis berbicara tentang bagaimana kita tahu.sains modern
menganut positivisme,yang percaya bahwa “pengetahuan terbatas pada fakta yang
bisa diamati dan hubungan diantara fakta-fakta itu.”positivisme berkaitan
dengan dua asumsi; realitas klasik disebut juga realisme naif bahwa alam
semesta itu ada tanpa bergantung pada
manusia.melalui pengalaman alam semesta pada akhirnya dapat diserap dan
dipahami secara akurat oleh manusia.Empirisme adalah kepercayaaan epistemologis
“bahwa pengalaman indra
kita-melihat,menyentuh,mendengar,mencium,mengecap-memberikan kepada kita
pengetahuan yang terpecaya tentang dunia”.
Indenfendensi
Para penganut
indenpendensi percaya bahwa agama dan sains punya wilayah yurisdiksi
masing-masing.keduanya harus hidup bersanding,bukan bertanding.sains tidak
boleh memasuki wilayah agama,sebagaimana agama juga tidak boleh melakukan
intervendensi dalam wilayah sains.
Perbedaan
Metode
Pada abad Pertengahan,orang membedakan
antara kebenaran yang diwahyukan dan kenaran yang ditemukan,revealed truth dan
human discovery.Agama didasarkan pada kebenara yang ditemukan dalam kitab
suci,The Scipture.Ilmu pengetahuan didasarkan pada kebenaran yang ditemukan
mausia melaui akal dan pegamatan pada alam semesta,the nature.Didunia
islam,dibedakan antara ayat-ayat Quraniyyah dan ayat-ayat a.Tanda-tanda Tuhan
yangu pertama melalui agama,dan tanda-tanda Tuhan yang kedua dipahami melalui
sains.para ulama tasawuf islam
membedakan antara alam nasut dan alam malakut.kedua ala mini mepunyai
hukum-hukun tersendiri.Alam nasut dipersepsi mealu basher,mata lahir;alam
malakut dicerap bashirah,mata batin. Al-Ghazali menerapkan dualism ini ketika ia berbica
psikologi.manusia terdiri dari dua dimensi: khalaq yang terlihat dan khuluq
yang dapat dipelejari,dipelihara,dan dikembangkan melalui ilmu
pengetahuan,misalnya ilmu kedoktoran.
Langdon
Gilkerey,dalam saksiannya,menjelaskan perbedaan antara sains dan agama:
1)
sains berusaha
menjelaskan data yang objektif,public,dan dapat diulangi.Agama mempertanyakan
adanya keteraturan dan keindahan didunia dan pengalaman hidup batinah
kita,seperti perasaan bersalah,kecemasan dan kesempurnaan pada posisi lain.
2)
sains mengajukan
pertanyaan yang objektif, how questions, berkenan dengan makna,tujuaan,dan
asal-usul serta nasib terakhir kita.
3)
basis otoritas sains
terletak pada koherensilogis dan da reksperimelatal.otoristas terakhir dalam
agama ada pada Tuhan dan wahyu yang dapat dipahami melalui orang-orang yang
telah diberi pencerahan dan pandangan batin, dibuktikan keabsahannya dengan
pengalaman kita sendiri.
4)
Sains membuat ramalan
kuantitatif yang dapat diuji secara eksprimen. Agama harus menggunakan bahasa
analogis dan simbolis karena Tuhan bersifat transenden.
Perbedaan Bahasa
Perbedaan keempat yang diatas berkaitan dengan
bahasa jika agama menggunakan bahasa analogis dan simbolis, dan sains
menggunakan bahasa logis dan empiris. Kaum positivis logis menganggap bahwa
dalam bahasa ilmiah pertanyaan yang bermakna hanyalah pertanyaan yang mempunyai
rujukan emperis. Menurut para analis linguistik, bahwa yang berbeda mempunyai
pungsi yang berbada.Dalam ngkapan Witgenstein, “language Game” dibedakan dari
caranya dalam konteks sosial.sains dan
agama melakukan tugas yang berbeda, masing-masing tidak dapat dinilai dengan
standar yang lain. Tugas bahasa ilmiah ialah meramalkan mengendalikan. Teori
digunakan untuk mengidentifikasikan objek pengamantan dalam bentuk variable yang
dibatasi secara tegas, menghubung-hubungkannya, dan merumuskan prediksi.orang
yang menyatakan bahwa agama menyejahterakan manusia dunia dan akhirat,sedangkan
berbucara dengan bahasa agama.
Karena sains hanya mampu melakukan pegamatan pada
apa pun yang bisa diukur,sains tidak bisa dipaksa-dan jangan memaksakan
diri=untuk memberikan pandangan-dunia yang mnyeluruh,filsafat hidup,atau
norma-norma etis.sampai disini, Tetapi,seperti yang dijelaskan Barbour(1990)
dan Rolston 111 (1987),keduanya mnjelaskan dunia yang sama.kemusykilan
mempertahankan indenpendensi justru terletak pada diri kita.kita mengalami
kehidupan sebagai keseluruhan, dan tidak memisah-misahkan sebagai
bagian-bagian.
KOTAK
2 SEJARAH HUBUNGAN SAINS DAN AGAMA(TEOLOGI)
“Sejarah sains versua Agama dicemari oleh banyak
kenangan pahit.Para astronom pada zaman sekarang sering menggunakan
penganiayaan pada Galelio dan Copernicus sebagai contoh menakutkan tentang
Gereja sebagai tokoh jahat yang merintangi kemajuan ilmiah.Secara
kebetulan,mayoritas akademis dikampus sekuler mempunyai kecendrungan
ateistik.bagi kaum sekunder,keimanan kepada Tuhana hanyalah takhayul Abad
Pertengahan yang dijalin erat oleh fantasi seksual kekanak-kanakan gaya
Freud.Pada sisi yang lain ,sains dicurigai oleh banyak orang Kristen karena
tabiatnya yang ateis. Keterasingan antara sains dan agama telah berkurang
belakangan ini karena banyak kaumapologis yang pintar telah mulai berdialog
dengan kaum sekuler…
Sains sebagai Kenangan
Renaisans
Francis Schaffer, ketika menganalisis geseran budaya
pada Eropa abad ke-19, menyadari bahwa perkembangan filsafat menjadi
katalisator transformasi budaya.Agak berbeda dengan lahirnya pikiran abad ke-19
yang diabadikan oleh filsafat eksistensialnya Soren Kierkegaard, munculnya
periode Renaisans, yang pada mulanya diantarkan sebagai revolusi seni pada abad
ke-15,tidak disertai oleh aliran filsafat
yang tersusun baik. Renaisans hanyalah geseran spontan dari teologi abad
Pertengahan menuju humanism, yang menandai kembalinya paganisme dari peroiode yunani
klasik.keterpesonaan abad paganism di ungkapkan pada karya-karya seperti
“kelahiran Venus” dari Sandro Boticelli sesudah 1482.Urat nadi humanistik
mengalir dalam seluruh tubuh Renaisans dan dinyatakan dalam slogan “manusia
dapat melakukan apa pun yang ia inginkan”.
Thomas Aquinas, teolog terbesar Abad Pertengahan dab
ahli sentensis,mengukuhkan pemikiran aporioiri Aristoteles sebagai dasar
pengetahuan.Francis Bacon, yang dipuji sebagai bapak Renaisans,menolak logika
Aristoteles sejak ia menjadi mahasiswa di Trinity College. Bacon dimuliakan
hingga mencapai kedudukan tokah mitologis karena ia ikatan dengan logika arus
utama (mainstream) Aba Pertangahan, untuk “masuk kedalam nti persoalan” dalam
dukungannya pada observasi dan eksperimen sebagai penganti deduksi prinsip
Apriori.Penolakan kepada akal apriori menimbulkan revolusi dalam wacana-wacana
intektual; “di sana sini,di universitas, biara, dan tempat tetret yang
tersembunyi, orang berhenti berdiskusi dan mulai meneliti”.
Sejak saat itu,sains dikenal sebagai pembrontak
terhadap otoritas Gereja.Kepler,Galileo,dan Capernicus menjadi pembrontak
tekadan dizamannya. Banyak persekusi dan sinoda gagal untuk menghambat kemajuan
semangat Renaisans.Sebaiknya,masa-masa berat itu mendorong kaum revolusionis
untuk berjuang menentang penindasan intelektual.sungguh sangat mengerikan bahwa
pemikiran ilmiah pada akhirnya mengantikan teologi pada lingkungan budaya
Barat.pada akhirnya, kepunahan pandangan Abad Pertengahan diresmikan dengan
penerbitan karya Immanuek Kant,Kritik der reiner Vernunft, dan pada
1781.
Perjuangan antara ilmuwan dan pendeta menampakan
dirinya dalam bentuk dikotomi yang tak bsa disatukan antara tradisi dan
kebebasan . Berpikir bebas, sebagai reaksi negative terhadap pendekatan opriori
dalam dogma Gereja, melahirkan sejumlah filsafat sekuler.kobaran api
sekilarisasi menyebar tak terkendali keseluruh dunia pasca Kristen.Origin of
Speciesnya Dawin memberikan mekanisme kemunculan kehidupan tanpa seorang
Pencipta.Psikoanalisisnya Freud menghilangkan kredibilitas perasaan agama
dengan menjadikannya sebagai bentuk-bentuk perasaan seksual
kekanak-kanakan.Teori Relativitasnya Einstein sering disalah pahami sebagai
argument untuk memperkuat rlativisme;padahal tidak ada ilmuan yang lebih
religious seperti Einstein pada zaman modern.Niels Bohr,salah seorang penemu
mekenisme kuntum, adalah bapak positivism Kopenhage.Anti-realismenya teleh
masuk kedalam penafsirannya pada fisika kuantum. Ia menulis, “tidak ada dunia
kuntum,yang ada hanyalah gambaran fisik yang abstrak.Salah sekali untuk menduga
bahwa tugas fisika adalah menemukan bagaimana keadaan alam.Fisika hanya
berkaitan dengan apa yang bisa kita katakana tentang alam.”
Positivisme membuka jalan pada fisikalisme didalam
sains.Pandangan Empiris Bas van Fraassen adalah lingua Franca pada dunia ilmiah
abad ke-20.Kriteria “empirical adequacy” diterima bulat-bulat oleh banyak orang
sebagai dasar pengetahuan.Fisikalise berusaha membersihkan semua rujukan kepada
apa pun yang tidak bersifat fisik dari kamus ilmiah.Dalam bayangnya, alam
semesta hanyalah berdiri dari materi dan energy,tanpa ada sifat transcendental
apa pun.ketika agama muncul kembali dalam sains popular pada tahun 1970-an dan
1980-an,panteisme menjadi ungkapan sains dan agama yang diterima luas.Ahli
fisika, Fritjof Capra dan Gazy Zukau,berhasil memadu mistisisme Timur dan
fisika modern secara popular.Karya Best-Seller Capra, The Tao of
Physics, dan karya Zukau, The Dancing Wu Li Master, tampaknya
menjadi contoh jelek tentang pemikiran religio-ilmiah jika melihat kenaifan
para pengarangnya terhadap tradisi teologi Barat.Walaupun tema utama dalam
penafsiran teori kuantum dengan panteisme secara teoretis lemah, popularitas
karya Capra dan Zulkau menunjukan kebutuhan pokok manusia untuk menemukan makna
yang lebih tinggi yang tidak diperoleh dalam pamdangan dunia mekanistis.
Budaya abad ke-20 ditandai dengan geseran lainnya
dari saintisme ke posmodernisme sebagai generasi pembrontak yang makin lama
makin kecewa dengan sains dan teknologi di tengah-tengah ketidakpastian dan
pengangguran.Warawan John Hogan,dalam The End of Science, melukiskan
gambaran yang muram tentang masa depan sains.Pesimisme posmodernisnya sejalan
dengan perasaan umum dikalangan guru-guru ilmiah yang merasakan bahwa sains
murni telah mencapai batasannya.Ahli fsika,Louis Osbourne, di MIT pernah
berbicara kepada saya bahwa fisika adalah sains eksperimental terobosan
eksperimental sangat bergantung pada kemajaun teknolgi, pada gilirannya,fisika
sebagai unsur kecil dalam budaya modern tidak lagi menjadi tuan untuk nasibnya
sendiri. Disamping pertimbangan ekonomi dan politik,ada batas pisik pada apa
yang dapat dilakukan teknologi untuk memahami tentang keterbatasan sains
eksperimental, cukuplah disini diketahui bahwa untuk meguji teori superstring
dan the bing bang,diperlukan pemmbangunan akselelator partikel berdimensi 1000
tahun cahaya. Karena alasan ini lah,para ahli fisika percaya bahwa fisika
partikel dan kosmologi pada akhirnya akan berhenti sebagai sains dan
perlahan-lahan akan menjadi cabang filsafat.
Ujung dari verifikasionalisme secara serius
melumpuhkan doktri empirisme ilmiah. Fisika paska perang dingin dihambat oleh
krisis anggaran dan munclnya antirasionalisme posmodernis.banyak peramal kiamat
meramalkan akhir sains. Walaupun sains sebagai satu usaha harus melakukan
penyesuian dalam memenuhi tuntutan ekonominya,sains sebagai ungkapan kritis
rasa ingin tahu kita akan tetap menemukan tempatnya dimasarakat selama masih
ada pertanyaan-pertanyaan baik yag merangsang imajiniasi kita.pemikiran hidup untuk
berpikir.pertanyaan yang baiktidak dapat ditinggalkan, bahwa ditengah-tengah
kemiskinan dan keterasingan Kant mengulas sangat medalam tentang watak akal
manusia yang selalu bertanya.karena akal manusia, tanpa hambatan yang
diakibatkan oleh kesombongan pengetahuan besar,akan selalu bergerak,didorong
oleh perasaan kebutuhan,menuju pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab
oleh perapan akal secara empiris atau prinsip-prinsip yang ditarik darinya dank
arena itu selalu saja ada pada setiap manusia sejenis sistem metafisika.selalu
ada saja ilmuan baik yang berpikir bukan karena kebutuhan, melainkan karena
kesenangan. Walaupun ilmuan yang tidak beriman cendrung keliru dalam
penilaiannya,dengan mencoba memberi makna ciptaan tanpa sang pencipta,upaya ilmiah
mereka yang terus menerus kadang-kadang akan memergoki unsure-unsur kebenaran
yang membantu meringankan penjelasan pada sifat alam semesta ketika dihubungkan
dengan teologi.
BAB 3
PSIKOLOGI DAN AGAMA
Aku
jatuh tertidur, dan ketika tidur, aku bermimpi bahwa aku kupu-kupu. Ketika aku
bangun, aku tidak yakin apakah aku manusia yang bermimpi bahwa aku kupu-kupu,
atau apakah aku kupu-kupu yang bermimpi bahwa aku manusia, yang bermimpi bahwa
aku aku kupu-kupu.
-Peribahasa
Cina Kuno
Freud
dan Pfister
Sigmund freud tidak saja dianggap
sebagai bapak psikoterapi, tetapi ia juga tokoh ateisme terbesar pada awal abad
ke-20. Ia punya banyak kawan seideologi dan seperjuangan. Semuanya mengakhiri
persahabatanny dengan pahit, kecuali satu orang yang sangat aneh- Oskar Pfier.
Dialah teman terbaik Freud sampai akhir hayatnya.
Di tengah-tengah kamu intelektual yang
ateis, di rumah yang betul sekuler, Pfister satu-satunya pastor. Ketika ia
berkunjung pertama kalinya ke apartemen berggages, ke rumah Freud, ia tampak
sangat eksotis sehingga Anna, gadis Freud yang berusia empat belas tahun,
menganggapnya sebagai “hantu dari dunia asing”. Ia ditahbiskan sebagai pastor
di Zurich, Swiss. Untuk menyebarkan iman kristiani kepada jemaatnya, ia
mempelajari psikologi. “Tetapi ia setelah membaca Freud, untuk pertama kalinya
ia melihat hubungan antara manusia psikologis dan manusia spiritual, hubungan
antara makna psyche pada zaman dahulu dan zaman modern, penjelajahan
yang kemudian menjadi karya hidupnya sendiri. Didalam ilmu psikoanalisis Freud
yang baru, Pfiester kemdian menulis, ‘Fungsi tertinggi kehidupan melangkah di
hadapan miskroskop jiwa dan membuktikan asal-usul dan hubungannya, tentang
maknanya yang lebih dalam pada keseluruhan peristiwa psikis.’
“Pfister meneruskan penelitian dan
praktik psikoanalisis dan menulis buku teks yang pertama tentang topik itu
(yang diterbitkan pada 1913), dan bersahabat dengan Freud. Freud terkenal
karena persahabatanya yang mendalam (dengan Jung, Alfred Alder, Wilhem Fliess,
dan Otto Rank) yang pada akhirnya berkembang menjadi konflik dan hancur
berantakan. Pfiesterlah satu-satunya sahabat dia yang tetap akrab sampai akhir
hayatnya. Tetapi, hubungan di antara mereka sering berubah dari sahabat menjadi
mitra tanding.
“Sebagaimana Frued yakin bahwa
psikoanalisis adalah alat untuk membasmi agama dan takhayul lainnya, Pfister
juga sangat yakin bahwa sang guru telah menemukan kunci perkembangan ruhaniah.
Freud menolak seluruh argumentasi kawannya, dan profesi psikoterapeutik
bersikap yang sama selama berabad-abad. Tetapi, dewas ini ketika psikologi dan
psikiatri dipreteli oleh pemikiran yang berpusat pada ruh, hantu Oskar
Pfisrterlah yang tanpak gentayangan ketimbang tokoh-tokoh lainnya yang berada
disekitar Freud; karena Pfisterlah mendekati tidak hanya subjek, tetapi hidup
itu sendiri dengan akal dan kesadaran batiniah akan Tuhan. Dalam membentuk
dirinya menjadi psikoanalisis spiritual-sesuatu yang disumpahi Freud takkan
pernah ada Pfister melnjutkan semangat William James dalam psikologi.
“Jelas sekali, Freud tidak bisa
membiarkan sama sekali kontradiksi yang dikemukakan Pfister. Ia menulis
manifesto anti agama, The future of an Illusion,sebagian ditunjukan
untuk Pfister. Mungkin ia berharap buku itu akan menjadi pukulan telak dalam
perdebatan mereka. Namun, ketika buku hampir terbit, Freud tiba-tiba cemas
bahwa sahabatnya akan tersinggung. Jadi, ia mengirimkan catatan kecil sebagai
peringatan bahwa buku itu ‘akan sangat menyakitkan hatimu’.
“Tetapi kemampuan pastor itu untuk
menyerahkan pipi yang satu setelah pipi lainnya ditampar memang sangat
menakjubkan. Ia membaca buku itu dengan gembira, membalasnya dengan sebuah
artikel kecil yang berjudul ‘The Illusion of a Future’ dan ia tetap saja
mempermalukan Freud dengan menyebutnya, “Tidak pernah ada orang Kristen yang
lebih baik dari dia.’
“Mengapa Pfister percaya bahwa
psikoanalisis melengkapi Alkitab? Freud sendiri berkata dalam suratnya kepada
Jung: Psikoanalisis sebenarnya adalah ‘penyembuhan melalui cinta ‘. Bagi Freud,
tentu saja, cinta dipahami sebagai pelepasan libido. Bagi Pfister, ini hanya
sekedar skogan, pandangan sempit ilmuwan yang dipaksakan. Psikoanalisis
hanyalah alat; hidup lebih besar daripadanya, dan cinta adalah bahasa
kehidupan. Freud mungkin saja ingin menjepitnya deangan teori dan
ajaran-ajarannya, tetapi cinta akan meluap keluar sisi yang lain. Karena Freud
telah menemukan salah satu jalan rahasia bawah-jalan cinta-Pfister merasa
pantas menyebut kawan yahudinya yang ateis ini sebagai Kristen. Tentu saja ia
menyebutkannya sebagai pujian, tetapi ia menyebutkannya sebagai pujian tetapi
ia juga sadar bahwa pujiannya itu sangat banyak menyinggung perasaan orang tua
itu. Ia pun ternyata mampu bertanding.
“Freud sendiri tidak pernah
mengecewakan Pfister, tetapi pada waktu Pfister meninggal dunia tahun 1956,
pada usia 80 tahun, ia pasti menyimpan kekecewaan karena karena impiannya untuk
memperluas wawasan psikoanalisis ke dalam kehidupan spiritual semuanya sirna.”
(Shorto, 1999:48-50)
Sejarah interaksi antara psikologi dan
agama diungkapkan dalam bentuk miniatur pada riwayat persahabatan Sigmund Freud
dan Oskar Pfister. Pfreud mewakili psikologi yang memusuhi agama. Sains sudah
menjadi agama Freud. Baginya, Darwin dan para ilmuwan lainnya adalah “para
santo modern” (Guy,1987:18). Ia bertekad agar hasil karya ilmiahnya tidak
diterima sebagai seni atau teori, tetapi sebagai sains, karena “konstribusnya
pada sains terletak sains terletak pada perluasan penelitian sampai ke dalam
alam mental” (Guy, 1987:48)
Jika Galileo dan Copernicus membawa
sains ke kosmos, Darwin ke spesies, Freud memperluas jangkauan sains sampai ke
jiwa paling dalam. Jika kita ingin mengenal jiwa kita sendiri, sebagaimana
difatwakan oleh orang-orang arif sepanjang sejarah, kita harus berpedoman pada
sains. Lalu dimana posisi agama? Agama hanyalah ilusi, delusi, “universal
obsessional neurosis”, proyeksi dari keinginan masa kanak-kanak. Agar
perdaban berkembang, ia harus menanggalkan agama dan memuja Tuhan baru, yakni
“Logos”. Tetapi, karena “massa” umumnya “malas dan bodoh”, kaum intlektual
harus memimpin mereka dengan memberikan teladan (Freud, 1956: 8, 9, 69, 70).
Kehidupan Freud sendiri dan psikoanalisis yang dilahirkan adalah teladan utama perlawanan
psikolgi pada agama.
Pfister, seperti Ahli Aikido, menggunakan
tenaga lawan untuk menampilkan jalan cinta. Ia menjadikan psikoanalisis yang
memusuhi agama menjadi pendukung agama. Lebih dari satu abad, psikoanalisisnya
Freud yang seksual berhasil menenggelamkan psikoanalisisnya Pfister yang
spiritual. Lewat pertengahan millennium kedua, secara perlahan tetapi pasti,
Pfister muncul di permukaan. Tahun 1983, The American Psychiatric Association mulai memberikan hadiah tahunan
Oskar Pfister Award kepada siapa saja yang memberikan “important
ciontributtions to the humanistic and spiritual side of psychiatric issues”.
Deangan begitu, psikologi dan agama tidak lagi bersanding. Deborah Van Deusen
Hunsinger (2011:232) memberikan contoh integrasi antara psikoanalisis dan
agama:
“psikologi keadalam (depth
psychology) dan pemahaman tentang jiwa tak sadar juga memberikan kepada
kita konseptual untuk memahami peristiwa yang tidak bisa dipahami dengan
kerangka teologis, tetapi mempengaruhi kehidupan iman secara dramatis.
Baru-baru ini saya mendengar kisah tragis seorang perempuan di sebuah Negara
dan budaya yang lain. Para pastor dan pemimpin gereja percaya bahwa perempuan
itu kerasukan setan. Ia mendengar suara dan percaya bahwa ia sedang mengandung
Isaac, anak yang dijanjikan. Anggota-anggota gereja berdo’a baginya dan bersamanya
berkali-kali. Tampaknya tidak satu pun dapat menolong. Akhirnya, mereka
menyelengarakan do’a bersama selama berjam-jam dan memukuli dia sampai
luka-luka parah, mencoba mengusir kekuatan destruktif yang tengah menyiksanya. Saudaranya
mengetahui peristiwa ini dan berusaha keras untuk menghalang-halangi. Walaupun
secara harfiah ia tinggal di bagian dunia yang berbeda dengan saudaranya, ia
berkeras untuk menemukan psikolog Kristen yang dapat membantunya.
“Psikolog itu tahu bahwa perempuan itu
menderita depresi, kemarahan, kesedihan yang tersembunyikan karena tujuh kali
aborsi yang sudah dialaminya akibat desakan keluarga suaminya. Dalam kebudayaan
dia, seperti juga dalam banyak kebudayaan pada zaman awal Kristen, semuanya
bergantung kepada anak laki-laki. Setiap kali hamil, perempuan itu selalu
mengetahui dengan bantuan tes diagnostik modern modern bahwa anak yang
dikandungannya perempuan. Suaminya adalah keturunan laki-laki terakhir dalam
silsilah keluarganya. Ia bersikukuh agar istrinya terus menunggu sampai ia
mengandung seorang anak laki-laki sebelum melahirkan anaknya. Dia dan
keluarganya memaksa dia tidak hanya satu atau dua kali, tetapi tujuh kali
sehingga kepedihan dan kemarahannya tidak bisa disembunyikan lagi dan mencuat
keluar sebagai gejala-gejala ekstrem.”
Tanpa bantuan psikologi, para tokoh agama akan salah
melakukan diagnosis dank arena itu juga tidak dapat membantu umatnya. Van
Deusen Hunsinger memberikan contoh tentang perluhnya agama menggandeng
psikologi untuk “menyelamatkan” domba-dombanya yang sesat. Inilah yang
mendorong Pfister untuk mempelajari psikologi. Hal ini juga sepatutnya
mendorong para tokoh agama lainnya. Salah satu makna integrasi ialah memasukan
sumbangan psikologi ke dalam kotak ama saleh agama. Makna lainnya ialah
memasukkan sumbangan agama pada kotak psikoterapi.
Untuk makna kedua dari integrasi, saya punya pengalam
menarik. Pada dua minggu pertama September 2002, di Basel, Swiss atas undangan
Interkulturelle Gesellschaft fur
Seelsorge, saya menyibukkan para peserta dengan salah satu kasus konseling
dalam islam. Sekarang, saya ingin anda menyimak kembali kasus itu:
Aku diundang untuk mengunjungi seorang ayah di rumah sakit.
Dokter mengatakan ia mengidap penyakit dalam stadium terminal. Dalam waktu satu
minggu, ia bisa kehilangan kesadaraannya dan minggu berikutnya dia akan mati.
Dia disarankan untuk mengumpulkan seluruh anggota keluarganya untuk mengadakan
perpisahan dengan mereka. Berita itu membuatnya panik, gelisah, dan
ketakukatan. Ia tak bisa makan, minum, atau tidur.
Ketika saya datang, ruangan telah dipenuhi anggota-anggota
keluarga. Pasien sedang terbaring tanpa daya. Dengan lembut, saya bertanya
kepadanya tentang apa yang merisaukan hatinya. Dengan air mata berlinang, ia
berkata, “Usia saya hampir 60 tahun, tetapi saya belum siap untuk mati. Banyak
hal yang harus saya selesaikan. Semua anak perempuanku belum menikah.Saya
bertanggung jawab untuk menikahkan semua. Sekiranya saya dapat mengajukan
permohonan kepada Tuhan, saya akan berdoa agar Ia berkenan memberikan kepada
saya cukup waktu untuk menikahkan mereka. Kedua, saya tidak tahu apa yang
terjadi pada ruh saya. Saya pernah bekerja du Kalimantan. Jauh dirimba
Kalimantan ada sebuah pohon besar. Konon, disitu tinggal banyak arwah selama
ratusan tahun. Saya tidak ingin ruh saya tinggal di bumi berkelana tanpa arah.
Saya ingin tahu kemana ruh saya pergi setelah kematian saya. Ketiga, saya ini
orang yang terbiasa berkumpul bersama keluarga dekat mengunjungi saya setiap
hari. Sebagian dari mereka bahkan ikut menginap ditempat ini. Kehadiran meraka
saja sudah cukup menggembirakan saya. Kematian akan memisahan kami. Di sana, saya
akan sendirian dan kesepian. Terakhir, saya orang yang banyak berbuat dosa dan
sedikit melakukan amal saleh. Di sana, pastilah saya mendapat banyak hukuman
yang tidak akan sanggup saya tanggung. Penyakit yang saya derita ini saja sudah
sangat berat apalagi penderitaan di alam kubur nanti.
Sekiranya saya seorang psikiater, dengan merujuk pada DSM-V,
saya akan menyebut rasa takut yang diderita pada pasien itu sebagai “anxiety
disorder with panic attack”. Untuk meringankan beban dia, saya dapat
menggabungkan medikasi dan teknik psikoterapi. Saya dapat menyarankan dia untuk
mengambil obat-obatan antianxiety, seperti xanax, ativan, dan klonopin. Saya
juga akan mengobrol banyak dengannya untuk menemukan berbagai distorsi
kognitif, seperti diuraikan Beck (1967) dan Freeman (1987). Tetapi, medikasi,
seperti kita ketahui, mengandung efek-efek samping, yang bisa sanggat fatal
bagi yang bersangkutan. Terapi kognitif mengambil masa yang cukup lama, padahal
pasien kita berada diambang kematian. Sambil mengingat berbagai teknik koping
keagamaan yang dirumuskan Pargament (1997), saya mencoba menjawab
pertanyaan-pertanyaan merisaukannya dengan jawaban agama. Pada saat yang sama,
saya memasukan “intervensi spiritual” seperti do’a, sholat, zikir, bersedekah,
dan jalan-jalan keselamtan lainnya seperti yang diajarkan AL-QURAN dan Hadis.
(McMinn, 1996, menyebutkan enam intervensi spiritual dalam agama Kristen: prayer,
scripture, sin, confession, forgiveness, redemtion.) Dengan begitu, saya
telah mengikut sertakan agama dalam proses psikoterapi. Bukankah agama dan
psikologi bertemu dalam ruang hidup yang sama: penderitaan. Diranah inilah,
psikologi berintergrasi dengan agama.
Dari Integrasi ke
Konflik
Pada 1981, sebuah resolusi yang disampaikan dan disetujui
oleh The National Acedemy Of Sciences menyatakan, “Religion and science are
separate and mutually exclusive realms of human thought whose presentation in
the same context leads to misunderstanding of both scientific theory and
religious belief” (National Acedemiy of Sciences, 1984:6). Resolusi ini
meresmikan dan mengabsahkan pemisahan antara sains dan agama. Para penganut
independensi (lihat Bab dua) boleh bersorak-sorai; tetapi dalam praktik,
perlahan-lahan sains dan agama bergerak menuju tempat rendezvous yang anehnya tampak
seperti sebuah déjà vu.
Déjà vu, menurut kamus, adalah ilusi seakan-akan kita
pernah mengalami suatu pengalaman yang sebetulnya baru kita alami. Integrasi
psikologi dengan agama bukanlah ilusi. Keduanya pernah bertemu pada awal
sejarahnya. Seperti syair Rumi, keduanya pernah berkumpul di rumpun bambu
sebelum berpisah menjadi potongan-potongan seruling. Selama abad pertengahan
dan ratusan tahun sebelumnya, ditengah-tengah masyarakat selalu ada saja
orang-orang yang mempunyai spesialisasi dalam menyembuhkan dan memelihara
kesehatan jiwa, cura animarum-perwatan jiwa (Kurtz,1999). Para
spesialisnya selalu agamawan.
Pada abad ke-16, psikologi Barat sangat erat berkaitan
dengan pandangan agama. Salah satu cabang ilmu agama adalah pneumatologi, ilmu
tentang wujud-wujud spiritual. Pneumatologi di bagi tiga: 1. Ilmu tentang
Tuhan, teologi; 2. Ilmu tentang ruh-ruh perantara seperti malaikat dan
setan, angenlologi;dan 3. Ilmu tentang ruh manusia (Vande Kemp, 1996). Pada
1524, Marulic menyebut ilmu yang ketiga itu sebagai psychologia. Pada
akhir abad ke-16, Cassman menciptakan istilah baru untuk ilmu tentang manusia, antropologia.
Ia membaginya ke dalam psychologia, ajaran tentang jiwa manusia, dan somatologia, ajaran tentang tubuh
manusia.
Kemudian, pada 1879, datanglah Wilhelm Wundt di universitas
Leipzig. Ia dianggap sebagai bapak psikologi modern, psikologi yang ditegakkan
di atas landasan ilmiah. Dan bukan landasan metafisis. Wundt sendiri memuji
Gustav Fechner sebagai pendahulunya dalam psikologimodrn: “Tidak akan
terlupakan bahwa Fechner adalah orang pertama mengenalkan eksak,
prinsip-prinsip eksak dalam pengukuran dan observasi eksperemental untuk
meneliti gejala psikis dan dengan begitu membuka prospek sains psikologis dalam
arti kata yang sebenarnya. Jasa utama metode Fechner adalah ini: Tidak ada yang
dapata dipahami dari berbagai perubahan sistem filsafat. Psikologi modern harus
mengambil watak yang betul-betul ilmiah dan bisa melepaskan diri dari kontroversi metafisis”
(Willber,2000:viii-ix).
Dari narasi Willber, kita melihat dua sisi yang berlawanan
dalam pemikiran Fechner, pada satu sisi, ia memandang manusia sebagai makhluk
ruhaniah yang bergerak menuju Tuhan atau ruh universal. Pada sisi lain, ia melihat
jiwa manusia sebagai objek yang bisa diukur dan diteliti secara eksperimental.
Sayang sekali, sisi spiritual psikologinya terbuang dan terlupakan dalam
onggokan sejarah. Seperti yang diuraikan pada bab dua, sains modern dalam
seleuruh asumsi metafisisnya menentang keberadaan Tuhan. Barbour (1990:220)
menulis, “…. Para pemimpin pencerahan abad ke-18 percaya bahwa manusia adalah
juga bagian dari mesin dunia yang serba meliputi; mesin yang operasinya dapat
dijelaskan tanpa merujuk Tuhan. Dunia materialistik seperti itu tidak punya
tempat untuk kesadaran atau pandangan batin kecuali sebagai ilusi subjektif.”
Dengan demikian melanjutkan Fechner pada sisi
pengukurannya, kamum behaviorisme. Keyakinan yang sama juga dianut oleh
psikologis awal umumnya ateis. Freud meninggalkan agama Yahudi dan mendirikan
“agama” psikoanalisis. Watson keluar dari Kristen (?) dan menjadi nabi “nabi”
behaviorisme. Keyakinan yang sama juga dianut oleh psikolog-psikolog lainnya,
seperti Skinner, Hull, Bandura dan Bahkan Rogers.
Menuju Integrasi
Lagi
Walaupun arus yang menentang psikoanalisis dan behaviorisme
mengalir bersama dengan aliran keduanya para pembelot itu tanpaknya muncul di
permuakaan pada paruh kedua abad ke-20 di Amerika, ketika kemakmuran material
mencapai puncaknya. Di tengah limpahan kehidupan material. Tiba-tiba orang
merasakan kehausan. Kehausannya baru, tetapi air yang dirindukannya datang dari
masa lalu. Charles Tart (1992:vii) melukisnya dengan bagus: Begitu banyak
diantara kita yang kaya tetapi kita masih juga tak puas.
Apa yang bisa lakukan
ketika kita berduka cita ?
Kita bisa menyalahkan orang lain atau keadaan “Ini
gara-gara mereka” atau kita bisa melihat kedalam diri kita untuk mengetahui apa
yang telah kita perbuat sehingga kita merasa taka puas. Psikoterapi adalah
salah satu jalan untuk melakukannya. Kebanyakan orang yang menjalani konseling
dan psikoterapi melakukannya karena mereka ingin menjadi “normal”. Mereka ingin
merasa nyaman dalam pergaulan, mempunyai pekerjaan, menjadi bagian dari sebuah
keluarga, memiliki banyak teman, dihormati, meras aman secara materi, dan
sebagainya.
Namun, pada 1950 dan 1960-an, para terapis mulai menemukan
sejenis “pasien” yang baru. Sebuah wawancara menunjukan bahwa pasien baru itu
mapan secara material dan sosial. “Aku wakil presiden dari Grsoss and jumbo
Corporation; pekerjaanku mapan, dan aku punya jabatan; aku cinta istri dan
keluargaku, mereka pun mencintaiku; anak-anakku tak bermasalah; kehidupan
seksualku cukup memuaskan; aku dihormati ditengah masyarakat dan dalam
pekerjaanku; temanku banyak; aku punya rumah yang besar; tiga set televise, dua
buah mobil, dan simpanan uang di bank.”
Orang-orang ini telah memperoleh segala hal yang dianggap
masyarakat dapat mendatangkan kebahagian. Tetapi mereka mengeluhkan hal-hal
seperti, “Hidupku kosong.” Atau, “Pati ada sesuatu yang lebih dari semua ini.”
Atau “Semuanya tak begitu berarti.” Atau, “Aku merasa hampa.”
Dengan paragraph di atas, Tart, salah seorang tokoh
psikologi transpersonal, mengungkapkan kekecewaan pada psikoanalisis dan
behaviorisme. Melalui jembatan psikologi humanistic, Tart menyebrang ke
psikologi transpersonal. Di sini, setelah jembatan psikologi eksistensialis.
Sambil jalan, kita menengok paying filsafat yang bernama posmodernisme.
Psikologi
Humanistis
Psikologi humanistik punya akar sejarah yang cukup tua.
Tetapi bersama dengan psikologi ekstensialis, ia baru muncul pada 1960-an,
membentuk “Angkatan ketiga” dalam psikologi. Angkatan pertama, psikoanalisis,
lahir di jerman, ketika sains di puja sebagai juru selamat umat manusia.
Angkatan kedua, behaviorisme, lahir di Amerika, ketika metode ilmiah dipercaya
sebagai satu-satunya cara mengetahui yang dapat diandalkan. Angkatan ketiga ada
yang menyebutnya angkatan keempat dengan menyertakan psikologi kognitif juga
lahir di Amerika, ketika kelas menengah Amerika menikmati kemakmuran material
dan menderita kekosongan spiritual.
“Ketika sains menganggap nilai bersifat arbitrer
(sewenang-wenang). Hitler tidak dapat dibuktikan salah; menjadi ilmuwan yang
baik tidak berbeda dengan menjadi Nazi yang baik; sains menjadi alat yang dapat
digunakan setiap orang untuk tujuan apapun (Maslow, 1969:120;1970:16).
Pokoknya, dalam pandangan Maslow, sains menjadi busuk ketika ia mencapaikan
nilai. Karena itu, tidak heran jika dewasa ini banyak orang takut pada sains.
Psikologi
Ekstensialis
Kalau psikologi menanggalkan metode ilmiah yang positivitis
(sains modern), dengan metode apa psikologi melanjutkan perjalanannya? Dengan
fenomenologi, kata Carl Rogers, kawan seperjuangan Maslow dalam mazhab
humanistic. Secara singkat, fenomenologi berpendapat bahwa bagaimana kita dan
apa yang kita lakukan adalah refleksi dari pengalaman subjektif kita terhadap
dunia dan diri kita sendiri.
Diantara dimensi yang khas manusia adalah keinginan untuk
mencari makna; Man’s Search for meaning, salah satu judul buku Frankl.
Dalam semua bukunya (misalnya, Frankl, 1963, 1975), ia selalu menceritakan
pengalamanya di kamp konsentrasi Nazi pada perang dunia II.
Dalam perjalanan menemukan diri sejati, “true self”,
manusia melewati tiga tahap. Kita mulai dari tahap estetik, ketika esensi
kehidupan adalah memilih cara hidup kita sendiri. Pilihan kita muncul dalam
bentuk murni hedonisme, atau sikap mementingkan diri. (selfishness) yang
sudah dikemas budaya sebagai keberasilan hidup.
Psikologi
Transpersonal
Psikologi transpersonal lahir dan tumbuh di tengah-tengah
perubahan politik, budaya, dan agama di Amerika pada 1960-an dan 1970-an.
Gelombang yang menuntut persamaan hak, dimulai dari protes mahasiswa terhadap
perang Vietnam samapai gerakan ekologi, pembebasan perempuan dan hak-hak kaum
homoseksual, melanda seluruh Amerika dan akhirnya menyebrang ke Eropa. Di
protes itu, mengalir arus spiritual yang kuat (Ferguson, 1980; Bellah, 1976;
Clecak, 1983).
Gereja-gereja dari kelompok minoritas kulit hitam
memberikan inspirasi kepada gerakan persamaan hak. Gereja-gereja dari mayoritas
kulit putih bergabung dengan demonstrasi anti-Perang Vietnam. Tokoh-tokoh
radikal, seperti jerry rubin, Michael Rossman, Lou Krupnik,, Rennie Davis, dan
Noel.
Pesona agama-agama timur ini memukau masyarakat akademis,
khususnya para mahasiswa yang bergabung dalam semangat “kontrabudaya” waktu
itu. Di universitas Duke, seorang mahasiswa asyik membaca Lou Tzu. Ia unggul dalam
sport pandai bergaul sehingga ia dipilih sebagai ketua dewan mahasiswa untuk
dua universitas yang berlainan. Pada saa yang sama, ia juga menonjol dalam
bidang akademis. Kelak, ia menulis buku dan menceritakan masa studinya:
“Gairaku yang sebenarnya, semangat terdalamku, diarahkan pada sains. Aku
membentuk diri yang ditegakkan di atas logika, di bangun dengan fisika, dan
digerakan oleh kimia.” Tetapi, Lao Tzu kemudian membawanya pada tradisi
spiritual Timur dan Barat.
Posmodernisme
Ketika membicarakan hubungan sains dan agama, Ken Wilber (2000:
99-106) menyebutkan lima situasi:
1. Sains
menolak keabsahan agama. Inilah pendekatan baku dari kaum positivis dan empiris
yang menjadi aliran utama modernitas. Pada kepribadian yang dewas, kesetian pada
agama adalah tanda patologi, kemampuan berpikir logis yang rendah, dan
inautentisistas eksistensial. Tuhan tidak ada karena tidak bisa diamati baik
oleh mikroskop maupun teleskop.
2. Agama
menolak keabsahan sains. Pandangan ini diwakili oleh reaksi kaum fundamentalis
terhadap modernitas. Agama yang klasik tidak pernah menolak sains karena,
pertama, sains tidak mengancam agama dan kedua, karena sains selalu dianggap
sebagai salah satu di antara berbagai cara untuk mengetahui. Pengetahuan agama
dan pengetahuan sains sama absahnya. Tetapi, ketika sains modern menganggap
agama sebagai produkdari fantasi masa kanak-kanak, kaum fundamentalis mulai
menolak bahkan tidak hanya teori ilmiah , tetapi fakta ilmiah: misalanya,
evolusi tidak pernah terjadi, alam semesta diciptakan dalam enam hari, tarikh
radiocarbon hanya tipuan, dan sebagainya.
3. Sains
hanyalah salah satu di antara beberapa cara mengetahui yang abash, dan karean
itu kadua-duanya bisa berkoeksistensi secara damai. Inilah posisi yang diambail
oleh agama-agama zaman dahulu. Para mistikus Kristen, seperti St. Bonaventure
dan Hugh dari St. Victor, misalnya, menjelaskan tiga macam mata: mata daging, eye
of the flesh; mata jiwa, eye of mind; dan mata ontemplasi, eye of
contemplation. Mata daging memberikan pengetahuan empiris (sains), mata
jiwa memberikan pengetahuan rasional (logika dan matematika), dan mata
kontemplasi memberikan kepada kita pengetahuan ruhaniah (gnosis). Argument ini
disebut prulalisme epistomologis.
4. Sains
menawarkan “plausibility argument” tentang eksistensi ruh (spirit). Ini adalah
variasi dari pluralisme epistomoogis. Ketika sains empiris memasuki rahasia
terdalam dari dunia fisik, ia menemukan fakta dan data yang tampaknya menuntut
perluhnya mengikutsertakan Mahaintelegensi yang berada di luar wilayah
material. Sebagai contoh, Big Bang; dari mana Big Bang itu berasal? Sudah
terbukti bahwa plasma material yang paling awal tanpaknya mematuhi hukum-hukum
matematis yang tidak muncul bersamaan dengan Big Bang. Ini bearti bahwa
hukum-hukum itu ada “in the mind of some eternal spirits” sebagaimana
yang dikatakan oleh Sir James Jeans. Semua sepakat bahwa hukum-hukum ada
sebelum ruang dan waktu. Jadi, kalau ada orang bertanya, “Apa yang ada sebelum
Big Bang?” Jawabannya adalah logos Non material yang mengatur pola-pola
penciptakan. Seacara sederhana kita sebut Dia Tuhan.
5. Sains
itu sendiri bukanlah pengetahuan tentang dunia, tetapi hanyalah penafsiran
tentang dunia, dan karena itu segi keabsahan, sains tidak lebih dan tidak
kurang dari puisi dan seni. “Inilah esensi postmodernisme. Posmodernisme mengatakan bahwa dunia tidak dipersepsikan,
tetapi hanya ditafsirkan. Berbagai penafsiran sama-sama abash untuk
memahami dunia tidak ada penafsiran yang secara intiristik lebih baik daripada
lainnya. Sains bukan konsepsi dunia yang
istimewa, melainkan hanyalah salah satu diantara banyak interprestasi yang
sejajar; sains tidak menawarkan ‘kebenarnya’, tetapi hanyalah prasangka
favoritnya sendiri; sains bukanlah senarai fakta universal, melainkan hanyalah
pemaksaan sewenang-wenang dari dorongan berkuasanya. Pada pokoknya sains tidak
didasarkan pada realitas lebih baik dari interpensi lainnya. Secara
epistomologis, tidak ada perbedaan antara sains dan puisi, logika dan sastra,
sejarah dan mitologi, serta fakta dan fiksi.”
Posmodernisme menghindari konflik antara sains dan agama
dengan menghancurkan kedua-duanya sebagai interprestasi yang abash, kita
dijatuhkan ke jurang relatisme. Walaupun ada unsur-unsur kebenaran dalam
posmodermisme, yang karena keterbatasan tidak kita bicarakan disini,
posmoderisme membantu meruntuhkan kepongahan sains modern sebagai satu-satunya
cara mengetahui yang terpercaya dan dapat diandalkan.
Bentuk-Bentuk
Interaksi Psikologi Dan Agama
Jones (1997:114) menyebutkan tiga bentuk tradisional yang
mengungkapkan hubungan antara psikologi dan agama. Hubungan-hubungan itu selalu
bersifat satu arah dengan posisi psikologi di atas agama. Perkembangan baru
dalam psikologi mempengaruhi agama sama sekali tidak mempengaruhi agama, tetapi
perkembangan pemikiran dalam agama sama sekali tidak mempengaruhi psikologi.
Bentuk pertama adalah studi agama yang dilakukan oleh para psikolog. Ini yang
kita sebut sebagai psikologi agama. Psikologi agama pernah menjadi
bintang studi yang istimewa, khususnya dikalangan agamawan antara 1880-an sampai 1930-an. Tetapi sejak
1930-an sampai beberapa dasawarsa belakangan ini, psikologi agama dan editor
Research on Religious Dovelopment:
Acomprehensive handbook (Strommen, 1971) melaporkan sampai tahun 1984.
Berdasarkan
presfektif teisme Kristen tentang person, analisis penelitian menyimpulkan: a.
keyakinan akan determinisme (baik dalam pandangan behaviorisme radikal maupun
pandangan sosial kognitif yang diperluas), bertentangan dengan kepercayaan
Kristiani akan kebebesan berkehendak manusia yang terbatas; b. atomisme radikal
dari terapi behavioral dengan memilah-milah dari kedalam komponen-komponen,
seperti kebiasaan, proses, dan prilaku, mengecilkan peranan pemahaman tentang
rasional dari kedirian (selfhood); c. pandangan behavioral tentang
motivasi manusia dan pemahaman kaum behavioral serta penilaian mereka terhadap
rasionalitas merendahkan apa yang dipandang oleh para ateis sebagai potensi
manusia yang lebih tinggi; dan d. pendekatan kaum behavioral yang tidak
bermoral tidak dapat menggambarkan kesulitan.
|
KOTAK
3 PSIKOLOGI
SAINS MODERN DAN TRADISI AGAMA TEISTIK
|
|
PSIKOLOGI
SAINS MODERN
|
|
Naturalisme
dan ateisme; tidak ada wujud tertinggi atau pengaruh spiritual transenden.
Determinisme;
perilaku manusia seluruhnya disebabkan oleh kekuatan diluar control manusia
untuk mengendalikannya.
Universalisme;
Hukum-hukum alam, termasuk hukum perilaku manusia, lepas dari konteks,
berlaku dalam semua waktu, ruang dan orang satu fenomena tidak nyata jika
tidak dapat digeneralisasi dan diulangi.
Reduksionisme
dan atomisne; semua perilaku manusia dapat direduksi atau di bagi menjadi
bagian-bagian lebih kecil.
Materialism
dan Mekanisme; Manusia adalah mesin yang terdiri dari dari bagian-bagian
material dan biologis yang bekerja sama.
Relativisme
Etis; tidak ada kaidah-kaidah etik atau moral yang universal atau mutlak.
Nilai selalu terikat budaya, apa yang benar dan baik berbeda-beda bergantung
pada situasi individual dan sosial.
Heodnisme
Etis; manusia selalu mencari ganajaran (kesenganan) dan menghindari hukuman
(penderitaan). Inilah proses penilaian yang pokok yang terdapat dalam
perilaku manusia.
Realisme
Klasik dan Positivisme; Alam semesta bersifat nyata dan dapat dipersepsi
secara cermat dan dipahami oleh manusia. Sains memberikan satu-satunya
pengetahuan yang abash. Teori-teori ilmiah yang dapat di buktikan benar
berdasarkan bukti empiris
Empirisme;
Pengalaman indriawi memberikan manusia satu-satunya sumber pengetahuan yang
terpercaya. Tidak ada yang dapat dikatakan benar atau riil kecuali jika dapat
diamati melalui pengalaman indriawi
atau alat-alat ukur.
|
|
TRADISI AGAMA TEISTIK
|
|
Teisme; Ada
wujud tertinggi dan pengaruh spiritual
Kehendak Bebas
Manusia mempunyai kemauan dan kemampuan untuk memilih dan mengatur
perilakunya walaupun pengaruh biologis dan lingkungan dapat membatasinya.
Kontekstualitas;
Walaupun ada hukuman alam yang lepas dari konteksnya, ada juga hukum-hukun
alam yang terikat konteksnya (artinya hanya berlaku dalam satu konteks dan
tidak ada konteks dan tidak pada konteks yang lain). Ada fenomena riil yang
kontekstual, tidak kasat mata, dan bersifat khusus. Fenomena tersebut tidak
dapat daiamati secara empiris, tidak dapat digeneralisasikan, atau diulangi,
misalnya, pengalaman spiritual transenden).
Holisme;
Manusia lebih dari sekedar kumpulan bagian; ia tidak dapat dipahami dengan
mereduksikannya atau membaginya ke dalam unit-unit yang lebih kecil.
Ruh dan Jiwa
Transesnden; Manusia terdiri dari ruh dan tubuh, jiwa dan raga. Manusia tidak
dapat direduksikan menjadi fisilogi atau biologi saja.
Universal dan
Mutlak; Ada kaidah-kaidah moral dan etis yang universal, yang mengatur
perkembangan psikologis dan spiritual yang sehat. Sebagian nilai lebih sehat
dan lebih bermoral daripada yang lainnya.
Altruisme;
manusia sering mengesampingkan ganjaransendiri (kesenangan) demi kesejetraan
orang lain. Tanggung jawab, pengorbanan, penderitaan, cinta, dan perkhidmatan
altruistic dinilai di atas pemuasan pribadi.
Realisme
Teistik; Tuhan adalah kekuatan terakhir dialam semesta yang mengendalikan dan
kreatif. Tuhan dan alam semesta hanya dapat dipahami manusia secara parsial
dan tidak sempurna. Metode ilmiah hanya bisa bisa mendekati sebagaian aspek
realitas dan harus ditransandenkan dengan cara-cara mengetahui yang spiritual
ke berbagai wilayah.
Pruralisme
Epistomologis; Manusia dapat menemukan kebenaran melalui berbagai macam cara
mengetahui , termasuk otoritas, akal, pengalaman, indriawi, intuisi, dan
inspirasi. Ilham dari Tuhan adalah sumber abash-absah pengetahuan dan
kebenaran.
|
BAB 4
PSIKOLOGI VERSUS AGAMA
Psikologisme Ateisme
Saya mulai dengan Nietzten dan karena barangkali ia adalah ateis dunia yang paling terkenal. terutama sekali ,ia
secara damatis menolak agama Kristen dan Tuhan kristiani. Ucapannya yang paling
terkenal , “Tuhan sudah mati,”dkenal jutaan orang. Ia sangat sibuk memikirkan
agama sepanjang hidupnya dan berkali-kali secara terus menerus melecehkan
gagasan Kristen dan orang yang mempercayainya.
Nietzsche
dilahirkan di sebuah desa kecil di saxoni, Prusia (Jerman), 15 Oktober 1844. Ia
anak seorang pastor Lutheran. Ayah friedrich,
pastor Ludwig Nietzsche, meninggal pada 30 Juli 1849, dua atau tiga bulan
sebelum ulang tahun Nietzsc yang kelima. Pastor Ludwig sejak setahun
sebelum karena penyakit otak. Ketika berusia 24 tahun, Nietzsche menulis
bahwa ayahnya , “Mati terlalu cepat. Aku kehilangan petunjuk akal yang tegas
dan tinggi dari se3orang lelaki.” Nietzcshe menghubungkan dengan sangat jelas
ketika ia menulis: “Ayahku mati pada usia 36tahun: ia lembut, penuh kasih dan
muram, seakan –akan ia di takdirkan untuk lewat sebentar saja di dunia
sisa-sisa kehidupan bukan kehidupan itu sendiri.”
Filsafatnya dapat ditafsirkan sebagai perjuangan
intelektual untuk mengatasi kelemahan ayahnya yang Kristen, kelemahan yang
tampak sering menghantuinya, seperti dalam mimpi yang perna ia alami pada 1850,
enam bulan sebelum ayahnya mati dan
hanya beberapa saudaranya yang masih bayi mati:
Mengapa Psikologi
Memusuhi Agama?
Pada tingkat ekstrem, psikologi menuduh agama
sebagai sumber penyakit mental, dogmatism, prasangka rasial dan tindakan
kekerasan .
Persaingan Perhatian
Pertama, dalam perjalanan sejarah , keduanya telah menjadi pesaing satu sama lain.dahulu, menurut kehidupan.
Pandangan Psikologi Yang
Negatif Terhadafp Agama
Agama yang
dogmatis, ortodoks, dan taat atau yang mungkin yang kita sebut sebagai
kesalehan berkolerasi sangat signifikan dengan gangguan emosinal.
Pandangan
Agama Yang Negatif Terhadaf Psikologi
Arogansi psikolog seperti Ellis mengundang reaksi
yang keras dari pihak agama. William Kilpatrick menyesal para agamawan yang
mencampurkan atara psikologi dengan agama.
Keyakinan
Agama Para Psikolog
Sejalan dengan sains dan teknologi, sekularisasi
perlahan lahan menyeret agama kepinggiran kehidupan dibarat, eropa lebih cepat
sekuler ketimbang Amerika.
Pada kebanyakan Eropa, frekuensi pergi ke gereja dan terlibat dalam kegiatan Agama menurun
sekali pada setengah abad terakhir ini dan paling rendah sekarang ini gereja .
gereja Kristen hampir kosong di Eropa Utara,”kata Hoge (1997: 23).Di
Amerika, menurut galluv pol, 1993 suklaresasi ini tampaknya tidak banyak
mengalami kemajuan.
Agama
Menurut Para Psikolok Sekuler
Sepanjang sejarahnya, tidak henti-hentinya, muncul
pemikiran psikologi yang melengkapi ateisme freud dan dengan spiritualitas
pfister.
JAMES LEUBA
Agama Sebagai Irasionalitas Dan Patologi
Psikolog yang paling memusuhi agama tradisional tetapi juga
paling informative dan persuasive adalah leubah. Sejumlah tulisanya tentang
psokologi agama menentang dalam kurun waktu setengah abad. Ia menyimpulkan bahwah
kaum mistikus setelah pengalaman keagamaan seperti itu bersifat naïf dan
khayali.
B.F SKINNER
AGAMA Sebagai Perilaku Yang
Diperteguh
“Skinner menambahkan jenis pelazinman yang lain. Ia
menyebutnya operant conditioning. Kali ini subjeknya burung merpati. Skinner
menyimpannya pada sebuah kotak atau yang dapat di amati. Merpati di suruh
bergerak sekehendaknya. Suatu saat kakinya menyentuh tobol kecil pada dinding
kotak. Makanan keluar dan merpati bahagia. Mula-mula merpati itu tidak tahu
hubungan antara tombol kecil pada dinding dan datangnya makanan. Sejenak
kemudian, merpati tidak sengaja menytentuh tombol dan makanan turun lagi.
Sekarang, bila merpati ingin makan, ia mnendakati dinding dan menyentuh tombol.
Sikap manusia seperti itu pula. Jika setiap anak menyebut kata yang sopan, kita
segera memujinya, anak-anak itu kelak akan mencintai kata-kata sopan dalam
komunikasinya. Jika pada waktu mahasiswa membuat prestasi yang baik kita
menghargainya dengan sebuah buku yang bagus, mahasiswa akan meningkatkan
prestasinya. Proses memperteguh respon yang baru dengan mengasosiasikannya pada
stumuli tertentu berkali-kali itu di sebut peneguhan (reinforcement). Pujian
dan buku dalam contoh tadi di sebut penegug (reinforce).
GEORGE VETTER
Agama Sebagai Respon Pada
Situasi Tak Terduga
Menurut Vetter, agama tidak punya nilai untuk
memberikan keselamatan. Ia menulis secara khusus sebuah buku untuk menganalisis
agama secara behavioral dengan semangat yang libih mengebu-gebu ketimbang Leuba
dan Skinner. vetter menjabarkan berbagai alasalas anuk penilaiannya yang
negative terhadap agama; konsepsi naïf tentang Tuhan yang bersivat antromorpis;
peperangan dan kebiadapan lainnya yang di lakukan atas nama agama sepanjang
sejarah; keterbelakangan pengetahuan para tokoh agama berkenaan dengan
masalah-masalah sosial; kegagalan iman keagamaan dalam menunjukkan hubungan empiris
yang konsisten degan perilaku moral (kadang-kadang keimanan secara positif
mendorong orang untuk berbuat baik dan memberikan pertolongan, tetapi juga
secara negative mendorong orang untuk melakukan penghianatan dan kejahatan);
korelasi institusi agama dalam bidang sosial politik dan penghamburan kekayaan
sumber daya termasuk uang, waktu, dan tenaga manusia yang di lakukan oleh
institusi agama.
SIGMUND FREUD
Agama Sebagai Pemuasan
Keinginan Kekanak-Kanakan
Menurut Freud, agama di tandai dengan dua ciri yang
menonjol: kepercayaan yang kuat pada Tuhan dengan sosok Bapa yang ritus-ritus
wajib yang di jalankan secara menjelimet. Freud memperhatikan adanya
sifat-sifat ritual yang tampaknya konfulsit, aura kesucian yang meliputi
ide-ide agama dan kecenderungan orang yang beragama untuk merasa berdosa dan
takut akan hukuman Tuhan. Dari situlah Freud membandingkan unsur-unsur ini
dengan gejala obsesif neurosis, yang ia pandang sebagai mekanisme pertahanan
dalam menhadapi implus yang tidak dapat di terima.
KOTAK 4 SARIPATI
TEORI FREUD
TENTANG AGAMA (FULLER, 1968: 35-70)
Doktrin Agama sebagai
Ilusi
Freud menegaskan agama sebagai ilusi ia juga
menandai agama sebaimana yang akan kita lihat sebagai delusi psikotis dan
kompulsi neurotis. Ilusi,kata Feud tidak dengan sendirinya bertentangan dengan
fakta. Delusi bertentangan dengan realitas; ilusi boleh jadi sesuai atau
bertentangan dengan realitas. Dan ilusi boleh jadi di wujudkan. Ilusi di
tandai, kata fFreud dengan ciri khusus, yakni berasal dari keinginan.
Kepercayaan di sebut ilusi bila pemuasan keinginan menjadi “factor penting
dalam motifasinya”. Menginginkan atau memuaskan keinginan adalah kegiatana
membayangkan objek yang mengurangi tegangan. Ilusi muncul dari imajinasi.
Karena itu orang ingin menginginkan sesuatu apabila orang menginginkan sesuatu
itu. Dan orang menginginkan sesuatu dengan menbayangkan objek yang pada masa
dahulu yang memuaskan kebutuhan dia, yakni dengan mengingat objek itu. Freud
mengatakan bahwa pemuasan keinginan di namai juga “berfikir proses primer”,
sedangkan “berpikir proses sekunder” adalah cara ego menghadapi lingkungan
dengan berorientasi pada realitas. Bermimpi minum air adalah contoh berpikir
primer, atau menginginkan, sedangkan mengambil segelas air adalah contoh berpikir
proses sekuler.
Sudah di tunjukkan sebelumnya bahwa Freud, ketika
mendefinisikan isi, secara sengaja menyimpan dalam kurung masalah ilusi yang
berpengaruh pada realitas. Apa yang kita rindukan dan kita “impikan”
kadang-kadang ada hubungannya dengan realitas gelas air dalam mimpi kita,
misalnya dan kadang-kadang tidak surge di bumi, misalnya. Menginginkan ialah
mengingat: objek yang pernah mengurangi ketegangan di dalam hidup kita.
Betapapun banyak distorsi atau penambahan, kegiatan imajinasi kita akan
menimbulkan pengalaman masa lalu pada waktu sekarang. Karena bermimpi minum
air, kita ingat air, bermimpi tentang surge, kita ingat hari-hari bahagia.
Dengan menerapkan konsep berpikir
proses primer atau “menginginkan “ pada agama, Freud menyatakan bahwa agagasan
agama adalah pemuasan keinginan manusia yang paling kuat dan paling penting.
Ajaran agama yang tidak berhasil baiak dari pengalaman maupun pemikiran tentang
hal-hal tersebut adalah ilusi. Kekuatan ilusi terletak dalam kemampuannya
memuaskan kenutuhan dan mengurangi ketegangan. Semua gagasan agama itu ilusi
dalam pandangan Freud; pruduk imajinasi memberikan rasa lega luar biasa dari
ketegangan; pemuasan kebutuhan yang mendesak yang tidak dapat di benarkan atau
di salahkan; kebutuhan yang mendesak untuk di puaskan. Freud mengambarkan
kebutuhan yang di penuhi oleh ilusi atau doktrin agama sebagi berikut: hidup
sulit. Peradapan memaksa kita harus meninggalkan pemuasan kebutuhan kita yang
pokok. Yang lain mengganggu kita. Alam mengancam kita denga kekuatannya yang
tidak bisa di jinakkan. Kegelapan kubur menunggu kita, yang baik pergi tanpa
memberi tahu, bahkan ketika yang jahat mengumpulkan banyak keuntungan.
Kemanapun kita pergi, terror kehidupan dana alam semesta mengancam kita. Hatga
diri kita yang rusak memerlukan perbaikan. Rasa ingin tahu kita meminta
jawaban.
Manusia
dewasa menderita karena kelemahan dan ketidakberdayaan. Tetapi, kata Freud,
dahulu kita juga pernah lemah dan tidak berdaya; waktu kita masih keci. Ketika
muda, walaupun kita takut Bapak, kita tetap saja bersandar pada perlindungan
dam pemeliharannya sikap gamang terhadap bapak itu sangat penting dengan
psikologi agamanya Freud. Keperluan seorang anak akan perlindungan bapak di
bangkitkan kembali karena perasaan tak perdaya, yang konon menjadi keburuhan
anak yang paling kuat. Masa kanak-kanak dan dewasa, kelemahan dan ketak
berdayaanya, berkaitan secara fundamental. Situsi tak berdaya ketika kita dewasa
hanyalah kelanjutan dari prototipe kenak-kanakan, situasi tak berdaya seperti anak-anak.
Ketakberdayaan anak-anak ini dalam pandangan Frud di takdirkan memburu kita
sepanjang hidup kita.
Hakikat Keinginan
Freud berkata bahwa sebagia
anak-anak, kita belajar membangun hubungan personal dengan orang yang ingin
kita pengaruhi. Kita memanggil kembali pelajaran hidup yang awal ini, ketika
pada waktu dewasa kita mempersonifikasikan daya-daya alam yang mengancam.
Ketika menghadapi keunggulan kekuatan perkasa ini, dank arena kita kitak
mungkin memperlakuykan kita sejajar dengan kita, kata Freud. Maka kita
nisbatkan kepada wataknya bapak. Maka orang yang dalam masa kecil kita, dalam
setiap hal, adalah Tuhan. Menurut Freud kita ubah kekuatan-kekuatan alam
menjadi Tuhan, meneladani bapak. Kekuatan alam yang perkasa dan bapak yang
bersifat Tuhan di gabungkan. Sang bapak dalam pandangan ini adalah Tuhan yang
pertama dan asli, model bagi Tuhan agama berikutnya. Tuhan-Tuhan kemudian ini,
menurut laporan Freud, memang “seperti
Tuhan” mereka mengambil citra Tuhan yang asli pereti bapak. Manusia di ciptakan
tidak dalam citra Tuhan seperti di sebutkan dalam kitab kejadian, tetapi
sebaliknya, Tuhan yang agama di ciptakan dalam citra bapak. Semua Tuhan adalah
seperti bapak, dalam pandanagn Freud, tetapi tidak semua bapak seperti Tuhan.
Kebutuhan akan perlindungan adalah
motif di belakan semua upaya untuk mengubah kekuatan alam menjadi Tuhan,
mengikut cita bapak. Freud berkata bahwa kita tidak pernah menunggalkan bapak,
sosok ilahi yang memberikan kepuasan dan perlindungan. Dalam keadaan masik tak
berdaya dan masih memerlukan, orang dewasa masih menempel kepada bapak, masih
merindukan bapak dan perlindungan cintanya. Ketika kita tak berdaya dan masih
menempek kepada kenangan bapak, kita membayangkan kehadiran dan perlindungannya
dari bahaya yang mengancam kita pada setiap belokan. Kita menginginkan
menggambarkan sama besarnya, sama kuatnya, dengan Tuhan. Kita mengingatnya sebagai
sosok yang sama kuatnya seperti yang kita alamin ketika kita masih kanak-kanak,
dan dia masih tetap lebih berkuasa dan maha kuasa. Kebutuhan kita terpenuhi,
ketegangan kita berkurang, melalui menginginkan, melalui ilusi. Apa yang kita
inginkan supaya indah, dapat menghapus ketakberdayaan kita di hadapan terror
kehidupan dan alam serta membuat kita bahagia, tidak menjadi fakta, melaui aktifitas
imajinasi kita. Bapak yang dikenal dan kekuatan alam sekarang ini di
imajinasikan satu sama lain. Sekarang, kita dapat menghubungkan diri dengan
kekuatan alam sebagai person Tuhan-Tuhan dan melalui praktik-praktik yang di
lakukan dengan kepasrahan kita dalam membujuk mereka dan mempengaruhinya.
Doktrin Agama
Peradaban, menurut Freud telah
menciptakan serangkaian gagasan utama agama. Doktrin-doktrin ini, yang lahir
dati kebutruhan utnuk meringankan pukulan yang menyertai kelenahab dank e
takberdayaan orang dewasa, harus di kontruksi dengan berfikir proses primer,
berdasarkan ingatan yang dapat di lacak pada situasi lemah dan tak berdaya pada
masa katak-kanak, dari kenangan orang dewasa tentang citra bapak.
System ilusi agama (doktrin agama),
yang di berikan peradaban kepada para anggotanya dalam bentuk jadi dan tanpa
usaha apapun dari mereka, tampaknya memasukkan kepercayaan kepada kecerdasan
yang maha tinggi dan maha saying, kehidupan sesuadah mati, huku-hukum moral
yang mengatur alam semesta, pemebrian pahala kepada perbuatan baik dan hukuman
kepada perbuatan buruk (gagasan tentang “tatanan dunia moral”). Menganut
gagasan seperti itu, ulas Freud, akan menyembuhkan ketakberdayaan manusia dan
penderitaan yang menyertainya. Kecerdasan yang tinggi itu di percayai mengatur
peristiwa “di bawah ini” dengan tujuan yang akan di berikan kebahagiaan puncak
kepada kita. Kita di jamin bahwa apapun yang hilang pada kita di dunia ini akan
di ganti ribuan kali di surge. Jawaban diberikan terhadap masalah-masalh barat,
seperti masalah kejahatan dan makna eksistensinya. Kematian di anggap hanya
sebagia perpindahan kepada kehidupan baru yang lebih agung. Kebijakan utama,
kebaikan tak terthingga, dan keadilan ilahi yang di nisbatkan kepada Tuhan atau
Tuhan-Tuhan yang menciptakan kita. Dianggap berada di mana-mana alam semesta.
Kepercayaan seperti ini meringankan masa sulit dari ketakutan, kekerasan, dan
derita kehidupan serta menimbulkan rasa lega yang luar biasa sebagaimana ST.
Paul berkata, “duhai kematian dimanakah sengatanmu?” tanpa ilusi agam tak
terhitung individu, yang kehilangan satu-satunya hiburan mereka dalam kehidupan
tidak akan sanggup melanjutkan kehidupan.
Kegagalan Agama
Freud berkata bahwa agama, melalui
ajaran-ajaran seperti “kamu di larang mrmbunuh” telah berjasa besar bagi peradaban. tetapi, agama belum cukup
melakukannya setelah menguasai kehidupan manusia selama ribuan tahun,setelah
mempunyai banyak kesempatan untuk
membuktikan diriny,agama,dalam pandangan freud, belum berhasil
menciptakan kebahagian ,menghibur manusia,atau mengadapkan mereka.ia menemukan
bukti untuk pandangan ini pada sejumlah besar orang di zamannya yang kecewa
dengan peradaban. Freud juga tidak punya
alas an untuk ber pendapat bahwa orang akan lebih bahagia kalau hidupnya diatur
agama; mereka juga tidak dengan sendirinya lebih bermoral ia menuimbang
tinjukan bahwa dalam perkembangan sejarah, agama lebih banyak mendukung tindakan
tak bermoralal ketimbang tindakan bermoral.secara keseluruhan, mengikuti freud,
afama sudah gagal.
Harga yang Harus di
Bayar untuk Ilusi Agama
Hidup
denga ilusi agama, fikir Freud, melumpuhkan kekuatan manusia. Ia menemukan
kontras yang sangat menyedihkan antara “kecerdasan cemerlang anak yang sehat”
dan “kelumpuhan intelektual dari rata-rata orang dewasa”. Ia menisbahkan
“atropi relatif”. Ini kepada pendidikan agama. Ia tidak heran menyaksikan
kelemahan intelektual pada mereka yang mengambil doktrin agam secara tidak
kritis, denga segala kejanggalan dan kontradiksinya. Ia menemukan bahaya yang
lebih besar tidak dalam melepaskan gama, tetapi dalam berpegang terguh
kepadanya.
Perkembangan Sikap
Dewasa
Freud
yakin bahwa infatilisme yang terbukti dalam kepercayaan agama dapat di atasi.
Kita tidak bisa tinggal sebagai kanak-kanak terus menerus. Ia berpendapat bahwa
orang akan mampu menjelakah (kehidupan yang luas) dan menghadapi apapun seperti
apa adanya, ketimbang membahayakan seperti apa seharusnya. Orang akan kembali
pada realitas dan belajar bertumpu pada sumber daya sendiri. Ketika itu
terjadi, ketika orang kembali dari dun ia hayal yang lain kepada dunia yang ada
di depan hidung mereka, energy yang memadai di yakini akan terlepas dan membuat
hidup dapat di terima secara ikhlas.
Freud berharap agar akal menjadi
iklator dalam kehidupan manusia. Walaupun “mengutamakan akal” mungkin masih
jauh di masa depan. Freud berfikir bahwa kita akan sanggup mencapainya. Ia
menyatakan bahwa akan berusaha mencapai hal-hal yang sekarang ini di harapkan
dari Tuhan. Mencintai sesame manusia dan mengatasi penderitaan. Freud
menegaskan “Tuhan kita, logos akan mencapai tujuan ini sepanjang yang di
mungkinkan oleh alam”. Freud berpendapat bahwa dalam perjalanan kepada
pemerintak akan di masa depan, kepercayaan agama akan di kesampingkan. Ia
berkata bahwa dalam jangka lama, aka nada pengalaman yang harus menaklukkan
agama beserta seluruh kontradiksinya. Akal (sains)harus mnaklukikan imajinasi
(ilusi). Sejarah menunjukkan bahwqa makin banyak pengetahuan yang di peroleh,
makin sedikit kepercayaan agama mengendalikan agama. Hanya sains yang sanggup
memberikan poengetahuan tentang realitas ekternal dalam pandangan Freud hanya
akal (logos) yang dapat menjadi pembimbing kita. Freud tidakj membenarkan
tuntunan lain di atas akal.
Doktrin Agama sebagai
Delusi
Freud
menganggap fenomena agama sebagai sisa-sisa kehidupan (survival) dan kehidupan
kembali (revival) masa lalu; kembalinya yang terlupakan setelah gejala-gejala
neorotis. Setiap bagian yang kembali tampak membalikkan kekuatan dan pengaruh
yangh sangat besar, seperti apa saja yang telah mengalami tekanan kemudian
balik lagi. Fenomena agama adalah seperti, dan bahklan sebagai gejala
psikopatologis, yang merupakan “kembalinya refresi” jadi, menurut Freud itulah
asal usul kwalitas konfulsif dalam doktri ritus dan moralitas agama.
Ritual keagamaan semuanya konfulsi
berguna untuk perlindungan dalam menghadapi kemalangan yang terduga. Dan dengan
begitu menghilangkan kecemasan. Resep moral agama adalah larangan berfungsi
untuk menolak godaan dan karena itu menghindarkan munculnya kembali rasa
bersalah. Doktrin agama, menurut Freud, adalah delusi. Yang di sebut delusi
sebahimana yang kita ketahui adalah gagasan yang bertentangan dengan realitas,
kepercayaan yang tetap di pegang walaupun bertentangan dengan semua bukti yang
ada. Delusi, kata Freud, selalu menampilkan sebagian dari kebenaran sejarah
yang terlupakan. Freud memandang sifat konfulsif dari kepercayaan delusi dari
dasar kjebenaran tak sadar.
Walhasil, walaupun doktrin agama
tidak mempunyai landasan sedikitpun dalam realitas ekternal doktrin-doktrin itu
mengandung inti kebenaran sejarah yang kembali, dan itulah yang membuat orang
mempercayai Freud berkata, kesadaran bahwa doktrin keagamaan mengandung esensi
kebenaran sejarah pernah peningkatkan kebenaran kepada agama. Tetapi, kebenaran
tersebut, ketika kembali sebagai delusi, selalu mengalami distorsi dan
penggambaran yang keliru. Freud menyatakan bahwa kebenaran sejarah yang
terkandung dalam doktrin agama telah di sembunyikan secara sistematis sehingga
hanya segelintir kecil orang yang mampu mengetahuinya. Sebagai refresi yang
kembali dalam bentuk tersembunyi kembali dalam bentuk distoeri kepercayaan agam
adalah kompromi, sama seperti ritual keagamaan dan moral.
Yang kembali dengan kekuatan dan pengaruh yang besar
dalam doktrin agama, dalam pandangan Freud, adalah “dosa asal” manusia. Itulah
sebabnya doktrin ini menuntuk keimanan dan menolak setiap keberatan logika.
Proses ini, kata Freud, harus di pahami sebagai delusi yang terjadi pada
kondisi psikotis tetentu. Gagasan monoteistik tentang “Tuhan Yang Maha Esa”
misalnya, adalah kembalinya masalalu yang direpresi, memori yang di distorsi
yang untuk itu orang tidak punya pilihan kecuali mempercayainya pada saat ia
kembali. Sebagi kehidupan kembali dari masa lalu, kepercayaan kepada satu Tuhan
adalah kebnaran historis (bukan kebenaran material). Sebagai distoris kebenaran
masa lalu, kepercayaan ini adalah psikotis. Freud memandang agama tidak hanya
sebagai “mass compulsive neurotis”, tetapi juga “mass delusional psychosis”.
Masa Depan Agama
Freud
berharap bahwa akal yang sudah tercerahkan atau logos akan menggantikan agama
ilusi yang sudah di ceritakan pada pengembangan sikap dewasa. Freud berpendapat
bahwa agama yang di dasarkan pada refresi dan konfulsi pernah berjasa pada
kemanusiaan dalam mengendalikan naluri, dan khusunya tindakan kekerasan.
Pengendalian naluri menurut Freud, adalah batu penyanggah peradaban. Tetapi ia
berpendapat sydah dating masanya untuyk menggantikan fungsi refresi yang
irisional dengan “operasi intelek yang rasional”; persis yang terjadi dalam
psikoterapi. Akal di takdirkan harus menggantikan rasa sekali lagi menunjukkan
keyakinan akan Freud akan keunggulan di atas rasa. Rasio mengatasi reflesi
pertama kaliu dengan melepaskan cengkramannya yang tersembunyi pada kehidupan
manusia dalam nenyadarinya lalu mengambil alih dari reflesi pengendalian naluri
manusi yang liar dan dengan menegakkan aturan hidup bersama.
Freud melihat agama sebagai masa
transisi antara masa kanak-kanak dan fase perkembangan manusia yang dewasa.
Yang menunjukkan bahwa neurosis konfulsif masa kanak-kanak, yang disamakan
dengan agama, cenderung menhilang secara serentak dalam proses perkembangannya.
Ia berpendapat bahwa hal yang sama secara tak terhindarkan akan tumbuh dari
“universal confulsipe neurisis”. Bahkan, kemanusiaan sekarang inib sedang
berada di tengah-tengah pertumbuhan seperti itu. Fenomena agama, kata freud,
adalah “peninggalan agama”.
BAB V
PSIKOLOGI PRO-AGAMA
New truths go
throygh three stages. First they are ridiculed, second they are violently
opposed, and then, finally, they are accepted as self-evident.
_ Athur
Schopenhauer
Namanya Thomas Agosin. Ia tidak terkenal,tetapi
ketika ia meninggal pada 1991, pada usia 43 tahun, upacara penguburan di
selenggarakan di PBB. Berpuluh bus mengangkut orang dari berbagai kalangan,
dari para pejabat kota hingga gelandangan pecandu narkoba.
Mengapa Psikologi
Mendekati Agama
Penelitian Agama Dan
Kesehatan Mental
Salah satu sebab mengapa psikologi menjauhi agama
ialah kenyataan bahwa selama lebih dari 70 tahun dan sampai sekarang di
kalangan “mainstream” psikologi dan psikiatri-agama di anggap sebagai hal yang
tidak sehat secara fisik maupun mental. Belakangan ini, Bergin (1983) melakukan
metalisis pada hasil-hasil penelitian tentang agama dan kesehatan mental.ia
menyimpulkan bahwa “jika religiusitas di korelasikan dengan ukuran keehatan
mental, dari 30 efek yang di temukan, hanya 7 orang atau 23% menunjukan
hubungan negatif antara agama dan kesehatan mental,seperti dinyatakan oleh Elis
dan lain-lain. Sebanyak 47% menunjukan hubungan positif, dan 30% hubungan zero.
Jadi, 77% dari hasil penelitian bertentangan dengan teori efek negatif agama”.
Secara singkat, Koenig (1999) melaporkan dalam bukunya, The Healing Power Of Faith, bahwa keluarga yang religius umumnya:
1. Punya
keluarga yang lebih bahagia
2. Punya
gaya hidup yang lebih sehat
3. Dapat
mengatasi stres
4. Hidup
lebih lama dan lebih sehat
5. Terlindungi
dari penyakit kardiovaskular
6. Punya
sistem imun yang lebih kuat
7. Lebih
sedikit menggunakan jasa rumah sakit
Selain itu, khusus untuk kesehatan mental, yang
,menjadi perhatian para psikolog dan psikoterapis, agama perlu dipertimbangkan
dan di pelajari karena 5 alasan yang di kemukakan Koenig (1998):
1. Dengan
mengetahui latar belakang dan pengalaman keagamaan pasien, terapis akan lebih
memahami konflik yang terjadi pada diri pasien. Misalnya, pasien yang sedang
bergulat menghadapi perasaan bersalah tidak akan berhasil di sembuhkan dengan
psikterapi tradisional. Dengan meneliti latar belakang agama pasien, psikolok
mengetahui bahwa pasien dibesarkan dalam keluarga fundamentalis yang exstrime.
Pasien menderita karena ketakutan akan akibat dosanya.
2. Dengan
mengetahui latar belakang keagamaan pasien dan peranan yang di mainkanya pada
kehidupan sekarang, terapis akan dapat melakukan intervensi kognitif dan
bihavioral dengan cara-cara yang dapat di terima oleh sistem kepercayaan
pasien.
3. Pengetahuan
tentang komitmen, prilaku, dan kepercayaan agama pasien akan membantu terapis
untuk mengidentifikasi sumber daya agama yang sehat, yang bisa di percaya untuk
melengkapi terapi tradisional.
4. Pengalaman
agama yang negatif sebelumnya, dapat merintangi pasien untuk menggunakan sumber
daya imanya dalam mengatasi persoalan hidupnya yang sekarang. Mempelajari dan
membntu pasien mengelola pengalaman negatifnya itu dapat membebaskan dia untuk
sekali lagi menggunakan sumber daya agamanya.
5. Menyentuh
masalah keagamaan akan menyampaikan kepada pasien kesan bahwa terapis tidak
hanya lengkap dan menyeluruh dalam penilain diagnostiknya, tetapi juga ia peka
pada wilayah kehidupan pasien yang sangat bermakna bagi orang yang
bersangkutan.
Perubahan Paradigma
Sains
Pada akhir abad ke-19, pandangan dunia
Newtonian di gantikan perlahan-lahan
oleh pandangan Dunia Einsteinian. Asumsi ontologis bahwaada realitas tunggal di
luar kita, yang bisa kit amati secara objektif, di tumbangkan dengan
penemuan-penemuan baru dalam mekanika kuantum. Realitas dapat di lihat sebagai
fungsi gelombang yang tidak dapat di realisasikan.
Penelitian Neurologi
dan Kesadaran
Penelitian neurologis menunjukkan bahwa Tuhan
bukanlah produk proses deduktif kognitif, melainakn “ditemukan” dalam peretmuan
mistikal atau spiritual yang di ketahui oleh kesadaran manusia melalui
mekanisme oikiran yang transenden. Dengan kata lain, manusia tidak secara
kognitif menciptakan Tuhan yang maka Kuasa dan kemudian bergantung kepada
penemuan ini untuk memperoleh perasaan bahwa dia menegendalikan situasi. Tuhan,
dengan definisi istilah itu, adalah paling luas dan pokok dialami dalam spiritualitas
mistikal.
Agama dalam Pandangan
James dan Jung
WILLIAM JAMES
Agama sebagai Jalan
Menuju Keunggulan Manusia
William James boleh di sebut sebagai bapak Psikologi
Agama. Bukunya, The Varieties of Religious Experience, merupakan pembahasan
agama pertama yang paling mendalam dan komperehensif. James berpendapat bahwa
agama mempunyai peranan sentral dalam menentukan perilaku manusia. Dorongan
beragama pada manusia, kata James, paling tidak sama menariknya dengan
dorongan-dorongan lainnya. Bahkan, sekalipun peneliti tidak aktif menjalankan
agamanya, menurut James, ia patut memberikan perhatian kepada agama sebagai
suatu fenomena penting di dalam suatu kehidupan.
C.G. JUNG
Agama Sebagai Jalan
Menuju Keutuhan
Jung terkenal karena kesimpulannya dari pengalaman
merawat ratusan pasiennya yang kebanyakan Protestan, untuk periode ke tiga
puluh tahun. Jung menyimpulkan:
Diantara semua pasienku pada paruh
hidupnya yang ke dua-yakni di atas 35 tahun-tidak ada seorangpun yang
masalahnya akhirnya tidak berkaitan dengan pencarian pandangan kehidupan yang
religius. Tidak salah satu di katakan bahwa semuanya jatuh sakit karena mererka
telah kehilangan apa yang di berikan agama kepada penganutnya pada setiap abad,
dan tidak seorangpun dapat betul-betul di sembuhkan kalau tidak memperoleh
kempali pandangan keagamaan.
KOTAK
5 SARIPATI
PANDANGAN JUNG
TENTANG
AGAMA (FULLER, 1994: 71-111)
Agama
Jung mendefinisikan
agama sebagai keterkaitan antara kesadaran dan proses psikis tak sadar yang
punya kehidupan tersendiri. Agama, menurut Jung, adalah “kebergantungan dan
kepasrahan kepada fakta pengalaman yang irasional”. Agama adalah “pertimbangan
dan pengamatan yang cermat” pada “faktor dinamis”, yang adalah “kekuasaan”;
pada tenaga-tenagatak sadar-arketip; dan pada simbol-simbol yang mengungkapkan
kehidupan tenaga-tenaga ini; pada yang batiniah, yakni “gerakan dinamis”di luar
kendali kesadaran. Agama menghubungkan kita denganmitos abadi yang dalam proses
menciptakan keserasian antara ego dan non-ego. Agama lebih lanjut ditandai
dengan cara bagaimana kesadaran di ubah karena berhubungan dengan yang
batiniah.
Cara untuk mencapai Tuhan, dan karena itu mencapai keutuhan, di
katakan harus pelalui penjelajahan setiap hari dan mengikuti kehendak
Tuhan.inilah apa yang membentuk sikap agama, menurut Jung, hakikat agama
sebenarnya. Jung berpendapat bahwa kita menemukan individualitas kita yang
sejati tidak melalui praktik-praktik keagamaan kolektif, tetap melalui
individuasi (aktualisasi diri). Dengan mengembangkan agama,”Yang memiliki
karakter individual”, menurut Jung, tidak ada pengalaman agama yang berbeda.
Pengalaman agama mendatangkan makna, vitalitas, dan kepuasan kehidupan, yang
menyebabkan segala sesuatu tampak dalam keindahan baru.
Kesadaran satu sisi-rasionalisme Barat misalnya-dapat menimbulkan
perkembangan perlawanan yang berbahaya pada yang tak sadar. Jung berkata bahwa
penyerbuan dri yang tak sadar sebagai balasan tindakan kekerasan yang dilakukan
kesadaran (akal) akan menimbulkan penderitaan spiritual yang sangat parah,
intense spiritual suffering. Ketika kesadaran di kuasai, ia berhadapan dengan
bahaya di hilangkan atau di kuasai oleh yang tak sadar. Menurut Jung, agama dan
magic dibuat untuk memenuhi kemungkinan ini dan memperbaiki kerusakan yang di
timbulkan. Agama adalah “sistem penyembuhan penyakit psikis”.
Simbol
Agama
Sejak Pencerahan,
ujarJung, agama telah di kntruksi secara rasional sebagai sistem filsafat, yang
“dicetak” dalam otak. Orang beranggapan bahwa pernah ada seseorang menciptakan
Tuhan dan berbagai dogma agama. Karena dia memiliki kekuasaan mempengaruhi yang
sangat besar, ia meyakinkan orang-orang do nsekitardia tentang citra realitas
yang “memuaskan keinginan”. Jung menantang pandangan ini dengan berdalih bahwa
bukanlah yang menciptakan simbol-simbol agama, melainkan hati, daerah tak sadar
psyche-karena itulah mengapa simbol-simbol ini, yang menyeluruhnya misteri bagi
kesadaran, datang kepada kita sebagai “wahyu” atau revelation.
Simbol-simbol agama, kata Jung, adalah manifestasi psikis yang
“alamiah” dengan kehidupan organis dan perkembangannya sendiri selama
berabad-abad. Ia menunjukkan bahwa bahkan sekarangpun kita menemukan
simbol-simbol agama yang autentik tumbuh seperti bunga, dari alam tak sadar.
Symbol-simbol ini menampakkan dirinya baik dalam bentuk maupun isi, seakan-akan
muncul dari psyche tak sadar yang sama pada permulaan agama-agama besar dunia.
Keuniversalan dan keefektifan simbol-simbol agama di sebabkan “mengekpresikan
secara tepat” alam tak sadar yang menjadi asalanya. Kebenaran agama termasuk
bagian dari konstitusi psikologi yang esensial. Ide-ide agama yang
dikodifikasikan (dogma), tidak lagi merupakan ciptaan yang sadar dan di
wariskan secara membuta melalui tradisi, tetapi berasal dari pertimbangan
cermat-arketip definisi agama dari Jung yang di ungkapkannya. Arketip, yang
selalu menimbulkan efek, tidak perlu di percayai. Makna dan pentingnya harus di
serap dengan intuisi. Apabila kita berhubungan dengan akar tak sadar kita,
simbol-simbol agam menjelaskan fungsinya yang awal untuk mengusir bahaya
pembalasan dendam alam tak sadar. Melalui simbol-simbol ini, alam talk sadar
kolektif membebaskan kesadaran yang terluka karena perjuangan hidup.
Doktrin
Agama
Khutbah teologis, kata
Jung, adalah mitologem, serangkaian citra arketipal yang memberikan “gambaran
yang agak tepat tentang transendensi yang tak terbayangkan”. Jung berkata bahwa
setiap ajaran agama (system doktrin atau ajaran) muncul pada satu sisi, atas
dasar pengalaman yang batiniah, dan pada sisi yang lain, atas dasar kepercayaan
pada pengalaman itu dan perubahan yang di timbulkannya dalam kesadaran.
Kepercayaan adalah formalisai (kodifikasi) dari pengalaman religious yang awal,
yang timbul dari kontak dengan yang tak sadar. Bahwa arketip sama dengan dogma
agama, menurut Jung, dapat di tunjukkan secara empiris.
Ritual
Keagamaan
Jika doktrin adalah
pernyataan simbolis, ritual adalah tindakan simbolis. Seperti simbol pada
umumnya, Jung melihat ritual sebagai sesuatu yang secara spontan muncul dari,
dan mengungkapkan, sumber tak sadar. Dalam ritual, kata Jung, orang meletakkan
dirinya di bawah perintah agen yang abadi dan otonom di luar kesadaran dan
kategorinya. Ritual bertindak seperti wadah yang menerima isi tak sadar. Banyak
ritual, menurut catatan Jung, mempunyai maksud untuk menimbulkan efek batiniah.
Ritual, sebagai perantara simbolis antara talk sadar dan sadar, adalah cara
yang aman untuk menghadapi tak sadar. Ritual membawa jiwa tak sadar kepada jiwa
sadar sehingga melindungi jiwa sadar dari bahaya jiwa tak sadar. Tetapi, ritual
melakukannya dengan tepat sehingga tak sadar tidak menguasai kesadaran.
Individuasi
Jung mendefinisikan
individu sebagai proses yang membawa individu kepada posisi yang ke situ ia
menuju. Dari kepompong menjadi kupu-kupu, dari berudu menjadi katak, dari anak
ke dewasa. Individuasi adalah proses mengelarkan diri seperti manusia lainnya,
tetapi dengan caranya sendiri yang unik. Tugas kita dalam kehidupan, kata Jung,
adalah pada satu sisi. Mengaktualisasikan kemanusiaan kita secara ekstensif dan
pada sisi yang lain, membedakan diri kita dari orang lain dan berdiri di atas
kaki sendiri. Individuasi mencapai tujuan akhirnya dalam mengalami apa yang di
sebut jung sebagai “pribadi”, self. Pribadi adalah keseluruhan kesadaran dan
ketaksadaran, kepribadian dalam keseluruhannya. Mencapai diri berate
menggerakkan titik pusat kepribadian dari ego yang terpecah dan terbatas kepada
“titik hipotetis” antara kesadaran dan tak sadar. Untuk mencapai diri, pusat
dari kepribadian seluruhnya, ego harus berputar di sekitarnya sebagaimana bumi
berputar mengeliloingi matahari. Realitas diri lebih luas dari ego samp[ai
tingkat yang tak terhingga sehingga ego kecil dan sempit, “seperti lingkaran
kecil di dalam lingkaran besar”. Individuasi-dalam istilah Jung, merupakan
padanan dari realisasi atau aktualisasi-diri merupakan tujuan perkembangan
biologis dan psikologis kita. Setiap kehidupan di takdirkan sejak awal untuk
mewujudkan keseluruhan, yakni pribadi. Dengan aktualisasi pribadi,
kecenderungan awal menuju keseluruhan menjadi peristiwa psikis. Individuasi
adalah menghasilkan dan menggelarkan keutuhan yang semula bersifat potensional.
Ego bukan saja berangkat dari pribadi sebagai asal-usulnya, bukan hanya “aku”
tetapi pada “pribadi”, melainkan ego juga bergerak menuju pribadi sebagai
tujuan tertingginya. Mewujudkan diri adalah dorongan terkuat dan hukum alam
yang sejati. Jung berpendapat bahwa arketip pribadi tanpak di mana-mana dalam
mitologi, dan juga dalam fantasi individu pada abad ke-20.
Pengalaman pribadi sering
membawa kita kepada pengalaman keabadian, perasaan kekekalan atau imortalitas.
Pribadi berate kesadaran lebih tinggi. Menurut dygaan Jung, timbulnya
kepribadian lebih tinggi ini membawa orang kepada kesadaran untuk melepaskan
diri dari dunia sebagai persiapan alamiah menghadapi kematian. Proses ini
terjadi pada pertengahan kehidupan kira-kira pada usia 35 tahun. Kehidupan
menjadi “hidup menuju mati”; mati di mulai sebelum kematian itu sendiri dan
mati adalah pemenuhan makna hidup. Jung berkata bahwa agama pernah menjadi
sekolah untuk orang yang berusia 40 tahun-an tetapi, sekarang ini agama tidak
lagi menjalankan tugasnya. Akibatnya, orang-orang harus memilih caranya
sendiri. Paruh kedua kehidupan sama bermaknanya dengan paruh poertama, menurut
pandangan Jung, harus maknanya berbeda. Kedua paruh ini harus di jalanio sesuai
dengan maknanya masing-masing. Akna kehidupan bagi kita terletak dalam memahami
dunia ekternal, membangun keluarga dan sebagainya. Anak muda kehilangan paruh
hidupnya yang pertama jika ia tidak bersedia menghadapi di dunia ini dan
berjuan untuk kehidupannya dengan seluruh kemampuannya. Tetapi, berkutat pada
program pagi hingga kehidupan petang kita akan menimbulkan kerusakan batiniah
di dalam diri kita. Seorang tua kehilangan paruh hidupnya yang kedua jika ia
tidak mampu mendengarkan “rahasia gemercik sungai” yang mngalir dari bukit
kelembah. Dari pertengan hidup, selanjutnya seseorang di katakana betul-betul
hidup, menurut Jung, hanya jika ia bersedia “die with life”. Untuk memandang
kehidupan sebagai pemenuhan makna hidup, sebagi tujuan yang sebenarnya dan
bukan hanya akhir kehidupan, sejalan dengan “psike kolektif” umat manusia. Jika
tak sadar tidak mempersoalkan kematian, tetapi ia berkepentingan denga cara
bagaimana kita amati, dengan cara bagaimana kita amati, dengan cara bagaimana
kita menyelesaikan urusan kita dengan orang lain.
KOTAK 6 EFEK
AGAMA PADA KESEHATAN FISIK
DAN
MENTAL (KOENIG, 1997)
Konklusi dan Realisis
Berdasarkan
penelitian yang tealh di lakyukan sebelumnya, kita sampai pada kesimpulan yang
agak tentative tentang hubungan agama dan kesehatan. Salah satu kesimpulan yang
dapat kita nyatakan dalam tingkat keopercaytaan yang tinggib adalah bahwa agama
adalah, terutama yang di dasarkan kepada kepercayaan Judeo-Kristiani, tidak
berpengaruh negative terhadap kesehatan. Tentu saja tidak termasuk kesini cult,
seperti yang terlibat dalam pembantaian Jonestown dan Waco, juga
kelompok-kelompok agama yang menyimpang dan berada di pinggiran masyarakat atau
di luar tradisi agama yang sudah mapan. Tidak ada satupun penelitian yang
mendukung pengaruh negative pada kesehatan mental dan fisik dari kehadiran
gereja, sembahyang, membaca al kitab, atau keterlibatan dalam ritus-ritus
keagamaan, terutama sekali yang terjadi dalam konteks tradisi agama
Judeo-Kristiani.
Efek pada kesehatan
Mental
Secara
umum,kesalehan mengikuti kegiatan agama, baik sendirian ataupun bersama,
berhubungan dengan kesehatan mental yang baik. Secara spesifik:Sejumlah besar
penduduk amerika (sekitar 20-40%) mengatakan bahwa agama ialah salah satu dari
factor penting yang membantu mereka mengatasi situasi hidup yang penuh stress.
·
Penggunaan agama sebagi
perilaku koping berkaitan dengan harga diri yang lebih tinggi dan depresi yang
lebih rendah, terutama di kalangan orang-orang yang cacat fisik. Agama juga
dapat meramalkan siapa yang akan tau tidak akan mengalami depresi.
·
Komitmen agama yang
taat (terutama keberagman intrinsic) berkaitan dengan tingkat depresi yang
lebioh rendah, penyembuhan dari depresi yang lebih cepat, kesejahteraan dan
moril yang lebih tinggi, harga diri yang lebih baik, locus control yang
internal, perkawinan yang bahagia, penyesuaian diri yang lebih cepat pada
pasien yang menbderita dimensia atau kanker stadium akhir.
·
Pengunjung gereja atau
sinagog yang rajin, nberkaitan dengan 40-50% pengurangan resiko depresi,
tingkat bunuh diri lebih rendah, tingkat kecemasan lebih rendah, tingkat
alkoholisme dan penggunaan zat adiktif lebih rendah, di bdukung sosial yang
lebih tinggi; kebahagiaan, penyesuaian, dan kesejahteraan yang lebih besar,
harga diri yang lebih tinggi, kepuasan hidup yang lebih tinggi, dan meramalkan
perasaan positif 12 tahun kemudian pada orang dewasa muda.
·
Kegiatan agam sendirian,
seperti sembahyang dan mmbaca alkitab, berkaitan dengan kesehatan yang lebih
besar, kepuasan hidup yang lebih tinggi, kecemasan mati yang lebih rendah, dan
tingkat alkoholisme dan penggunaan obat yang lebih rendah gula.
Efek
pada Kesehatan Fisik
Efek keparcayaan dan
pengalaman agama pada kesehatan fisik sama dengan pada kesehatan mental. Pada
umumnya, orang yang beragama lebih sehat daripada yang tidak. Secara spesifi:
· Pada
tingkat tertentu penyakit kronis, lelaki yang lebih religious menganggap kemampuannya
untuk berfungsi secara lebih tinggi daripada orang yang tidak religious.
· Frekuensi
kunjungan ke gereja dapat meramalkan tingkat ketidakmampuan fisik yang lebih
rendah pada orang-orang tua, pada satu, dua, atau tiga tahun berikutnya.
· Keberagaman
meramal penyembuhan lebih cepat dari praktur tulang paha (diukur dari beberapa
meter berjalan dan status ambulans pada saat keluar dari rumah sakit).
·
Intensitas kepercayaanh
agama dan kehadiran di tempat ibadah berkaitan dengan tingkat sakit yang lebih
rendah seperti yang di rasakan oleh pasien kanket stadium akhir.
·
Keberagaman berkaitan
dengan tingkat merokok yang lebih rendah.
·
Kehadiran di gereja dan
persepsi tentang pentingnya agama berkaitan dengan tekanan darah yang lebih
rendah, baik sistolik maupun diastolic.
·
Kehadiran di
gereja (mingguan atau lebih sering) berkaitan dengan resiko serangan jantung
yang lebih rendah. Ortodoksi dan keagamaan kehadiran gereja berkaitan dengan
infraksi neokordial yang lebih sedikit dan tingkat kematian karena penyakit
jantung coroner tang lebih rendah.
·
Koping kegamaan berkaitan
dengan tingkat kematian yangt lebih rendah setelah pembedahan jantung dan
tingkat kematian yang lebih rendah pada umumnya.
·
Doa penyembuhan
terbukti menimbulkan komplekasi-kordiopaskular yang lebih rendah setelah di
masukkan ke unit perawatran jantung, walaupun mereka mekanisme efek ini (jika
benar) belum di ketahui.
·
Kelompok agama tertentu
punya tingkat kangker yang lebih rendah di sebabkan oleh cara makan, gaya
hidup, dan barabngkali tingkat komitmen keagamaan; efek protektif ini
tampoaknya berlaku pada sedluruh komunitas, mempengaruhi bahkan orang yang
tidak seagama.
·
Orang yang tampak
religious tampaknya memiliki secara keseluruhan tingkat mortalitas lebih rendah
pada lebih 80% penelitian yang meneliti hubungan agama dan kesehatan fisik.
No comments:
Post a Comment